Binar Mahligai

Binar Mahligai
Chapter 37



( Hallo, nama Author Putriani Winingsih boleh di panggil Putri atau Ria. Nah author mau jelasin sesuatu nih, yang pertama masalah visual. Author tau kalian pasti punya kriteria masing masing terhadap visual Riana ataupun Davee dan teman temannya. Begitupun dengan author, author juga punya pilihan sendiri mengenai visual yg agak cocok menurut author ya. Karena pendapat kalian dan author itu relatif. Yang kedua masalah episode yang pendek, author punya rencana tersendiri :) . Para reader harap mengalir aja terus ya. Sayang kalian, jangan lupa vote sebanyak banyaknya. )


***


Riana menarik tangan Davit sementara tangan Riana di tarik oleh Amanda. Amanda membawa mereka ke suatu taman sekolah dan duduk di kursi panjang.


"Oh iya, Linda mana Man?" Tanya Riana, karena sedari tadi ia tidak melihat Linda bersama Amanda.


"Mungkin dia belum datang, gue chatting dia dulu." Amanda mulai menyibukkan diri dengan handphonennya. Riana menyenggut dan kemudian memanguk melihat wajah Davit yang di sampingnya.


"Riana, nanti aku antar kamu pulang ya?" Tanya Davit.


"E, jangan Vit. Aku sudah janji sama supir ku untuk jemput nanti. Mama juga nyuruh aku pulang cepet."


"Berarti lo nggak ikut less nyanyi lagi nanti sore Ya?" Tanya Amanda pada Riana karena memang hari senin setelah pulang sekolah ada waktu less menyanyi di sekolah yang Riana dan teman temannya ikuti. Riana terkesiap karena ia lupa akan less itu, ia juga tidak mungkin harus bolos lagi karena sudah lama dia tidak less tapi jika ia mengiyakan bagaimana dengan perkataan yang ia lontarkan pada Davit tadi.


"Oh itu, em gue.. Gue lupa ada less nyanyi gue harus bilang sama nyokap gue dulu." Ucap Riana gelagapan.


"Nah berarti nanti aku tungguin sampai kamu pulang less, aku akan nganterin kamu ke rumah mu."


"Davit aku bilang nggak usah! kenapa sih kamu maksa banget!" Riana sontak melantangkan suaranya kepada Davit dan setelah bicara ia langsung meninggalkan Amanda dan Davit berdua. Tentu saja Davit terlongong longong karena ini pertama kalinya ia di bentak oleh Riana. Sementara Amanda hanya kaget sebentar dan kemudian sadar bahwa Riana memang tidak di bolehkan untuk berdekatan dengan cowok lain, ditambah lagi sekarang Riana sudah mempunyai suami.


"Vit lo yang sabar ya, Riana butuh waktu. Gue cabut dulu." Amanda meninggalkan Davit, Davit terduduk sambil mengusap kasar wajahnya.


***


Davee meletakkan jari jemarinya pada kening, sementara tangan kirinya masih mengemudikan mobil yang dibawanya. Bagaimanapun ia tidak pernah berniat untuk mencari pekerjaan dan ia sudah menggur hampir 2 tahun tahun lamanya.


"Papah ingin sekali gue bisa bekerja di kantornya, sepertinya sekarang lah waktu yang tepat Papah bisa tersenyum menerima gue." Davee bersemangat melajukan mobilnya.


Sesampai di kantor Davee segera mendatangi resepsionis. Davee memang tidak pernah berkunjung ke kantor Papa Santoso karena ketidak tertarikannya pada pekerjaan kantor sebelumnya, sehingga ia dilayani seperti tamu biasa. Davee juga tidak memberitahukan pada petugas petugas termasuk kepada ketiga resepsionis yang menjaga, bahwa ia adalah putra dari bos mereka.


"Permisi, saya ingin bertemu Pak Santoso."


"Atas nama siapa dan dari mana?"


"Saya Davee, saya ingin bekerja di sini."


"Kalau begitu anda akan dipertemukan dengan HRD kantor saat berkas berkas pelamaran kerja anda diterima oleh HRD." Jelas seorang resepsionis wanita kira kira berusia 20 tahunan.


"Saya ingin bertemu dulu dengan Pak Santoso."


