Binar Mahligai

Binar Mahligai
Chapter 93



"Kenapa Sayang?" Tanya Davee terheran melihat istrinya setengah berteriak ketika memandang benda hasil beliannya.


"Emang aku lagi panas? Ini thermometer Mas, untuk pengukuran suhu tubuh. Nih Mas pakai aja sendiri." Kata Riana seraya memberikan thermometer dengan paksa.


"Sayang, maaf. Tadi aku, aku mengira ini test pack. Tuh kamu liat sendiri kan? Gambar di labelnya sama dengan yang tadi kamu tunjukin." Kata Davee yang sangat merasa bersalah, tapi masih ingin mengelak.


"Jelas jelas ada tulisannya. Pegawainya bagaimana juga sih? Masa nggak bisa bedain test pack sama thermometer." Ujar Riana sewot. Davee tersenyum senyum masam sembari menggaruk garuk kepalanya yang tidak gatal.


"Tadi aku nggak bertanya dulu dengan pegawainya, Sayang. Hehe.. Maaf ya.."


"Ih ngeselin deh, sok sok tau sih."


"Ya udah kalau gitu aku balik lagi aja deh ya?"


"Nggak nggak," kata Riana sambil melipat tangan di depan dadanya. "Suruh Sekertaris Endra aja yang beliin, dia pasti pernah beliin buat istrinya."


"Dari tadi kek Sayang, aku nggak bakal jadi kamu marah marahin gini. Haduh nasib sang suami." Batin Davee yang hanya bisa menyambarkan diri sendiri. "Ya udah, kamu tunggu di sini. Aku mau ke kamar Sekertaris Endra."


"Iya.." Jawab Riana ketus.


***


"Sekertaris Endra?"


"Iya Tuan?"


"Pergi lah ke apotek dan temukan test pack."


"Baik Tuan."


"Eh tunggu dulu, apa kamu sudah tau test pack itu apa?"


"Aku akan menanyakan pada pegawai apotek, Tuan. Mereka pasti tau."


"Memangnya kamu belum pernah melihat test pack sebelumnya?" Tanya Davee lagi.


"Belum, Tuan." Jawab Endra.


"Kamu kan sudah memiliki anak, lalu dulu bagaimana?..."


"Waktu itu istri saya tidak menunjukkan gejala gejala kehamilan, Tuan. Jadi kami mengetahui ia hamil saat usia kandungannya lima bulan, setelah perut istri saya terlihat membesar. Lalu kemudian saya membawanya ke rumah sakit." Jelas Endra.


"Wah, anak kamu hebat juga. Diam diam di perut istri mu." Ujar Davee tanpa ekspresi.


"Iya, Tuan." Sajut Endra"Aku nggak tau, Tuan ku ini bercanda atau nggak. Wajahnya terlihat datar saja. Tuan - Tuan..." Batin Endra.


"Kalau begitu cepatlah pergi.."


"Baik Tuan.."


***


Ketika Davee sedang asik menciumi Riana, suara ketukan pintu terdengar. Endra sudah datang. Davee dengan cepat membuka pintu dan mengambil kantong plastik yang diberikan oleh Endra.


"Tuan? Apakah Nona sedang mengalami gejala kehamilan?" Menanyai perihal Riana, si Nona kecilnya. Endra sedikit memanjangkan lehernya berniat untuk melihat keadaan Riana.


"Baik Tuan, kalau begitu saya ke kamar dulu." Ujar Sekertaris Endra.


"Iya baiklah.." Davee kemudian menutup pintu kamar.


"Kan Sekertaris Endra hanya ingin melihat keadaan ku, Mas malah menolaknya." Kata Riana yang hanya berniat menggoda suaminya itu.


"Nggak boleh Riana, lingerie ini sangat terbuka. Lihat tuh semua sisi tubuh kamu terlihat, hanya aku yang boleh melihatnya." Ujar Davee dengan wajah serius. Riana sekali lagi cekikian.


"Ya udah, sini test packnya."


"Nih..."


"Ya udah aku ke WC dulu."


"Ikutt.." Kata Davee dengan muka memelas.


"Ih apaan sih, malu tau!" Kata Riana lalu cepat cepat menutup pintu WC. Davee tertawa melihat kelakuan istrinya.


5 menit kemudian Riana membuka pintu WC dan memperlihatkan hasil test pack pada Davee seraya menggeleng gelengkan kepalanya.


"Garis satu, artinya apa Sayang?"


"Nggak hamil Mas, mungkin aku cuma masuk angin."


"Nggak mungkin Sayang, kita harus ke rumah sakit sekarang."


"Sebenarnya aku capek, tapi ya sudah lah. Ayok kita ke rumah sakit. Aku ganti baju dulu."


***


Setelah memakan waktu selama sekitar satu jam, Riana dan Davee sampai di rumah sakit. Mereka menemui dokter wanita setengah baya, berambut putih. Dokter itu memeriksa isi perut Riana dengan alat alatnya. Sementara Davee menunggu di luar tirai dengan gugup. Beberapa belasan menit kemudian, dokter dan Riana keluar.


"Silahkan duduk (Bahasa inggris)." Kata dokter pada Riana dan Davee.


"Bagaimana Dok? Istri saya hamilkan?(Bahasa Inggris)" Tanya Davee dengan semangat.


"Belum Tuan, tidak ada janin di rahim istri, Tuan (Bahasa inggris)." Sahut dokter.


Davee dan Riana saling bertukar tatapan.


"Saya sudah menikah berbulan bulan Dokter, apakah ada sesuatu masalah di rahim saya sehingga belum juga hamil? (Bahasa inggris)." Tanya Riana kemudian.


"Dari hasil pemeriksaan tadi, tidak ada masalah di rahim Nona. Bila seorang wanita berumur di bawah 35 tahun dan belum juga berhasil hamil, itu hal yang lumrah, Nona. Rata-rata perempuan normal dengan kondisi kesuburan dan siklus haid teratur memang memakan waktu sekitar satu tahun untuk bisa hamil. Wajar jika Nona mungkin merasa frustrasi karena belum juga hamil di bulan ke-6 atau ke-7, tapi Nona disarankan tetap menunggu apabila memang tidak ada gangguan kesehatan apa pun (Bahasa inggris)."


Davee dan Riana sekali lagi saling bertukar tatapan.


................................................


Jangan lupa sempatkan like dan votenya, biar author semngat juga nulisnya. Klau like dan komentar nya berkurang Author juga kurang semangat ngelanjutin novelnya.


Semakin banyak like, vote, dan komentar author akan mengusahakan sekali menyempatkan waktu luang untuk menulis.