
Riana berlari saat Davee mencoba mengejarnya.
"Mas, katanya bersedia saja. Nih ambil lah kalau gitu." Kata Riana sambil menyodorkan handphone, dengan wajah terlampau sedih dan memelas membuat Davee tidak tega melihat wajah istrinya. "Harus berhasil, Mas ayolah. Kasihani wajah ku yang sudah menunjukkan wajah malang ini."
"Simpan lah handphonenya, kita akan melanjutkan olahraga."
"Horey, aku berhasil.."
Belum sempat Riana melangkah untuk menyimpan handphone di tangannya, Davee sudah menarik handphone itu dan membantingnya di atas ranjang empuk. Davee kemudian memeluk Riana.
"Jangan sedih lagi ya..." Sambil mengelus rambut Riana. Riana tersenyum di balik dada Davee.
"Mas, kita tidur dulu yuk? Aku sangat lelah sekali. Nanti kita lanjut lagi setelah bangun tidur." Kata Riana ketika Davee mengajaknya duduk di tepi ranjang.
"Baiklah, kita tidur selama 3 jam."
"Terimakasih suamiku.." Riana mencubit pipi kanan Davee. "Pakai lah celana dulu sana. Nanti Mas kelupaan lagi, tiba tiba keluar rumah seperti tadi, lalu tetangga pada melihat milik Mas Davee, dan akhirnya mereka mener..." Davee menahan bibir Riana dengan bibirnya.
"Stop lah berhalusinasi memalukan ku.." Ujar Davee lalu beranjak untuk mengikuti kemauan Riana. Riana tersenyum senyum melihat suaminya.
Awal kebersamaan berjuta pratirasa yang bergejolak di antara kedua hati, benci mengenang ataupun mengingat hal tentang apapun di antara kedua masing masing. Tak ada kesan apalagi rasa bahagia jika saling berdekatan. Riana hanya melihat sosok Davee adalah seorang yang menghancurkan kehidupannya pada detik Davee melontarkan kata "saya terima nikahnya...." Begitupun dengan Davee, Davee merasa dunia pada saat itu begitu sempit untuknya bahagia menikmati hidup.
Waktu terputar semestinya, sampai dengan pratirasa sudah berubah beralun alun menjadi simpati pada setiap satu persatu hati mereka. Sedikit demi sedikit kegelepan yang suram berada di dasar hati mereka berangsur menjadi binar hingga partikel binar itu menjadi homogen yang begitu besar bahkan tidak terbatas. Cinta keduanya semakin berkembang membuai kebahagian dalam rumah yang menjadi saksi kebencian yang berubah menjadi cinta.
"Aku juga mencintai mu, Riana." Kata Davee sambil memegang kedua tangan Riana.
"Sejak kapan Mas mulai mencintai ku?"
"Sejak hatiku mulai menerima kehidupan ku bersama mu.."
"Mas nggak akan meninggalkan ku kan?"
"Nggak pernah Riana, kita sama sama menjaga hubungan ini sampai akhir hidup kita, Sayang." Ujar Davee lalu memeluk Riana.
"Pakai lah bajunya dulu, lalu kita tidur. Tidurnya sambil peluk aku ya.." Ujar Riana.
"Haha, nggak usah disuruh pun itu sudah pasti." Davee mencolek hidung Riana.
Riana dan Davee tertidur pulas menjadi satu berpelukan, bermimpi indah di dalam tidur seperti kenyataan sebelum mereka tertidur, perasaan yang berbunga bak Taman Versailles yang tertata rapi penuh warna bunga dan aroma harum.
Jam menunjukkan pukul sebelas lewat lima menit, Riana lebih dulu membuka matanya. Ia menyadari ia masih berada dalam pelukan suami yang baru ia sadari bahwa seseorang yang sedang berada bersamanya itu teramat sangat sudah ia cintai. Riana tersenyum sambil melihat wajah Davee yang masih tertidur pulas. Riana mencium pipi Davee beberapa kali sampai pada akhirnya mata Davee mengerjap, terbangun. Riana masih tersenyum menyambut Davee yang sudah sadar dari segala mimpi mimpinya.
"I love you, Mas.." Kata Riana lalu mengecup pipi Davee.
"I love you too, Baby.." mengelus pipi Riana.