Binar Mahligai

Binar Mahligai
Chapter 52



Riana membaringkan tubuhnya di samping Davee yang terlihat sangat serius mengerjakan sisa pekerjaan Riana tadi. Setelah bosan memandang Davee dan laptopnya Riana memainkan handphonenya.


"Hah!!" Riana terperanjat dan langsung duduk. Membuat Davee memandangnya dengan heran. "Kok bisa?" Riana benar benar memasang wajah panik.


"Riana, ada apa di HP mu?"


"Ng, Nggak apa apa Mas. Lanjutkan saja, hehe.." Tertawa terpaksa.


"Kamu habis melihat setan ya?"


"Ah iya. Iya benar Mas, setan ny ngeri banget."


"Mana sini ku lihat.." Davee memanjangkan tangannya untuk mengambil handphone di tangan Riana, namun segera Riana menjauhkan dari tangan Davee.


"Mas, lanjutkan saja dulu ya. Aku mau ke dapur sebentar. Sepertinya aku merasa seperti kemarau saja sekarang, tenggorokanku terasa kering. Aku akan kembali, dahhh." Riana melambaikan tangannya, seolah akan meninggalkan Davee sejauh jauhnya saja. Tidak lupa senyum yang dibuat buat ada di wajah Riana agar Davee percaya dan tidak jadi untuk melihat isi ponselnya. Davee hanya menggeleng gelengkan kepalanya sembari berdecak.


Setelah sampai di dapur Riana mengotak ngatik ponsel miliknya, dengan wajah serius.


"Bagaimana mungkin Davit mengetahui nomor ku.. Bagaimana kalau dia menelpon ku lalu mengajak ku pergi? Bagaimana ini? Sebaiknya aku balas dulu." Riana bermonolog di depan handphonenya.


08956xxxxx "Riana, ini aku Davit."


"Dari mana kamu mendapatkan nomor telepon ku Vit?"


08956xxxxx "Kamu nggak perlu tau, yang terpenting akhirnya aku bisa mendapatkan nomor telepon mu. Aku akan menelpon mu setiap malam Ria. -_-"


"Ah, apa apaan ini. kalau Mas Davee mengadu pada Papa aku bisa mati, dan aku sudah berjanji pada diri ku sendiri untuk menjadi istri yang benar. Tapi jujur saja aku juga menyukai Davit..." Sambil bergumam Riana mengacak acak rambutnya.


"Iya Vit, ya sudah aku sedang sibuk Vit. Sudah dulu ya, bye."


08956xxxxx "Baiklah Riana kalau kamu sibuk sekarang, aku akan menelponmu mulai besok malam saja. See you.."


Riana kembali ke kamarnya, dilihatnya Davee sudah tidak fokus pada laptopnya lagi namun terlihat sibuk dengan ponsel di tangannya.


"Mas?"


"Hem?" Tanpa menoleh.


"Apa desainnya sudah selesai?"


"Sudah, lihat saja. Aku sudah mencopy nya menjadi 8 label." Masih tanpa menoleh, Riana lalu naik ke ranjang dan melihat monitor laptopnya. Terlihat senyum di bibir Riana.


"Bagus sekali Mas, aku sangat suka desainnya. Kelengkapannya juga sudah pas, nggak ada yang perlu aku tambah lagi." Memuji Davee, Davee terlihat acuh namun sebenarnya ia menahan senyum karena senang dipuji oleh Riana.


"Tentu saja, aku lebih dulu berpengalaman membuat label makanan seperti itu."


"Terimakasih Mas.." Riana mencubit pelan pipi Davee, senyum Riana mengembang.


"Jangan senang dulu, nggak ada yang gratis di dunia ini."


"Baru saja aku memujinya, ternyata sudah minta imbalan. Dasar laki laki cunguk!" Gerutu Riana dalam hati. "Mas, uang ku saja minta dengan Mas Davee. Cuma tersisa 20 ribu."


"Aku tau itu, aku nggak membutuhkan uang dari mu. Bayarannya adalah pijat aku sekarang, aku sangat lelah." Davee sudah bersiap untuk dipijat oleh Riana, ia merebahkan tubuhnya lalu menyodorkan tangannya kepada Riana.


"Sukur lah kalau cuma ini, aku bisa melakukannya." Riana memijat tangan Davee.


"Riana, pijat lah dengan keras. Pakailah tenaga mu. Aku nggak merasa apapun"


"Tapi ini sudah dengan seluruh tenagaku, lengan kamu saja yang sangat keras seperti kayu." Sungut Riana.


