
"Hah, e iya.." Davee tersentak dan gelagapan.
"Mas, kenapa sih? ada yang salah ya?"
"Nggak, kamu cantik sekali."
Deg..
Deg..
Jantung Riana berdebar.
"Apa Mas?" Memastikan lagi.
"Ayo kita berangkat.." Davee tidak menjawab pertanyaan Riana, melainkan mengajaknya langsung pergi. Riana berdecih kesal, ia ingin mendengarnya sekali lagi.
Malam yang indah, malam kelabu berteman kerlap kerlip bintang yang berbinar. Riana membuka kaca jendelanya, dan menatap langit dengan tersenyum ceria. Davee memandang Riana, melihat Riana tersenyum manis begitu Davee juga ikut tersenyum.
"Kamu lebih indah dari ribuan binar bintang itu, Riana." Davee sesekali mengalihkan pandangan pada jalan, namun lebih mayoritas tatapan itu berhenti pada Riana. "Riana, mengapa kita nggak bisa menghitung banyaknya bintang?"
"Siapa bilang Mas, seorang astronot bernama Dorrit Hoffleit dari Amerika Serikat bisa menghitung bintang. Jumlahnya ada 9.096 bintang, namun yang dapat dilihat oleh mata telanjang hanya 4.548 bintang." Jawab Riana masih sambil melihat bintang bintang. Senyuman Davee memudar..
"Niatnya mau gombalin, malah jadi ke sains..." Davee menghela nafas.
"Mas, bintang itu punya banyak teman."
"Lalu?"
"Namun tidak pernah mengejek bulan yang sedang sendiri."
"Terus?"
"Bintang tidak pernah sombong dan setia menemani bulan."
"Lalu? Kamu berbicara setengah setengah." Davee mulai kesal.
"Em, lupa kelanjutan kata katanya..." Riana menggaruk garuk alisnya yang tidak gatal. Davee terkekeh.
***
Acara malam yang begitu dirancang dengan rapi. Sebuah karpet merah panjang membentang, serta para penyambut tamu tamu yang berdiri di setiap sisi karpet. Mobil hitam Davee disambut dengan sorakan tepuk tangan setelah sampai di depan perusahaan kuliner megah itu.
Riana masih berada dalam mobil, ia melihat Davee yang sedang berbincang dengan Nadila.
"Aku akan malu jika keluar tanpa suruhan Mas Davee, Mas Dave mungkin punya rencana lain. Positif thinking lah Riana."
Tidak berapa lama Davee berjalan sendiri melewati karpet merah, tepuk tanga serta cahaya blitz kamera memancar dari setiap sudut. Riana mengerutkan dahinya.
"Aku ini dijadikan apa? Mengapa dia mengajakku kalau aku hanya jadi penonton dibalik kaca mobil ini."
Ditengah kebingungan serta kekesalannya, Nadila mengagetkan Riana dengan ketukan di kaca mobil. Setelah mengenali wajah Nadila dalam beberapa detik, Riana membuka kaca mobil.
"Kamu sekertaris Mas Davee, kan?"
"Iya Nona, Tuan Davee memerintah kepada saya untuk membawa Nona masuk lewat pintu masuk lain."
Riana membelalakkan matanya.
"Apa Davee malu ada aku di sini? Tapi kenapa ia membawa ku kalau demikian?"
"Mari ikut saya Nona.."
"Ah, baiklah.." Riana membuka pintu mobil lalu mengikuti Nadila pergi.
"Penjaga Pan, parkiran mobil Tuan sekarang." Nadila memerintah pada penjaga Pan yang datang karena perintahnya juga.
"Nona, Nona ini adik Tuan bukan?"
"E, seperti perintah Mas Davee tadi sore, sekertaris akan tau malam ini. Jadi tunggulah sebentar lagi." Ujar Riana ingat kata kata Davee, Davee pasti punya rencana atau Davee memang tidak mau mengatakan statusnya yang sudah beristri itu, begitu pikir Riana. Nadila tersenyum simpul mendengarnya.
"Cih, apakah identitas adik saja harus dibuat sesepecial ini." Batin Nadila.
Nadila dan Riana sudah sampai ditengah tengah meja tamu yang sangat ramai dengan orang orang yang sama sekali tidak dikenali Riana. Riana melihat seseorang yang berdiri di atas panggung, dilihatnya Pak Santoso sedang berdiri memberikan sambutan sambutan pada semua orang yang mendengarnya. Davee duduk di sofa depan membelakanginya, namun tentu saja Riana masih bisa mengenali dari rambut Davee.
"Nona duduklah di sini," ujar Nadila lalu tanpa menunggu pengiyaan dari Riana, ia sudah berlalu pergi. Riana masih mendengarkan dan melihat sambutan mertuanya itu. Pandangan Riana terpecah ketika melihat Davee yang berdiri dari tempat duduknya lalu diikuti oleh Nadila, mata Riana mengikuti kemanapun langkah Davee berjalan.
Ketika Davee melewati sekelompok orang, ada laki laki yang tidak sengaja menabraknya, sehingga minuman orange yang dibawanya tumpah pada jas Davee. Riana masih diam memperhatikan Davee, terlihat laki laki dewasa itu memohon maaf berkali kali. Sedang Nadila dengan sangat tangkas mengambil tissue dan membersihkan jas Davee. Ditengah kesibukannya membersihkan jas Davee, punggung Nadila tersenggol oleh orang orang yang berlalu lalang, sehingga Nadila menjadi seolah menempel ditubuh Davee. Davee merangkul bahu Nadila, mendekatkan ditubuhnya agar tidak tertabrak oleh orang yang akan lewat lagi.
Mata Riana terbelalak menyaksikannya, seolah pelukan itu berjalan sangat lambat sehingga jelas terlukis di mata Riana. Riana tidak tahan lagi menahan air matanya, air bening itu segera mengucur, Riana mengambil tasnya lalu dengan setengah berlari ia pergi.
penjaga yang mengenali Riana, diam saja tanpa bereaksi. Mereka berpikir Tuan mereka sudah mengetahuinya. Penjaga penjaga itu memang bodoh sekali.
Riana meneruskan langkahnya, air matanya belum juga berhenti.
"Apa dia membawa ku ke sini hanya karena ingin melihat kemesraannya pada wanita itu. Pantas saja dia nggak mau aku dikenali orang orang, pantas saja sekertaris itu malah membawa ku ke pintu lain. Ternyata ini semua sudah rencana mereka untuk mengerjaiku." Riana bermonolog sambil terus terisak.