Binar Mahligai

Binar Mahligai
Chapter 63



(Hayuuu, dukung novel ini dengan cara vote sebanyak banyaknya ya. Like serta komentar mendukung juga Author butuhkan. Author penasaran nih, siapa pemberi vote terbanyak pada novel Author. Yang tertinggi akan Author sebutkan namanya ya di chapter yang author publish pada hari sabtu. Semangat!!)


Di tengah berpelukan, Rika datang bersama teman temannya. Riana lebih dahulu melihat, ia pun melepaskan pelukannya ada Amanda dan Linda. Linda dan Amanda akhirnya menyadari mengapa Riana melepaskan tangannya pada bahu mereka. Rika tersenyum, lama lama senyuman itu menjadi sebuah seringai. Begitu pun dengan ketiga temannya, mereka masih saja menjadi pesuruh Rika dengan harap mereka juga ikut menjadi hits seperti Rika dengan sering menindas orang yang lemah agar mereka di segani, serta gaya yang mencolok.


Rika Juan sebenarnya bukanlah anak pengusaha atau pun sebagainya, ia anak orang biasa atau sedikit lebih jauh dari ekonomi kehidupan tingkat biasa. Ayahnya hanya penjahit keliling, serta ibunya hanya menjadi asisten rumah tangga. Rika juga memiliki 2 orang adik kembar yang masih berseragam SD. Namun karena tubuh Rika yang seksi nan semok membuatnya terlihat lebih menarik, serta gaya hidupnya yang ingin terlihat mewah. Entah bagaimana caranya ia mendapatkan semua itu, atau mungkin ia memeras orang tua nya juga sangat berkemungkinan besar.


Rika melipat tangan di depan dadanya. Memandang sinis pada Riana, walau pun sekarang ia sudah tidak bermain kasar lagi namun kebencian masih ada di dirinya.


"Apa lo liat liat!" Ujar Amanda sewot melihat seringai Rika yang membuatnya ingin muntah saja. Rika menambah porsi seringai di bibirnya kemudian berkata..


"Ayo kita pergi, males banget dekat dekat serangga macam mereka. Najis!" Rika lalu memalingkan tubuhnya dan berjalan dengan santai, di ikuti tiga pembuntutnya.


"Heh, apa lo bilang!!" Amanda memukul meja seraya berdiri.


"Sudah sudah, kita ngelawan mereka sama aja kita juga seperti mereka." Ujar Riana menenangkan kemarahan Amanda. Amanda akhirnya duduk kembali.


"Masa lo diam aja sih kita dibilang serangga kaya gitu, Ya?" Tambah Linda lagi.


"Lo berdua bawa kaca nggak?" Tanya Riana dengan santai. Kedua sahabatnya saling bertukar tatap seraya mengerutkan dahi karena heran. Namun Amanda tetap memberikan kaca yang ada di sakunya kepada Riana. Riana memegang kaca itu lalu melihat pantulan wajahnya di depan kaca kecil berbentuk bulat sambil tersenyum manis. Amanda dan Linda masih belum mengerti ada apa dengan Riana.


"Sekarang lo berdua liat wajah kalian di kaca ini." Riana memberikan pada Amanda dan Linda, mereka menuruti kemauan Riana walau masih bingung ada maksud apa dibaliknya.


"Sudah.." Jawab Amanda dan Linda secara bersamaan.


"Kita ini cantik, kita punya hidung, mata, bibir, pipi. Seharusnya kalian menertawakan orang yang menyebut kita binatang itu, mengapa? Karena mereka terlalu bodoh untuk melihat ciptaan Tuhan yang begitu sempurna ini. Jelas saja kita ini manusia bukan binatang." Jelas Riana, Amanda dan Linda tersenyum lebar setelah mendengar penuturan Riana itu.


"Hehe, lo bener juga. Kenapa tadi gue nggak ketawa terbahak bahak aja yah." Ujar Amanda sambil memukul keningnya. Riana dan Linda terkekeh.


***


Jam sudah menunjukkan pukul 15.02, Riana sudah pulang dan sudah berada di mobil bersama 2 penjaga yang seharian membuntutinya. Riana sebenarnya tidak ingin pulang lebih dahulu karena hari ini seharusnya less menyanyi, namun karena less nya diundur pada hari selasa Riana terpaksa harus pulang saja.