"Tapi anda adalah pelamar kerja, ada urusan apa dengan atasan kami selain anda ingin melam...." Belum sempat resepsionis itu melanjutkan omongannya Pak Santoso tiba tiba datang berjalan ke arah luar kantor, ya karena sekarang adalah jam istirahatnya.


"Davee, ngapain kamu kesini Nak?" Tanya Papa Santoso lalu merangkul bahu Davee dan mengajaknya duduk di tempat tunggu tamu biasanya. Tentu saja kini wajah resepsionis yang sudah menaikkan nada bicaranya tadi seketika memerah karena malu dan sekaligus takut, kini ia sudah tahu kalau Davee adalah anak dari atasannya.


"Papah, Davee ingin bekerja di sini." Ujar Davee, Papa Santoso terpinga pinga mendengar keputusan Davee. Karena Davee sebelumnya sama sekali tidak ingin bergabung di kantornya. "Papah, aku akan kuliah nanti, jadi sementara terserah Papah ingin memperkerjakan Davee dimana saja."


"E, tidak Davee. Papah benar benar nggak nyangka kamu akhirnya mau berkecimpung di kantor Papah Nak. Kamu akan menjadi sekertaris Papah." Ujar Papa Santoso.


"Beneran Pah?" Davee terbelalak.


"Iya Davee, Papa ingin kamu dalam waktu 3 bulan sudah bisa menjabat kantor ini karena Papah sudah ingin beristirahat dari pekerjaan ini Davee. Papa ingin mengurus restaurant restaurant dengan lebih dalam lagi. Jadi Papah harap dengan waktu yang singkat itu kamu bisa menggunakannya dengan sebaik sebaik mungkin untuk anak istri kamu nanti juga."Jelas Papa Santoso, Davee membelalakkan matanya dan rasanya ia ingin melompat lompat kegirangan.


"Makasih Pah," akhirnya Davee menuangkan kebahagiaannya dengan memeluk Papa Santoso.


"Kamu sudah mulai berubah Dav, apakah kamu sudah cinta dengan istri mu?" Tanya Papa Santoso setelah selesai melepas pelukan Davee.


"Belum Pah tapi Davee sudah mulai menerima kalau Davee ini sudah mempunyai istri."


"Hahaha, asal kamu tahu Dav. Papa dulu juga dijodohkan oleh Opa kamu. Papa terpukul dengan perjodohan itu, Papa pisah kamar dari Mamah kamu. Tapi akhirnya karena sering bertemu setiap harinya cinta itu menjadi tumbuh Dav."


"Beneran Pah? Apa Papah dulu tersiksa juga karena ingin menerkam Mama yang menggoda nafsu Papah?" Tanya Davee dengan serius, Papa Santoso terkekeh mendengar pertanyaan Davee.


"Tentu saja Dav, tapi Mamah mu tidak bisa di sentuh. Mamah mu dulu sangat membuat Papah setiap hari menelan saliva tapi tidak bisa menjamahnya dan itu sangat menyiksa senjata Papah."


"Lalu bagaimana Papah dan Mamah membuat Davee di dunia ini?"


"Ya seperti yang Papah bilang tadi, Papah dan Mamah mu mulai bisa menerima kenyataan dan bersama setiap hari sehingga timbul lah cinta diantara kami dan ketika sudah saling mencintai satu sama lain Mamah mu sudah mengijinkan Papah untuk membuat kamu dulu." Jelas Papah Santoso sambil tersenyum, Davee anggup anggip. "Hahaha, kamu serius sekali Dav, Papah akui itu memang benar kenyataannya tapi tidak usah membuat mu diam seribu bahasa juga dong. Mending ikut Papah makan siang yuk."


"Hehehe," Davee menggaruk garuk kepalanya yang tidak gatal. "Iya Pah, ayok? Davee juga ingin mengisi perut."


 



 


**Jika up nya terlalu lama, mungkin author akan memberitahu masalahnya di ig pribadi author @putrianiwiningsih.


Terimakasih yang terus menanti setiap chapter novel ini. Dukung novel ini dengan like, vote juga semangat kalian pada author


saat ini vote tertinggi dari pembaca novel Suamiku Mesum adalah Adinda Legi Terimakasih atas nama yang disebutkan**