
Riana sudah ditangani dokter di dalam ruang IGD, sementara Davee beserta orang tuanya dan orang tua Riana menunggu dengan panik. Terlebih Davee, terlihat di wajahnya sangat pilu.
"Saya akan mengganti berapa pun atas kerugian ini Mas," ucap seorang laki laki paruh baya pemilik mobil yang menabrak Riana.
"Kurang ajar kamu, kalau sampai anak saya kenapa kenapa saya akan tuntut kamu!" Ujar Mama Rahma yang sangat khawatir pada putri semata wayangnya. Melihatnya demikian, Papa Darmawan menenangkan istrinya dengan memegang bahu Mama Rahma.
"Mah, maaf Mah. Ini bukan kesalahan Bapak ini. Ini semua salah Davee Mah, Riana marah sehingga ia berlari tanpa memperhatikan jalan dan akhirnya seperti ini." Jelas Davee.
"Pah..." Mama Rahma memeluk suaminya untuk menenangkan pikirannya yang kalut.
"Bapak pulang lah, ini sama sekali bukan kesalahan Bapak." Ujar Davee pada bapak paruh baya itu.
"Tapi Mas..."
"Pak, tolong jangan membantah. Pulanglah, anak dan istri Bapak menunggu kepulangan Bapak."
"Baiklah, terimakasih Mas. Anda baik sekali. Saya permisi.."
Mendengarnya Davee hanya menggangguk pelan kemudian duduk dan bersandar pada kursi tunggu. Davee mengacak acak rambutnya.
"Sayang, sabarlah. Istri mu akan baik baik saja." Ujar Mama Rita menenangkan Davee.
"Tapi Mah, ini kesalahan ku Mah..."
"Sudah lah Dav, doa kan yang terbaik untuk kesembuhan istri mu. Tidak baik menyalahkan diri sendiri seperti itu, nasi sudah jadi bubur." Ucap Papa Santoso.
"Permisi, apa ini keluarga pasien yang mengalami kecelakaan itu?" Tanya seorang dokter wanita yang baru saja keluar dari ruang IGD.
"Iya Dok, saya suaminya." Ujar Davee segera maju mendekat.
"Terimakasih dokter.." Davee dan keluarga masuk dalam ruangan IGD.
Davee langsung menghamburkan pelukaannya pada Riana. Riana ingin melepaskannya, ia masih ingat kejadian sampai kecelakaan itu terjadi.
"Riana, maafkan Mas. Maafkan Mas... Jangan tinggalin Mas. Aku dan Rani sudah nggak ada apa apa, hubungan kami sudah berakhir sejak berbulan bulan lalu."
"Apa Mas masih mencintai Rani?"
"Nggak, aku hanya mencintai kamu, Riana." Davee mengecup bibir Riana. Orang tua mereka hanya diam memperhatikan anak anak mereka sambil tersenyum.
"Maafin aku Mas, aku sadar aku juga sangat mencintai Mas. Dari itu aku cemburu buta seperti ini."
"Lain kali jangan begini lagi, Sayang..." Sambil mengelus rambut Riana. Riana tersenyum mendengarnya, kata sayang yang sangat manis terdengar di telinganya itu. "Ingatlah, ketika kamu melewati jalan pasti ada saatnya ada paku, lobang kecil mau pun besar yang mengganggu perjalan mu. Begitu pula dengan rumah tangga, setiap isinya pasti akan ada ujian. Belajar lah untuk lebih dewasa, Sayang."
"Iya Mas, maafkan aku..."
Davee mengecup bibir Riana, dan hampir saja ingin melumatnya.
"Ehem ehem.." Mama Rita berdehem memecahkan ke romantisan dua pasangan yang sedang dilanda cinta.
"Eh, lupa Mah. Keasyikan, hehehe.." Davee menggaruk garuk kepalanya. Sementara Riana tersenyum kikuk karena merasa malu. Semua orang akhirnya tertawa.
"Riana, untung saja kamu nggak lagi hamil, Sayang. Dav, nanti kalau istri mu hamil, harus ada penjaga di rumah mu untuk menjaga istri mu ini." Ujar Mama Rita.
"Siap Mah," jawab Davee.
"Mamah, nggak perlu diingetin juga tentu anak mu ini akan begitu Mah. Karena nggak perawan lagi saja aku harus di jaga oleh 2 penjaga di sekolah. Apalagi kalau aku hamil, bisa bisa rumah akan penuh dengan penjaga." Batin Riana menggerutu.