
"Bawa masuk semua pembalut itu, sebentar lagi malam dan kamu akan tau jawabannya." Ujar Davee dengan nada datar kepada Nadila.
"Baik Tuan.."
"Mas Davee cuek banget sih sama sekertarisnya, perempuan ini pedahal cantik. Apa dia nggak tertarik? Kalau Mas Davee tertarik mungkin aku akan cemburu, nggak mau ah." Batin Riana sambil memandangi Nadila yang berusaha menarik bungkusan super besar. "Biar aku bantuin,"
"Riana, kamu nggak boleh banyak bergerak. Ayo kita keatas," Davee memeluk Riana dan menggendongnya lagi. Nadila semakin tercengang.
"Tuan Davee sangat perhatian dengan adiknya, apalagi nanti dengan ku sebagai istrinya." Nadila mesem mesem, lalu melanjutkan pekerjaannya.
"Dasar! Aku ini bukan pendarahan karena ketidak normalan. Kenapa mesti membuat ku begini, aku malu tau." Riana mencoba untuk berontak namun tidak berhasil juga, Riana menatap tajam ke arah Davee dan merapatkan giginya. "Aku sangat kesal.." Diluar rencana Riana menggigit lengan Davee.
"A.." Davee memekik pelan.
"Eh eh maaf, aku nggak sengaja Mas." Riana memang tidak sengaja, karena kekesalan membuatnya tidak tahan seperti itu untuk menggigit Davee. Sementara Nadila yang melihatnya tersenyum, membayangkan betapa romantisnya jika Davee menjadi pasangannya nanti.
"Kamu pasti menggigitku karena sakit kan, kita harus ke dokter." Davee memutar balik arahnya.
"Mas, tidak!!!" Riana setengah berteriak.
"Riana, mengapa?"
"Mas, berhenti bersikap begini. Turun kan aku, coba Mas tanyakan pada sekertaris mu. Turun kan aku dulu."
Davee lalu menatap Nadila, Nadila menundukkan kepalanya tanda hormat.
"Mengapa aku dicengangi seperti itu. Maksud adik Tuan Davee ini apa sih?"
Davee lalu dengan hati hati menurunkan Riana.
"Nadila, apa yang kamu rasakan saat datang bulan?"
"Hah, Tuan Davee so sweet banget..."
"Nadila, mengapa kamu tersenyum senyum begitu? Jawab!" Davee menekannya suara, Nadila tersentak kaget lalu cepat cepat menjawab.
"E, sakit Tuan. Rasanya sangat sakit sekali pada perut bagian bawah." Jawab Nadila, "dengan begini pasti Tuan Davee akan khawatir padaku nanti."
"Sekertaris cunguk! Apa yang kamu katakan. Aku nggak merasakan sakit seperti itu."
"Apa? Riana mengapa kamu bohong padaku?" Davee memegang kedua pipi Riana.
"Mas, nggak kok. Aku nggak sakit seperti itu,"
"Kamu bohong lagi!"
Nadila terbelalak sekaligus bangga pada perhatian Davee lagi.
"Nggak Mas, Mas dengerin sekali lagi. Dan tolong cepat lah mengerti, aku sudah ingin mandi, ini sudah banjir."
"Apa yang banjir Riana?"
"Mas, memang ada beberapa orang yang merasakan sakit seperti itu. Tapi aku nggak Mas."
"Mengapa Nadila merasakan sakit?" Davee mengalihkan pandangannya pada Nadila. Nadila tersipu senang karena merasa dipehatikan.
"Setelah pulang dari acara mu, akan ku jelaskan. Sekarang aku mau mandi dulu."
"Aku akan menemani mu, aku nggak mau kamu kenapa kenapa."
"Nggak usah Mas, temani saja Mba ini." Memandangi Nadila.
"Nadila, pulang lah. Kamu perlu memersiapkan acara dengan maksimal untuk malam ini."
"Baik Tuan, permisi Tuan." Dengan berat hati Nadila pergi meninggalkan Davee dan Riana. "Pedahal aku ingin berlama lama disini, supaya dekat Tuan Davee.."
"Mas, bawa lah pembalut itu."
"Aku?"
"Tentu saja, Mas nggak mau?"
"Seharusnya tadi aku menyuruh Nadila menyelesaikan pekerjaannya dengan tuntas." Davee lalu membawa bungkusan besar melewati tantangan berupa anak tangga. Sedang Riana tersenyum mengejek.
"Mas mau ngapain ngikutin aku?" Setelah sampai di kamar Riana.
"Aku ingin mememastikan bahwa kamu baik baik saja sampai keluar kamar mandi."
"Mas, sudah aku alami ini puluhan kali bahkan lebih. Dan nggak pernah membuat ku hidup 2 kali karenanya. Sana Mas mandi di kamar mandi sebelah,"
"Aku mau mandi sama kamu."
"Nggak mau, aku malu." Riana cepat cepat masuk dan menutup pintu.
Davee melihat jam di tangannya menunjukkan pukul 16.56, sebenarnya Davee ingin menunggu Riana sampai dengan keluar namun ia teringat lagi acaranya malam nanti, Davee tidak mau memberikan kesan buruk pada pak Santoso yang sudah mempercayainya memimpin perusahaan. Davee pergi ke kamarnya sendiri.
20 menit kemudian Riana keluar dari kamar mandi.
"Mas Davee akhirnya nggak membututi ku juga." Riana lalu melihat jam dinding. "Astaga sudah jam segini. Aku harus cepat bersiap." Walaupun masih 1 jam lagi keberangkatan mereka, namun bagi wanita itu bukanlah waktu yang cukup untuk berhias diri. Riana mengeluarkan gaun yang di belinya bersama Davee lusa lalu.
"Putih saja.." Riana memilih gaun putih lalu mengenakannya. Riana kemudian duduk di kursi rias sambil menatap wajahnya di pantulan kaca. Riana mulai memoles seluruh bagian wajahnya dengan bersemangat dan tersenyum senyum manis. "Lipstik yang ku beli kemarin sangat bagus sekali. Dan aku harus memakai anting ini. Ya cocok sekali dengan gaunnya. Hurayyyyy.."
Davee juga sudah menyelesaikan persiapannya, Davee mengenakan setelan jas berwarna putih polos dengan style rambut quiff haircut. Davee memutuskan untuk menemui Riana di kamarnya, karena waktu sudah menunjukkan mereka untuk pergi sekarang.
Davee membuka pintu kamar Riana, dan menemui Riana yang tengah berdiri memandangi dirinya. Davee terdiam tanpa mengedipkan mata dan sedikit ternganga melihat penampilan Riana yang begitu menawan malam ini.
Melihat Davee yang memandangnya begitu lekat Riana melambai lambaikan tangannya.
"Mas Davee.." Riana mengagetkan Davee.