
"Gue nggak bisa tidur pakai baju sehari hari." Riana kini sudah merebahkan dirinya di sebelah Davee. Davee menelan ludahnya melihat dada Riana yang setengah terbuka menampakkan 2 gunung kembar Riana yang tidak terlalu besar dan tidak terlalu kecil. Davee tidak tahan membiarkan dada Riana yang terpampang itu, ia mendekati Riana. Entah kenapa Riana terpaku melihat pergerakan Davee yang kini jarak wajah Davee dan Riana hanya 5cm. Melihat Riana yang tidak melakukan perlawan Davee terus melancarkan aksinya. Bibir Riana dan Davee kini bersentuhan, Davee melumat pelan bibir Riana. Riana seakan terhipnotis bahkan bernafas pun seakan susah. Kini tangan Davee meraba perut Riana pelan pelan tangan itu naik ke atas hingga sampai ke titik yang sedari semalam sudah membuat junior Davee terbangun. Nafas Davee sudah menjadi tidak beraturan. Tangannya mulai meremas Dada Riana. Entah dapat kekuatan dari mana Riana bisa mendorong tubuh Davee hingga lumatannya kini terlepas dan tentu saja tangan Davee sudah berhenti bermain.
"Ka Davee," mata Riana kini berkaca kaca, ia tidak rela Davee melakukan itu padanya
"Maaf Riana, aku melewati batas. Lupakan lah, anggap ini tidak pernah terjadi." Davee merebah tubuhnya lalu membalikkan dirinya membelakangi Riana.
Riana juga membalikkan tubuhnya membelakangi Davee, air matanya kini mengucur. Bagaimana mungkin Davee berkata demikian, menyuruhnya melupakan semuanya. "Apa ini biasa Davee lakukan pada cewek lain sehingga dia begitu mudah menyuruh gue ngelupain kejadian ini. Gue nggak rela, payudara gue." Riana memegang payudara yang tadi diremas oleh Davee, Riana menahan isakan tangisnya tapi akhirnya "hiks.."
Isakan itu refleks keluar dari mulut Riana, Davee yang belum tidur menyadari kalau Riana sedang menangis. Ia segera membalikkan tubuhnya.
"Riana, maafin gue. Kemarin gue udah ingetin lo buat jangan pakai baju kaya gini. Gue laki laki normal Ria. Dan kita berada dalam ruangan bertutup ini berdua. Riana kalau kamu tidak bisa melupakan kejadian tadi kamu bisa berpikir kalau ini adalah hal wajar, karena kita sudah suami istri, Ria." jelas Davee.
"Tapi lo udah bikin peraturan kalau nggak ada diantara kita berdua yang meminta begitu." Riana masih membelakangi Davee.
"Apa lo bilang nggak ngelakuin apa apa? Barusan lo apain bibir gue dan tangan lo tadi." Riana bangkit dari rebahannya. Melihat Riana yang sudah duduk karena memarahinya, Davee juga ikut mengkat kepala nya untuk duduk. Davee menghadap lurus ke arah Riana.
"Riana lo tenang dulu. Oke gue ngaku salah, dan alasan gue tetap yang gue bilang sama lo sebelumnya. Kalau gue ini laki laki normal. Gue minta maaf Riana, semuanya sudah terjadi dan waktu itu nggak bisa beputar kembali demi masalah ini."
"Gue nggak rela lo nyentuh tubuh gue." Riana merebahkan kembali dirinya dan menutup wajahnya dengan bantal membenamkan isakan tangis itu.
"Yang bisa gue katain sekarang adalah gue minta maaf." Davee juga ikut merebahkan tubuhnya.
Riana merasa mengantuk setelah berkali kali mengeluarkan bunyi isakan tangisnya akhirnya ia tertidur. Davee mendengar bunyi nafas tidur Riana.
"Maafin gue Ria, gue harap besok lo nggak berlanjut sebenci ini sama gue." Davee mengambil bantal yang tadi Riana letakkan di wajahnya dan menarik selimut hingga menutupi dada Riana. Davee tersenyum sambil melihat wajah Riana lalu kemudian memejamkan matanya.