
"Riana, tapi aku nggak punya perasaan apa apa lagi dengan Rani."
"Mas, kamu sama aku itu menikah tanpa perasaan, Mas. Tapi karena kita sering berkumpul di rumah ini, sering bersama, sehingga perasaan kita muncul satu sama lain. Mas itu sadar nggak sih!"
"Riana, maafkan aku. Aku salah selama ini."
"Iya, memang Mas sudah salah besar. Bermain dibelakang istri."
"Riana, tapi aku nggak seperti itu."
"Menurut Mas, tapi dalam teorinya Mas sudah berbohong denganku. Membuka celah untuk orang lain masuk dalam hatimu."
"Jadi apa yang harus aku lakukan untuk memperbaiki kesalahanku?"
"Aku mau bertemu dengan Rani."
"Baiklah kalau itu mau kamu. Besok kita ke tempat tinggal Rani."
Riana menggangguk tanpa sedikit pun mengubah mimik kesal di wajahnya.
"Riana, maafkan Mas ya.." Davee mendekati Riana, ingin memeluknya. Riana yang sadar suaminya ingin menyentuhnya itu, ia langsung menggeserkan tubuhnya, menjauhi Davee.
"Jangan dekat dekat, kamu pasti pernah bersentuhan dengan Rani. Aku nggak mau dekat kamu." Ujar Riana sensi.
"Sayang, tapi ... "
"Sana pergi! Aku nggak mau tidur denganmu malam ini."
"Riana, jangan begini."
"Mas juga begini denganku. Masih untung aku nggak membalas perbuatan Mas dengan laki laki lain juga."
"Riana!" Bentak Davee, Riana langsung kaget mendengarnya. "Rani itu cuma butuh teman. Dia lagi hamil, Ria." Timpal Davee lagi, tanpa menurunkan nada suara.
"Mas, segitunya kamu membela perempuan itu. Kamu lupa aku juga lagi hamil? Hah? Aku juga lagi hamil, Mas. Aku hamil anak kamu, tapi kamu lebih peduli dengan kehamilan orang lain yang jelas jelas bukan anak kamu. Ada apa sih dengan otakmu sekarang?! Ya sudahlah, kamu urus perempuan itu. Kalau perlu nikahi dia dan ceraikan aku."
"Riana, maaf. Tapi....." Davee ingin memegang bahu Riana, namun dengan cepat Riana melepaskannya. Riana melangkah dengan cepat ke arah almari. Riana mengenakan sembarang baju yang ia temukan di almari. Lalu kemudian mengambil kopernya dan memasukkan baju bajunya dengan asal di dalam koper. Davee berusaha menyudahinya namun Riana tidak membiarkan tangan Davee menahan tangannya sekali pun. "Riana, jangan pergi. Sayang, tolong jangan pergi."
"Kamu urusi saja Rani yang sedang hamil itu." Ujar Riana sambil terus berjalan meninggalkan Davee. Davee berusaha mengejar Riana.
Riana tetap pada pendiriannya, ia terus melangkah melewati belasan anak tangga. Ketika Riana sampai di pintu dan membukanya, Davee berlari dan memeluk Riana dari belakang. Riana mengguncang guncangkan tubuhnya, ingin melepaskan pelukan Davee yang menahannya.
"Lepaskan aku!"
"Nggak Riana, aku nggak mau. Aku mencintaimu."
"Lepaskan atau aku teriak!"
"Riana, jangan pergi, Sayang."
Tidak peduli apapun yang dikatakan Davee, ia tetap ingin pergi sekarang. Riana menggigit tangan Davee yang berada di depan dadanya.
"Akhh..." Dengan refleks Davee melepaskan pelukannya, Riana tidak menyia - nyiakan kesempatan. Ia berlari dengan cepat keluar dari rumah. Untunglah komplek tempatnya tinggal dekat dengan jalan raya, sehingga tidak perlu berlari terlalu lama ia sudah sampai di jalan raya dan kemudian melambaikan tangannya pada taksi yang lewat.
Riana memilih pergi ke rumah orang tuanya. Sebenarnya ia tidak ingin ke sana. Orang tuanya pasti sedih mengetahui pertengkarannya dengan Davee. Namun ia juga tidak mungkin mencari tempat tinggal malam malam begitu, sedang ia lupa membawa uang lebih. Uangnya hanya terbawa dari kantong koper, cukup untuk membayar taksi saja. Itu pun masih dapat di diuntunginya, untung saja ia pernah menyelipkan uang sisanya berbelanja di bandara kemarin.
Sesampai di rumah orang tuanya, Riana membunyikan bel. Pintu kemudian terbuka, dibuka oleh Bi Sutri, asisten rumah tangga mereka.
"Non Ria. Apa kabar, Non?" Ujar Bi Sutri seraya memeluk Riana. Riana membalas pelukan Bi Sutri.