"Kamu saja yang lemah.."


Riana memilih tidak mnjawab, karena akan percuma pikirnya Davee tidak akan mau mengalah. Riana terus memijit Davee, Davee memajamkan matanya lalu kemudian terdengar nafas khas tidur di sana.


"Sudah tidur? Yang benar saja, kamu harus ku usir dari kamar ku dulu." Gumam Riana. "Mas, bangun lah." Sambil mengguncang bahu Davee.


"Hah? Apa aku telat?" Davee kaget dan langsung duduk.


"Apanya yang telat sih? Mas silahkan pergi dari kamarku."


Davee merebahkan kembali tubuhnya.


"Aku mau tidur di sini."


"Mas, tapi.."


"Mas, kamu punya teman?"


"Tentu saja, ia juga sekertaris ku di kantor."


"Rupanya kamu juga memiliki teman ya."


"Apa kamu pikir aku robot!"


"Lebih dari robot malah."


"Apa!" Davee memplototi Riana, Riana terkekeh melihat suaminya yang mudah dipancing emosinya itu.


"Nggak, aku cuma bercanda. Sekertaris Mas cowok atau cewek?"


"Cowok."


"Kenapa nggak cewek saja?"


"5 bulan lagi, ketika Gilang nanti cuti ia akan di gantikan oleh Nadila."


"Oh begitu," Riana menatap langit langit kamar sambil memikirkan pertanyaan lagi untuk Davee. "Mas, apa aku boleh pacaran?"


"Nggak."


"Mas punya pacar?"


"Nggak."


"Kenapa? Pasti Mas bohong."


"Aku sudah bilang padamu, kalau aku akan menjadi suami yang benar mulai kemarin. Dan dari itu juga aku nggak mengijinkan kamu mempunyai pacar. Suami macam apa aku jikalau mengijinkan mu berpacaran dengan laki laki lain." Jelas Davee. Riana kemudian memiringkan tubuhnya menghadap Davee.


"Tampan juga.." Batin Riana sambil tersenyum senyum. Davee melihat ke arah Riana.


"Kamu senyum senyum kenapa? Kerasukan ya?"


"Mas apaan sih, tadi aku nggak sengaja tersenyum sendiri."


"Mana ada senyum tidak disengaja."


"Ada kok, contohnya seperti aku tadi."


"Ah, terserah mu saja lah." Davee kemudian memiringkan tubuhnya juga menghadap Riana, kini mereka berdua saling bertatapan. "Riana, tolong jadilah istri yang benar juga untuk ku." Davee tidak tahan melihat wajah manis Riana terpampang didepan matanya seperti itu, Davee mengelus pipi Riana.


"Aku akan berusaha Mas."


"Baiklah. Riana, apa kamu kamu ingat kapan terakhir kamu jalan jalan?"


"Sebelum menikah denganmu Mas."


"Besok kita akan jalan jalan, kamu mau kemana?" Davee masih belum mengalihkan tangannya di pipi Riana, Riana membulatkan matanya mendengar pertanyaan Davee.


"Serius Mas?"


"Tentu saja, sebutkan saja."


"Aku ingin bermain di fun station dan setelah itu aku ingin berenang di kolam renang."


"Baiklah, besok kita akan ke tempat yang kamu mau." Ujar Davee sambil tersenyum. "Apa kamu nggak ingin berbelanja juga?" Imbuh Davee.


"Apa boleh Mas?"


"Borong saja semua isi mall besok siang."


"Baiklah.." Riana sangat senang, ia memeluk erat Davee. Sedang Davee menebarkan senyum lebarnya sambil mengelus rambut Riana.


Setelah merasa puas memeluk Davee, Riana melihat wajah suaminya, Davee pun demikian. Davee kemudian mencium bibir ranum Riana, lalu melumatnya. Riana tidak menolak dan tanpa sadar ia membuka mulutnya sehingga lidah mereka bertemu di sana. Setelah cukup lama Davee melepaskannya dan tersenyum manis pada Riana.


"Apa aku boleh melakukannya?"


"Nggak mau," Riana seketika membalikkan tubuhnya dan menutupi seluruh tubuhnya sampai batas leher dengan selimut hijau bermotif bunga. Davee hanya bisa tersenyum kecut, walaupun ia menginginkannya tapi ia tidak mau memaksakan nafsunya semata tanpa memikirkan perasaan Riana.