Binar Mahligai

Binar Mahligai
Chapter 18



Pukul 06:21, Riana terbangun tapi enggan membuka matanya. Kini ia merasakan ada sesuatu di bagian atas perutnya, terasa agak berat kemudian ia memegangnya. Merasa itu sebuah tangan Riana kaget dan langsung membuka matanya lalu melihat tangan yang merangkul perutnya itu. Tidak lain adalah tangan Davee. Riana segera melepaskan tangan Davee lalu merubah posisinya berhadapan dengan Davee.


"Ganteng juga, Hidungnya mancung dan terlihat imut." Riana bergumam tapi kemudian ia tersadar. "Eh gue kenapa sih." Riana memukul pelan dahinya lalu kemudian bangkit dari tempat tidurnya dan melihat jam dinding. "Hah jam segini, gue kesiangan.." Riana cepat cepat pergi ke dapur.


"Halo Bi Minah," sapa Riana pada asisten rumah tangganya.


"Halo juga Non Ria. Non Ria mau Bibi masakin apa Non?"


"Bibi udah masak banyak ni, Ria telat bangunnya ya Bi."


"Kan pengantin baru Non wajar saja lah." Ucap Bi Minah dengan medok jawanya, tidak lupa menampilkan senyum di wajahnya.


"Ih Bi Minah apaan sih, Aku mau sarapan capcay aja, Bi."


"Baik Non, Bibi masakin dulu."


"Eits nggak usah Bi, Ria aja yang masak. Bibi siapin sayurnya aja dan minta tolong halusin bumbunya ya Bi biar lebih wangi aromanya."


"Oh iya, baik Non." Bi Minah segera mengerjakan perintah Riana.


"Kamu kok di sini Sayang?" Mama Rahma datang di sela Riana sedang memotong sayurannya.


"Eh Mama, selamat pagi Ma.."


"Selamat pagi juga Sayang."


"Aku lagi mau makan capcay Ma. Jadi aku masak capcay kali ini."


"Em, ya sudah Sayang. Davee belum bangun?"


"Belum Ma, mungkin dia masih kecapean karena kemarin diajak Papa keliling buat nyari perlengkapan. Hehe.."


"Ditambah lagi kecapean karena pengantin baru." Mama Rahma tertawa mengejek ke arah Riana.


"Ih Mama apa apaan sih.."


"Hehehe, ya sudah Mama tinggal dulu ya. Kamu harus jaga kesehatan ya besok kamu akan jadi ratu sehari yang memakan waktu sepanjang hari menyalami tamu." Ujar Mama Rahma Sambil mengelus Kepala Riana.


"Em oke Ma.." Riana mengacungkan jempolnya.


"Bangunnya juga harus pagi. Jam setengah 5 pagi kamu sudah harus siap siap di make up oleh MUAnya. Jadi bangunnya harus lebih pagi dari jam itu."


"Siap Ma, Mama tenang aja. Oh iya Papa mana Ma?"


"Oh gitu, ya sudah setelah masak Riana akan mandi dan lalu kita sarapan bareng."


"Iya Sayang, Mama ke kamar dulu. Bi Minah nanti siapin teh saja buat Bapak ya?"


"Baik Nyonya." Balas Bi Minah.


"Bi, bumbunya sudah haluskan?"


"Sudah Non, ini." Bi Minah menyerahkan bumbu kepada Riana. Riana meraihnya dan lalu menggorengnya, wanginya menyebar sehingga orang yang ada disekitar situ akan merasa lapar ketika mencium aromanya.


"Wangi sekali Non, resep Non Ria emang nggak ada duanya." Ucap Bi Minah memuji.


"Ih Bibi apaan sih, ini resep ku dapat dari guru kejuruan ku, Bi."


"Apanya yang wangi, ini sangat mengganggu penciuman ku." Tiba tiba saja Davee datang.


"Lo ngapain sih, kalau gitu jangan kesini. Gue juga nggak mau berbagi masakan buat lo. Nggak usah ge-er jadi cowok."


"Siapa yang ge-er, lo aja yang baperan. Sini gue cicipin kuahnya." Davee meraih sendok di tangan Riana lalu mengambil kuah capcay yang Riana masak.


"Katanya nggak wangi, tapi dicicipin juga. Dasar nggak waras ni cowok." Gumam Riana.


"Enak juga,"


"Tadi katanya mengganggu penciuman." Riana menyindir Davee sambil terus mengaduk capcay itu.


"Nggak suka baunya bukan berarti nggak suka rasanya."


"Ih mana ada kaya gitu. Buktinya lo nggak nggak nutup hidung pas nyicipin."


"Ya kan....Emm..." Davee menggaruk lehernya yang tidak gatal. Bi Minah yang menyaksikan mereka hanya tersenyum dan menggeleng gelengkan kepalanya.


××_______××________××__________ ××________××


Halo...


terimakasih masih membaca novel Suamiku Mesum sampai bab ini.


Jangan lupa like kalian ya, dan kasih semangat author terus. Author nggak bisa banyak up bab dalam sehari ya, karena author juga punya kegiatan lain, Jangan lupa dukung author terus.