Binar Mahligai

Binar Mahligai
Chapter 69



Setelah sampai di rumah, Riana dan Davee duduk di tepi ranjang.


"Riana, kamu mengapa pergi seperti tadi?" Tanya Davee dengan lembut, Riana memandang tajam pada Davee.


"Mas jahat!!"


"Riana, apa salah ku?"


"Mas, bilang Mas mencintai ku tapi Mas berpelukan dengan wanita lain." Dengan isakan tangis.


"Riana, apa maksud ini?" Davee benar benar tidak mengerti perkataan Riana kali ini, karena ia sama sekali tidak merasa berbuat demikian.


"Mas, mencintai Nadila kan? Mas mencintai dia, bukan aku. Dan yang kemarin Mas ucapin itu ke aku itu pasti nggak benar kan?"


Davee mulai yakin bahwa Riana salah paham pada kejadian sebelum dirinya memberi sambutan pada peresmian CEO.


"Riana, dengarkan aku dulu. Aku tidak berpelukan dengan Nadila. Aku hanya ingin menolongnya agar nggak tertabrak orang orang yang lewat." Jelas Davee, Riana terdiam dan tetap menangis. "Riana, percayalah padaku, aku mencintaimu Riana." Davee mencium kening Riana dengan lembut.


"Benar begitu?"


"Iya Riana..." Davee tersenyum pada Riana, Riana pun sebaliknya. Riana memeluk Davee, membenamkan wajahnya pada dada Davee. Davee membalas pelukan Riana.


"Maafin aku..."


"Kamu jahat sekali, kamu bahkan nggak mendengarkan aku bercerita di panggung tadi."


"Mendengarkanmu memberi sambutan pada seluruh warga perusahaan itu sangat membosankan." Masih memeluk Davee.


"Bagaimana jika aku tadi menceritkan mu di panggung?"


Riana melengak, berusaha melihat keseriuan di mata Davee.


"Benarkah?"


Davee tersenyum, seolah senyumannya adalah jawaban dari penasaran Riana.


"Apa kamu mau mandi lagi?"


Riana mendengus kesal, bukannya memberi jawaban atas pertanyaannya, Davee malah balik bertanya.


"Tentu saja, tubuh ku lengket akibat keringat."


"Kalau begitu akan ku mandikan."


Davee tidak memperdulikan jawaban Riana , Davee menggendong tubuh Riana dan membawanya ke kamar mandi.


"Mas, jangan ceburkan aku di bathub.." Setengah berteriak.


"Baiklah," Davee menurunkan Riana pelan , Davee pun kemudian mengunci pintu kamar mandi.


"Mas, aku malu. Keluar lah dulu, ku mohon.." Ucap Riana memelas.


"Nggak mau, aku juga mau mandi." Davee melepaskan pakaiannya habis.


"Hah? Apa dia nggak punya malu? Bagaimana mungkin dia melepaskan semua pakaiannya dengan begitu santai seperti itu?"


"Kenapa? Mau tunggu aku yang ngelepasin ya?" Ujar Davee, lalu tersenyum nakal sembari mendekati Riana.


"Nggak mau!" Riana mendorong tubuh Davee.


"Haha, baiklah. Kalau begitu lepaslah."


"Mas, serius akan tetap di sini?"


"Tentu saja.."


"Tapi..."


"Aku sudah sering melihatnya bahkan merasakannya, lepaslah." Ucap Davee dengan begitu santai.


Dengan berat hati akhirnya Riana melepaskan gaun putihnya, Riana melihat milik Davee yang seketika menegang ketika Riana hanya memakai bra dan boyshorts yang berwarna selaras itu, hijau muda bertulis Love Green. Davee terkekeh, sementara wajah Riana memerah menahan malu.


"Tu kan, Mas Davee ngejekin aku."


"Kamu terlihat imut sekali mengenakan ini, nanti aku akan membelikannya lebih banyak.." Davee lalu mengecup bibir ranum Riana, Riana terlongong. "Lepaslah semuanya.." Ujar Davee berbisik.


Riana menghela nafas tidak senang, lalu bergerak untuk mengerjakan perintah Davee. Namun lain hal dengan Davee, Davee terlihat puas karena Riana menuruti kemauannya, walau dengan terpaksa.


Ketika Riana sudah selesai melepaskan boyshortsnya, Davee terbebelak melihat bercak darah di atas busa putih. Bibirnya memucat, tubuhnya seketika lemas. Hampir saja Dave tidak dapat menyeimbangkan tubuhnya, Riana memegang pundak Davee dengan erat, takut jikalau Davee tersungkur di situ.


"Mas, Mas kenapa?" Tanya Riana dengan khawatir.


"Riana, kita harus ke rumah sakit." Berbicara dengan sangat pelan dan lemas. Riana terlongong longong mendengar ucapan Davee. Ia pun akhirnya sadar, yang membuat Davee demikian adalah karena darah datang bulannya.