
"Mmm, sepuluh?"
"Iya, sepuluh." Sahut Davee yakin, Riana tersenyum simpul.
"Baiklah, terserah Mas saja. Paling satu saja Mas sudah kewalahan nanti."
"Mengapa?"
"Karena bukan enaknya membuat baby baby kecil saja kemudian keluar dan mereka besar lalu sukses begitu saja, tetapi banyak yang perlu di siapkan dan perjuangkan nanti setelah memiliki anak." Jelas Riana.
"Aku sudah siap berjuang untuk menjadi seorang ayah untuk mereka." Kata Davee dengan nada serius.
"Iya Mas, ya sudah kalau gitu aku mau beres beres baju baju dulu." Riana beranjak dari duduknya.
"Kalau begitu aku akan ke kamar Endra, memintanya agar membelikan kita makan malam."
"Baiklah Mas."
Riana memasukkan baju baju di dalam lemari yang sudah tersedia di dalam setiap kamar hotel. Namun tentu saja kamar yang sudah di beli itu memiliki perbedaan dari kamar lainnya, karena semua sudah direnovasi oleh Endra dan tentu saja atas perintah Tuan Muda. Lemari ini berukuran besar berpadukan warna hijau muda dan hijau lumut.
Riana bersenandung kecil sambil terus melakukan pekerjaannya membereskan segala peralatan yang terbang dari Indonesia dan ikut singgah di hotel Swedia bersama mereka sekarang. Bola mata Riana terhenti pada dompet Davee yang tergeletak di meja lampu tidur di samping tempat tidur. Dompet itu sederhana, tidak memberikan kesan apa apa pada seluk beluk penampilannya. Hanya hitam polos berbahan kulit, bertulis BURBERRY dengan tulisan kapital dan ukurannya kecil. Entah mengapa Riana berkeinginan membukanya. Riana menghentikan senandung ria nya setelah melihat isi dompet. Riana terhenyak di tempat tidur empuk di sana seraya masih melihat pemandangan isi dompet Davee. Wajah Riana tergambar berjuta kepiluan, seperti ada segumpal duri yang mengganjal di lekuk hatinya.
"Mas Davee masih menyimpan fotonya bersama Rani." Kata Riana lirih. Keresahan kian menjempit hatinya. Bagaimana jika selama ini mereka masih berhubungan dan masih saling memberi perhatian. Itulah yang terus berputar di kepala Riana.
Cekrek..
Ganggang pintu terbuka, siapapun di sana tidak ada yang boleh tau sebab akibat kesedihannya ataupun kesedihan itu yang menjelma di wajahnya. Begitulah pikir Riana, Riana cepat cepat meletakkan dompet Davee kembali dan bersikap seolah tidak terjadi apa apa.
"Iya sudah Sayang, kan aku cuma menyuruh Endra untuk membelikan kita makanan." Kata Davee sambil melepas bajunya lalu berbaring di tempat tidur.
Riana berdiam diri di pojok tempat tidur, pikirannya masih kalut dengan foto yang baru saja dilihatnya. Banyak perkiraan buruk berterbangan mengelilingi kepalanya..
Davee bangun dari tidurannya, memandang istrinya yang menatap lurus ke arah lemari hijau namun ketika di perhatikannya, ternyata tatapan itu rupanya tatapan kosong.
"Sayang?" Panggil Davee.
"Hah? A, iya Mas?" Sahut Riana gelagapan.
"Kenapa melamun?"
"Ah nggak apa apa kok, mungkin karena kecapean." Ujar Riana sambil tersenyum berusaha menyembunyikan perasaan kalutnya. "Sejak kapan kecapean membuat seseorang melamun?" Batin Riana yang menyangkal. "Kita tidur yuk? Sudah malam." Ajak Riana lalu kemudian bersiap untuk berbaring di atas tempat tidur.
Davee mengernyitkan dahinya lagi, melihat keanehan pada istrinya.
"Riana, ini masih jam 7 di Swedia. Kita belum memulai bulan madu, kita lakukan dulu yuk?" Ajak Davee dengan senyuman, ia ingin membuat suasana seperti biasanya. Riana yang merasa sedih, kesal, marah, bercampuk aduk perasaannya itu tentu saja sama sekali tidak tergoda dengan ajakan suaminya.
"Nggak, aku capek Mas."
"Riana ada apa? Tadi kamu mau sebelum Endra datang kesini."
"Ya itu kan tadi, sekarang aku capek. Aku mau tidur." Ketus Riana berintonasi agak tinggi, Davee memandang Riana dengan heran.
"Nggak biasanya Riana begini, pasti ada sesuatu yang nggak beres. Tapi apa? Bukan kah tadi ketika ku tinggal dia baik baik saja."