Binar Mahligai

Binar Mahligai
Chapter 50



"Selamat ya Ka Davee. Sekarang sudah jadi Chief Executive Officer." Riana membentuk bibirnya menjadi senyuman yang termanis pada Davee.


"Yaelah, nggak usah di panjang panjangin juga kali. Cukup CEO aja, dasar! Aku punya istri lebay banget."


"Ih kok lebay sih? Dasar suami nggak tau terimakasih!"


"Biarin.. Oh iya, Nanti kamu wajib datang di acara peresmian konversi CEO di perusahaan Papah."


"Hah? Aku, Ka?" Riana menunjuk dirinya sendiri.


"Tentu saja, memang aku bicara dengan siapa lagi. Kamu menolaknya?"


"em, tentu saja. Aku nggak punya teman di sana bagaimana mungkin aku akan betah duduk sendirian sambil menikmati hidangan begitu saja." Riana memanyunkan bibirnya, Davee tergelak mendengar perkataan istrinya itu. Dengan memanyunkan bibir seperti itu dia terlihat imut sekali, pikir Dave.


"Memang siapa juga yang menyuruhmu hanya menjadi tamu setidak penting itu. Haha.." Davee terkekeh setelahnya ucapannya. Dahi Riana kini menjadi kumal karena bingung.


"Terus mau Ka Davee aku jadi apa dong?"


"Tentu saja jadi pelayanku, haha." Davee lagi lagi terkekeh membuat Riana menjadi kesal.


"Sudahlah, aku nggak akan mau ikut di peresmian mu itu."


"Sepertinya panggilan Kaka untuk ku kurang bagus, kamu harus panggil aku MAS mulai sekarang." Davee berkata dengan santai dengan masih menyungah makanannya.


"Apa! Nggak, aku malu."


"Lakukan atau aku akan membuat mu tidak perawan lagi malam ini." Davee membuat wajahnya seserius mungkin. Riana langsung merinding mendengarnya. Kalimat itu adalah kalimat ancaman terkuat Davee setelah Davee mencobanya 4 kali sebelumnya. Bahkan ketika Riana tidak ingin pulang saat bersama teman temannya, Davee lalu mencoba mengancamnya dengan kalimat manisnya itu. Riana langsung tidak bisa berkutik dan langsung pulang tanpa protes lagi.


"Iya apa?"


"Iya Mas."


"Di tambahin sayang dong." Davee mengatakan dengan wajah datar.


"Dasar gila, dia mengatakan dengan gampangnya begitu sedang aku dibuatnya malu begini. Manusia laknat. Aku harus cari cari cara agar bisa bebas dari meja makan yang membuatnya tidak waras ini." Gerutu Riana dalam hati. "A, aku tiba tiba sakit perut. Aku ke toilet dulu ya Ka, eh Mas." Riana setengah berlari. Davee terkekeh setelah Riana hilang dari pandangannya.


"Enak sekali punya ancaman buat Riana, aku akan mengerjai dia dengan puas." Davee bermonolog sambil tersenyum senyum sendiri.


Davee sudah puas berada di dapur ia menaiki anak tangan untuk pergi ke kamar, bukan kamarnya tapi kamar Riana. "cekrek" pintu kamar Riana terbuka, Davee melihat Riana yang menyandarkan punggungnya pada tumpukan bantal sambil menonton layar monitor laptopnya. Laptop hijau yang di letakkan Riana di atas pahanya.


Riana hanya melihat sekilas kearah pintu, ia sudah tidak kaget lagi karena sudah menjadi kebiasaan suaminya itu membuka pintu kamarnya tanpa mengetuk. Pernah Riana coba mengunci pintu kamarnya, namun Davee menggedor gedor pintu kamar Riana menimbulkan kegaduhan bahkan mengancam akan mendobrak pintu dan Davee mengatakan jikalau ia berhasil membuka pintu Riana ia akan membuat Riana tidak perawan lagi. kalimat yang paling Riana takuti.


Setelah berdiri tanpa menggerakkan kaki selama beberapa detik, Davee langsung berjalan cepat ke arah Riana dan tiba tiba mengambil laptop Riana. Riana mengerutkan dahinya sekaligus merapatkan giginya geram.


"Apa apaan sih Ka!"


"Kaka lagi?"


"Ih..." Riana terlihat bertambah kesal. Sedang Davee dengan santai duduk di sisi ranjang dan melihat hasil setangah pekerjaan Riana pada laptopnya tadi.


"Jangan pernah lagi memangku laptop. Apa kamu mau nggak memiliki keturunan bersamaku nanti?" Davee berkata dengan santai. Riana mengernyitkan dahi, semakin bingung dengan suaminya itu.


"Ini orang kenapa sih, dasar aneh!" Gerutu Riana dalam hati.