
Dalam hitungan detik nasi dipiring Davee sudah habis tak tersisa. Davee mereguk segelas air putihnya sampai habis tanpa tersisa.
"Mas, pelan pelan.. Nanti keselek loh."
"Terlalu semangat Sayang.." Tidak lupa senyum Davee mengembang. Riana merasa merinding kembali melihatnya.
Setelah selesai menghabiskan seluruh makan dan minuman miliknya, Davee dengan secepat kilat menggendong Riana, Riana hanya terlongong longong dibuatnya. Di perjalanan Davee tidak ada hentinya menghujani Riana dengan ciuman. Riana hanya terdiam menikmati setiap ciuman yang berguguran di seluruh wajahnya.
Ketika memasuki kamar, Davee meletakkan Riana dengan hati hati pada ranjang dengan sprei hitam bermotif abstrak miliknya. Riana merasa darahnya seakan berhenti mengalir melewati sel sel di dalam tubuhnya. Belum lagi ketika Davee meraba wajah Riana dengan bibirnya. ******* lama bibir Riana, namun kali ini Riana sudah tidak kaku lagi, ia membalasnya lumatan itu dengan lembut seraya memejamkan matanya.
Tangan Davee diberi kesempatan untuk menggerayangi tubuh Riana, semua lekuk tubuh Riana tergapai oleh tangan Davee. Sampai akhirnya tangan itu menetap pada daerah kesukaannya. Begitulah pemanasan yang terjadi, permainan selanjutnya Davee bawakan dengan membara dan memanas. Riana tidak dapat menahan lenguhannya dengan pelan lagi, namun mengeluarkannya dengan bersemangat, seperti semagat Davee yang bekerja di atas tubuhnya.
Davee terbaring lemas di sebelah Riana dengan nafas yang tersengal, diikuti dengan deruhan nafas Riana pula. Melihat wajah Riana, Davee tersenyum dan lalu memeluk Riana.
"Aku akan melakukannya sepanjang malam ini.." Ujar Davee lirih sambil mengecup Riana. Riana memandangi sorot mata Davee, dan melihat keseriusan di wajahnya.
"Mas mesum.." Kata Riana kemudian memukul lengan Davee yang keras karena otot. Namun Davee hanya tersenyum dan mengeratkan pelukannya.
"Yang terpenting aku hanya mesum terhadap istri ku.. Tidurlah jika kamu mengantuk, aku akan membangunkan mu nanti sekitar 15 menit kemudian."
"Apa!! Yang benar saja. Aku cape Mas, mau tidur lebih lama dari pada itu."
"Jangan membangkang perintah suami, atau kamu akan menjadi istri durhaka."
Davee tersenyum lalu memeluk Riana, sambil meletakkan telapak tangannya pada tempat kesukaannya.
Davee menggerayangi tubuh bagian belakang Riana, meniup serta mencium tengkuk Riana, yang membuat Riana menggelinjang. Dan akhirnya percintaan kedua sampai dengan ke empat terjadi malam ini.
Pukul 05.12 seluruh percintaan selesai. Riana dan Davee berpelukaan dengan keringat yang bercucuran di tubuh mereka, walau AC itu masih berjalan dengan semestinya namun tidak dapat menahan seluruh keringat Riana dan Davee keluar. Keduanya merasa sangat lelah namun ada bahagia di lubuk hati mereka.
"Sudah selesaikan? Nggak minta lagi?" Tanya Riana.
"Hehe.. Sudah Sayang. Kita tidur ya.." Davee mencubit hidung Riana.
Baru saja Riana dan Davee memejamkan matanya dan hampir memasuki ruang tidak sadar, suara ketukan pintu terdengar. Davee dengan cepat menarik selimutnya sampai menutup dada dirinya dan tubuh Riana. Riana juga berusaha menutup celah agar tidak terlihat sedang tidak memakai pakaian oleh orang yang ada di balik pintu.
"Nggak dikunci.." Kata Davee.
Pintu terbuka, Bi Muna berdiri di ambang pintu.
"Permisi Tuan, Non. Sarapan sudah siap.." Bi Muna memang selalu memasak sarapan sepagi itu, karena suruhan Davee yang sangat tidak ingin Riana terlambat sarapan.
"Sayang, aku capek. Nggak mau turun .." Ujar Riana memelas.
"Aku akan menggendong mu, nanti kita lanjut lagi ya.." Kalimat yang membuat Bi Muna ingin tertawa mendengarnya. Ia mengerti pasangan anak muda yang sedang dilanda cinta itu.