
2 Hari sudah Riana hanya berdiam diri di kamarnya sejak kepulangannya dari rumah sakit. Davee dapat bekerja dengan tenang setelah ia berhasil menemukan asisten rumah tangga yang dapat merawat Riana sesuai tugas yang diberikan Davee.
"Mas, aku mau sekolah..." Ujar Riana ketika melihat suaminya sudah pulang dari kantor.
"Riana, sehari lagi. Kamu belum sembuh total, Sayang." Kata Davee sambil mengelus kepala Riana lalu mengecup kening Riana.
"Berarti besok aku harus berdiam diri di kamar ini lagi?"
"Iya.."
"Mas, aku cape, aku kesepian..." Ujar Riana memelas.
"Kalau begitu, besok aku nggak pergi ke kantor."
"Kenapa?" Tanya Riana bingung.
"Ya untuk menemani mu seharian di sini."
"Ih Mas, apaan sih. Besok aku sekolah ya??.." Riana menarik narik tangan Davee.
"Nggak, aku mau mandi dulu. Setelah ini kita makan malam."
Riana hanya dapat berdesis kesal, ia menyerah karena melawan terus menerus pun percuma.
***
"Silahkan Non, Tuan.." Ujar Bi Muna seiring menghidangkan masakannya pada meja makan.
"Terimakasih Bi, Bibi sudah makan?" Tanya Riana.
"Belum Non.."
"Makan bareng saja Bi," ujar Riana. Davee tersedak oleh makanannya sendiri mendengar perkataan Riana. Ia tidak menyangka istrinya sebaik itu.
"Tidak Non, saya harus menyelesaikan pekerjaan saya dulu. Non dan Tuan duluan saja, permisi Non." Ujar Bi Muna lalu meninggalkan Davee dan Riana.
"Kamu baik sekali.." Kata Davee seraya mengeluarkan senyum manis sebagai hadiah untuk Riana.
"Baik? Kok tiba tiba? Ada apa Mas?" Tanya Riana heran.
"Mengajak ART makan bersama dengan majikannya itu jarang terdengar."
"Istri ku ini memang sangat baik hati." Pungkas Davee, Riana mencibir.
"Mas?"
"Iya?"
"Makannya lahap sekali," ujar Riana melihat Davee yang tidak ada hentinya memasukkan makanan dalam mulutnya.
"Karena malam ini aku mau mengeluarkan tenaga ekstra." Jawab Davee, Riana mengernyitkan dahinya tidak mengerti.
"Mas mau ngegym?"
"Lebih dari itu." Balas Davee santai. Riana terlongong, dahinya mengerut bak baju kumal yang tak di gosok dengan tenaga setrika.
"Mau ngapain sih Mas?"
"Mau bikin dede bayi."
Riana terbelalak.
"Apa?? Kita malam ini?"
"Tentu saja," Davee melontarkan senyum nakalnya penuh makna. Sedang Riana mendadak merinding melihatnya.
"Mas, tapi sakit."
"Tenang Sayang, aku pelan pelan kok." Davee belum berhenti tersenyum yang membuat Riana terus merinding.
"Mas, kayanya aku mau tidur cepat deh malam ini."
"Baiklah kalau begitu tengah malam aku akan membangunkan mu." Jawab Davee santai.
"Oh Tuhan, tolong aku. Sakit tau, tapi enak juga sih. Eh, dasar otak mesum.." Riana memukul kepalanya.
"Kenapa Riana? Kenapa dipukul? Ada apa?"
"Ng, Nggak Mas. Ya sudah makanlah biar cepat ke kamarnya." Kata Riana membuat Davee mengangguk semangat. "Gue bilang apa barusan? Astaga, mau gue taroh dikulkas aja deh ni muka, malu gue ah. Gue pasti kerasukan deh barusan, ni mulut kurang ajar banget." Batin Riana menggerutu.