"Kabar baik, Bi. Bibi apa kabar?"
"Baik, Non. Ayo masuk, Non. Nyonya dan Tuan ada di ruang keluarga." Ujar Bi Sutri, Riana tersenyum sambil mengangguk.
Riana tersenyum simpul ketika melihat orang tuanya sedang asik menonton tv, dengan tangan Pak Darmawan yang merangkul bahu istrinya. Sedang Bu Rahma menyandarkan kepalanya di bahu Suaminya.
"Ma, Pa?"
"Riana?" Bu Rahma dan Pak Darmawan segera mendekati Riana. "Sayang, kamu sendirian? Davee mana?" Tanya Bu Rahma.
"Mas Davee nggak ikut, Ma."
"Riana, ada apa? Kamu pasti bertengkar dengan Davee."
"Nggak apa apa kok, Pa. Aku cuma kangen Mama dan Papa." Ujar Riana, seraya memaksakan rahangnya menebarkan senyum.
"Jangan bohong, Ya. Mama bisa liat di mata kamu, ada kesedihan di hatimu." Ujar Bu Rahma. Riana memeluk Bu Rahma dan lalu memecahkan tangisnya di sana.
"Maafin aku, Ma. Aku mmbuat Mama dan Papa sedih. Aku seharusnya nggak mengadu dengan orang tua, karena ini rumah tangga ku. Tapi aku nggak kuat, Ma. Hiks..."
"Riana, ada apa? Jelaskan pada kami."
"Tapi tolong jangan marah dengan Mas Davee ya, Pa."
"Riana, jelaskan lah dulu."
"Davee bertemu dengan mantan pacarnya dulu, Pa."
"Riana, itu artinya kamu cemburu buta. Mungkin saja Davee hanya kebetulan bertemu." Ujar Pak Darmawan, membela Davee.
"Nggak, Pa. Mas Davee bertemu dengannya karena ingin menemani Rani yang hamil. Suaminya nggak ada. Mas Davee ingin menolongnya dengan perhatiannya. Mas Davee bahkan bersama Rani seharian dengan Rani hari ini."
"Apa! Kurang ajar!" Pak Darmawan mengempalkan tangannya.
"Non, ada Den Davee di luar." Ujar Bi Sutri. "Ia menunggu Non Riana di luar." Lanjutnya.
"Biar aku yang menemuinya, Bi." Ujar Pak Darmawan dengan raut wajah kasar.
Sementara Riana hanya menangis dan terhenyak pada sofa besar di depan televisi. Bu Rahma mengelus bahu Riana, menenangkan pikiran anaknya.
*
"Pa?" Ujar Davee, setelah Pak Darmawan ada di ambang pintu. Davee yang semula duduk di teras rumah segera berdiri.
"Mau apa kamu ke sini?"
"Aku mau menemui istri ku, Pa."
"Riana nggak mau bertemu denganmu, silahkan kamu pergi dari sini!" Ujar Pak Darmawan dengan garangnya.
"Pa, tolong.. Jangan pisahkan kami, Pa."
"Saya nggak memisahkan kamu dengan Riana, tapi kamu sendiri yang membuatnya ingin berpisah darimu."
"Aku nggak mungkin sanggup berpisah dengan Riana, Pa. Riana sedang mengandung anakku."
"Kamu sanggup, buktinya kamu tega menyakiti hati Riana. Terserah kemauan Riana nanti, apa dia akan menerima kamu kembali atau melepaskanmu."
"Tapi, Pa.. Aku hanya berniat membantu Rani. Aku nggak bermaksud lain, Pa."
"Terserah apa yang kamu bilang, Davee. Riana pasti punya alasan mengapa dia sampai semarah ini. Papa nggak akan memisahkan kalian berdua. Tapi jika jodoh kalian sudah memang seharusnya berakhir, apa boleh buat." Ujar Pak Darmawan dengan nada santainya.
"Pa, jangan bicara seperti itu. Aku sungguh mencintai Riana, Pa."
"Sebaiknya kamu pergilah dulu, Papa nggak bisa membelamu karena memang kamu bersalah. Biarkan pisah dan bersatunya tergantung keputusan Riana nantinya. Kamu ceritakan lah pada orang tua mu, agar mereka nggak kaget nantinya."
"Pa..."
"Sudahlah Davee, Papa akan mencoba berbicara dengan Riana. Tapi bukan bermaksud membelamu, hanya memberinya pengarahan bagaimana caranya memberimu pelajaran sehingga tetap bisa dipertahankan." Kata Pak Darmawan. Ia sudah menurunkan nada suaranya sedari tadi. Namun tetap saja, setiap kalimat dari mulutnya seperti menjadi tawanan duri yang mengecam hati Davee.