
Tanpa di perintah oleh Riana, bibirnya sudah mengembang tersenyum cerah. Davee memegang pipi Riana dengan kedua tangannya, lalu mendekatkan wajah nya pada wajah Riana dan ciuman pun mendarat dengan semestinya.
"Kamu ingin bulan madu?"
"Tapikan aku belum lulus sekolah Mas," jawab Riana.
"Ya sudah kalau begitu setelah perpisahan kita langsung pergi berbulan madu."
"Em, boleh juga. Memang kita ingin bulan madu di mana Mas?"
"Terserah kamu saja Riana."
"Aku mau ke Bali saja lah.."
"Baik, " jawab Davee santai.
"Eh nggak, ke Luar Negeri saja."
"Baiklah.." Jawab Davee dengan sangat santai lagi, Ria ternganga karena kaget mendengar jawaban Davee.
"Ma, Mas nggak bercanda kan?"
"Nggak Sayang.."
"Kalau begitu ini bukan mimpi kan?"
Davee mencubit pipi Riana.
"Auww," pekik Riana.
"Bukan mimpi kan?" Tanya Davee dengan tersenyum.
"Wuaaaaaa," Riana memeluk erat Davee, serta menghujani Davee dengan ciuman. "Mas ini serius kan?"
"Iya Riana, memang kamu nggak pernah ke Luar Negeri sebelumnya?"
"Nggak, Mama nggak ngebolehin aku ikut. Kata Mama sih, kalau mereka ke sana kan untuk kerja saja bukan untuk liburan jadi untuk apa aku ikut. Begitu.." Segera wajah Riana murung.
"Haha, kasian sekali.."
"Ih Mas jahat.." Memukul dada Davee.
"Iya iya, nanti kita saja yang ke sana. Kamu mau ke mana? Korea?"
"Nggak mau," jawab Riana sambil menggeleng gelengkan kepalanya. "Mas, kita sudahan dulu berendamnya. Nanti masuk angin." Ujar Riana, setelah menyadari jika mereka sudah cukup lama berendam di dalam bathup.
"Oh iya baiklah, biar aku yang mengeringkan tubuh mu." Ujar Davee sambil meraih handuk yang bergantung, Riana diam mengikuti saja.
"Biar aku yang pilihkan baju untuk mu." Ujar Davee, Riana masih tidak bersuara dan tetap menuruti saja apa kata suaminya itu.
Riana kaget melihat lingerie hijau yang di sediakan oleh Davee.
"Mas, ini kan siang. Masa aku harus pakai ini? Aku malu sama Bi Muna Mas."
"Kalau begitu Bi Muna akan ku suruh libur saja."
"Hah?" Riana terlongong longong.
"kamu tunggu lah di sini, aku mau menemui Bi Muna dulu." Davee membalikkan badan nya dan melangkah.
"Mas?"
"Kamu tunggu di sini saja, aku akan segera kembali." Jawab Davee.
"Mas yakin keluar dengan bertelanjang bulat seperti itu?" Riana lalu terkekeh, sementara Davee cepat cepat memakai handuknya lagi.
"Kok aku bisa lupa sih!"
"Mas mikirin aku terus sih, jadi pelupa kan dengan yang lainnya."
Davee memandangi Riana dengan tatapan beda, beda dari seperti biasanya. Tatapan ini penuh makna tersirat. Davee mendekati Riana, Riana menjadi kaku setelah Davee menggigit bibirnya. Setengah menit berlalu, Davee akhirnya melepaskan mangsanya. Riana masih mematung.
"Siapa suruh kamu menggoda ku." Ujar Davee lalu berjalan keluar.
Riana meraba bibirnya dengan jari jemarinya.
"Mas Davee menyebalkan sekali." Gerutu Riana.
***
"Bi Muna?" Panggil Davee ketika dirinya sampai di dapur dan melihat Bi Muna sedang membereskan dapur.
"Eh, iya Tuan?" Bi Muna menghentikan pekerjaannya sejenak ketika menyadari kedatangan Davee.
"Bi Muna hari ini pulang lah. Datang lah besok pagi Bi."
"Benarkah Tuan?"
"Iya Bi, Riana malu berpakaian terbuka jika di lihat oleh Bibi." Ujar Davee, jika saja ada Riana di situ dan mendengar perkataan Davee sudah pasti ia akan menggerutu karena kesal sudah mempermalukannya. Sementara Bi Muna hanya tersenyum dan langsung mengerti.
"Baik Tuan..