Binar Mahligai

Binar Mahligai
Chapter 98



"Sayang, kamu butuh apa?" Tanya Riana disela kesibukan Davee dalam berlomba bersama Papahnya serta Papa mertuanya.


"Ambilin daging, brokoli, buncis, sama wortel, Sayang."


"Oke, Sayang." Riana segera mengikuti perintah suaminya.


"Kamu mau masak apa, Dav?" Tanya Pak Darmawan kepada menantunya.


"Oh tentu dalam persaingan itu menjadi sebuah rahasia, Pa. Yang terpenting ini sangat sehat untuk kandungan Riana." Tutur Davee.


"Oh, baiklah kalau begitu. Kita harus masak menu terspesial, Ma. Ambilin Papa telur, Ma." Ujar Pak Darmawan pada istrinya.


"Iya, Pa. Itu bawang nya ditiriskan dulu, itu juga yang di wajan hampir gosong, Pa." Timpal Bu Rahma ribut memberitahu suaminya.


"Papah apa kabar, Pah?" Tanya Riana pada Pak Susanto yang terlihat sangat fokus memotong sayuran.


"Baik Ya, Papah lagi berkonsentrasi agar mata pisau pisau ini nggak mengenai jari Papah."


"Hehe, baiklah, Pah. Sayang, kamu mau masak apa sih?" Tanya Riana pada Davee.


"Sini ku bisikin.." Ujar Davee menyuruh istrinya mendekat, Riana menuruti. "Spagheti special buat kamu." Bisik Davee di telinga Riana.


"Oke, Sayang. Yang enak ya..." Kata Riana menyemangati suaminya.


***


Semua masakan akhir sudah terhidang dengan rapi di atas meja makan. Pak Susanto memasak ayam goreng yang sedikit gosong dan tumis sayur yang lumayan enak. Pak Darmawan memasak opor telur yang sedikit keasinan tapi untunglah jika dicampur dengan nasi asinnya tertolong hehehe. Dan Davee memasak spagheti yang isinya lebih banyak sayuran dari ada mienya dan lalu membuat capcay yang hasilnya encer, pokoknya tidak mirip dengan namanya.


Terdengar gelak tawa ketika makanan tersaji, akhirnya tidak ada yang menang dan tidak ada yang diceburkan di kolam renang. Karena semua masakan memiliki kekurangan dan kelebihan.


"Riana, walau capcay ini bukan capcay sebenarnya dan bisa di bilang ini cuma tumisan sayur. Tapi ini sehat untuk kandungan kamu, Riana." Tutur Pak Susanto. Sebelum Riana mengangguk setuju, gelak tawa terdengar terlebih dahulu.


"Dan opor Papa sangat enak. Iya kan Ma?" Tanya Pak Darmawan pada istrinya.


"Iya Pah, enak kalau Papa menuruti apa kata Mama tadi. Mama bilang jangan nambahin garam lagi, malah ditambah diam diam." Ujar Bu Rahma sewot.


"Ya maaf Ma, abisnya Papa suka yang lebih asin ceritanya, tapi malah keterusan sih tadi naburin garamnya. Hehehe.."


"Nggak apa apa, yang penting ada ayam goreng special. Jangan lihat penampilannya tapi rasa dan pengorbanannya." Ujar Pak Susanto membela masakannya.


"Rasanya juga tetep terasa gosong, Pah." Timpal Bu Rita.


"Ya sudah kalau begitu, lihat pengorbanan Papah selama berjuang membuatnya, Mah."


"Iya deh Pah.."


"Sudah sudah, sekarang kita panggilkan juri kita. Bi Muna....." Kata Davee bak nada MC sungguhan.


Bi Muna tersenyum lebar lalu ikut duduk bersama mereka.


"Silahkan Bibi nilai, Bi." Kata Riana.


Bi Muna mulai mencicipi semua makanan.


"Opornya keasinan, tumisannya enak.."


"Bukan, Bi. Itu capcay Mas Davee." Timpal Riana.


"Oh capcay ya, iya capcaynya enak seperti tumisan yang pakai banyak air. blablabla...."


"Horey, jadi masakan yang paling banyak dapat poin yang mana Bi?" Tanya Davee.


"Tujuh semua sih, Tuan." Jawab Bi Muna.


***


"Sayang?"


"Iya Mas?" Sahut Riana.


"Nanti anak kita cowok atau cewek?" Tanya Davee sambil mengelus perut Riana.


"Mas maunya apa? Kalau aku sih terima sesuai pemberian Tuhan aja. Tapi kalau seandainya ditanya kemauan, aku maunya cowok." Tutur Riana.


"Kenapa cowok?"


"Karena ku pikir si abang akan bisa ngejaga adik adiknya nanti dengan kekuatannya." Balas Riana.


"Ya sudah kalau begitu cowok saja."


"Hahaha, ya kalau berhasil si cebong Mas masuk dengan huruf X."


"Maksudnya Sayang?"


"Tau ah, raja cebong mana ngerti."


"Sayang, kalau kamu lagi hamil kita boleh itu nggak?"


"Itu apa Mas?"


"Ya itu, main main sama kamu."


"Oh tentu itu nggak boleh Mas, itu sangat berbahaya. Jadi selama sembilan bulan aku hamil, Mas nggak boleh nyentuh aku dan setelah melahirkan selama satu tahun baru boleh berhubungan badan."


"Sayang, aku nggak kuat kalau selama itu." Timpal Davee dengan wajah sendu. Riana terkekeh melihat suaminya.


"Kamu tertawa karena aku menderita nggak bisa menyentuh mu ya? Jahat sekali kamu." Ujar Davee.


"Nggak Mas, wajah murung kamu lucu sekali. Aku bohong kok, selama kehamilan ku normal dan nggak ada ngalamin pendarahan segala macem, itu boleh kok."


"Benar, Sayang?" Mata Davee berbinar mendengar penuturan istrinya.


"Iya, asal hati hati." Sahut Riana.


"Kalau begitu kita...." Davee sudah naik di atas tubuh Riana.


"Besok kamu kerja Mas, nanti kecapean lo."


"Nggak Riana, aku kuat kok. Besok kamu temenin aku ke kantor ya?"


"Serius Mas? Emang mau apa aku di sana?"


"Tentu saja untuk menjadi penyemangat ku."


"Lebay deh kamu, ya sudah deh."


"Ya sudah, kita mulai ya?"


"Iya tapi jangan kuat kuat.."


"Iya, pelan kok."


Percintaan pun terjadi. Namun kali ini Davee melakukannya dengan sedikit berbeda. Davee lebih banyak mengalah untuk tetap pelan bekerja di tubuh Riana.