"Bosen di rumah, Mas Davee masih 2 jam lagi pulangnya. Huh.." Sungut Riana kepada 2 penjaga.


"Apa Nona ingin ke kantor, Tuan?"


"Nggak mau, aku malu.."


"Baguslah Nona." Jawab penjaga Ragar lagi, Riana mengerutkan dahi.


"Maaf, Nona. Saya lupa, kalau malam ini adalah malam konversi, maka Nona harus lebih cepat sampai rumah, agar lebih banyak waktu untuk bersiap."


"Manusia robot ternyata bisa lupa juga ya." Ungkap Riana, penjaga Ragar hanya diam tanpa bereaksi sedikitpun. Riana berdecak kesal karena tidak berhasil memancing emosi penjaga Ragar. Riana akhirnya memutuskan untuk tidak berbicara lagi sepanjang perjalanan ini, karena akan membuat moodnya menjadi buruk 20 persen setiap kali mendengar jawaban penjaga Ragar.


Setelah sampai di depan gerbang rumah Davee, penjaga Ragar melihat Riana tengah pulas tertidur. Melihatnya penjaga Ragar tidak berusaha membangunkannya dan juga tidak ada niatan untuk menggendong Riana. penjaga Ragar dan penjaga Pan hanya diam di dalam mobil, menunggu Riana terbangun dengan sendirinya. Bukan karena mereka terlalu jahat, namun karena sudah perintah bagi mereka dari Gilang, agar tidak menyentuh Riana, karena Davee tidak suka kalau saja istrinya di sentuh orang lain. Gilang juga memerintah untuk tidak membuat Riana marah, dengan membangunkan Riana bisa saja membuatnya marah dan mengomel hingga ke Tuan mereka yaitu Davee. Mereka tidak punya nyali untuk itu.


Setengah jam berlalu Riana belum juga bangun, dan mobil hitam milik Davee sudah tiba lebih cepat dari biasanya. Davee tidak masuk terlebih dahulu melainkan berhenti di depan mobil yang membawa Riana. Penjaga Ragar dan penjaga Pan keluar dari mobil seraya membungkukkan badan sejenak untuk memberi hormat.


"Mengapa kalian masih di sini?"


"Maaf Tuan, Nona masih tidur di mobil." Ucap penjaga Ragar dengan hati hati. Davee lalu bergegas membuka pintu mobil penjaga dan melihat Riana yang benar benar tidur dengan begitu nyenyaknya. Davee menggendong Riana dan memasukkannya di dalam mobil miliknya.


"Kalian pulanglah, ceritakan semua kegiatan Riana hari ini di dalam rekaman mp4." Ujar Davee setelah selesai meletakkan riana di kursi mobil.


"Baik Tuan.." Jawaban demikian adalah jawaban paling tepat bagi penjaga Ragar dan penjaga Pan dihadapan Davee. Menyetujui semua permintaan Tuan mereka, walau terbilang aneh.


Setelah Davee masuk di dalam mobilnya, Riana mengerjapkan matanya. Riana lalu memalingkan wajahnya ke arah Davee dan menatap Davee dengan mengerutkan dahi.


"Sudah bangun?" Tany Davee, melihat istrinya yang memandangnya.


"Penjaga Pan kok mirip seperti Mas Davee?" Ujar Riana, Davee terkekeh mndengar pertanyaan istrinya.


"Tidur lah lagi jika kamu masih lelah, nanti malam akan menjadi malam panjang untuk mu."


"Penjaga Pan bisa tertawa dan berbicara tidak seformal tadi?" Mendengar ucapan Riana lagi, Davee hanya terkekeh tanpa bicara. Riana menatapnya dengan serius.


"Mau jalan sendiri atau ku gendong?" Tanya Davee setelah mobil sampai di garasi.


"Jadi ini beneran Mas Davee?"


"Bukan, aku Naruto." Jawab Davee sambil mencubit hidung Riana.


"Naruto? Sejak kapan Nar..." Belum sempat Riana melanjutkan katanya Davee sudah keluar dari mobil lalu membukakan pintu mobil untuk Riana.


"Naruto ingin menggendong istrinya." Davee tersenyum lalu menggendong Riana bak seorang pangeran yang menggendong permaisurinya. Riana diam sambil terus melihat wajah Davee, kemudian ia tersenyum setelah yakin bahwa Naruto adalah suaminya, Davee Xhuan Diansyah.