Binar Mahligai

Binar Mahligai
Chapter 42



Davee cepat cepat membenarkan posisinya, ia meraih selimut dan menutup tubuh bugil Riana.


"Maafin aku ya? Aku seharus bisa nahan nafsuku." Bisik Davee di telinga Riana.


"Ehm, iya." Jawab Riana lesu, bagaimana pun ia merasa malu kini tubuhnya sudah di sentuh Davee, ia sudah di buat Davee mengalami kenikmatan. Riana masih berdiam diri sambil menyenderkan punggungnya di tumpukan bantal. Riana menundukkan wajahnya dalam dalam, kesedihan yang tergambar disana terlukis di wajah manis Riana dan ada air yang ingin mengucur namun masih tertahan bendungan. Davee menatap Riana lalu mengelus kepala Riana dengan lembut.


"Maafin aku, kamu tenang aja. Sebagai ganti kerugian kamu ini, mulai sekarang aku akan berusaha jadi suami yang benar untuk kamu. Ya, walau perasaan ku belum bisa mencintai kamu tapi aku akan berusaha." Davee mengecup dahi Riana dengan lembut. Riana terheran dengan ucapan Davee.


"Lalu gimana dengan pacar Kaka itu?"


"Aku sudah memutuskan hubungan ku dengan dia. Ternyata selama ini dia cuma memanfaatkan ku, tepatnya memeras ku." Ujar Davee, Riana terlongong longong mendengarnya.


"Maksud Ka Davee?"


Cuss go flashback **


Setelah Davee selesai makan siang dengan Papa Santoso, Davee memutuskan untuk tidak pulang langsung ke rumahnya, namun Davee melajukan mobilnya ke sebuah cafe yang biasa ia kunjungi bersama Rani, Davee memasuki cafe itu sendirian tanpa membuat janji dengan siapapun di situ, termasuk juga dengan Rani. Davee tidak ada mengabari Rani bahwa ia akan ke situ. Bola mata Davee berputar mencari kursi kosong, tiba tiba bola mata itu berhenti bergerak ketika melihat rupanya Rani juga ada di sana. Davee 1 langkah maju ingin mendatangi Rani dengan bibir melengkung yang membentuk senyuman disana, namun seketika padam ketika Davee melihat ada kedatangan preman yang pernah menagih hutang Rani yang sudah dibayarkan Davee beberapa hari lalu. Davee tidak melanjutkan langkahnya dan memilih memperhatikan dengan tanpa di ketahui Rani dan ketiga preman itu. Davee memutuskan akan bertindak ketika Rani di sakiti oleh mereka. Namun Davee tidak melihat akan tanda tanda itu, malah yang ia lihat hanyalah tawa bahagia dari mereka semua, terlebih Rani. Davee mengerutkan dahinya, ia penasaran apa yang mereka bicarakan namun karena jaraknya cukup jauh Davee tidak dapat mendengarkan obrolan itu. Davee memainkan bola matanya lagi dan melihat ada bangku kosong yang sudah ditinggalkan seorang perempuan beberapa menit lalu, bangku itu ada di sebelah meja perkumpulan mereka. Davee memperdalam tundukannya dengan pura pura fokus pada handphone di tangannya dan berjalan ke arah bangku kosong itu. Davee duduk dengan posisi membelakangi mereka, namun suaranya sungguh jelas ketika ia ada di situ.


"Uang yang di bayar Davee waktu itu sudah hampir habis, kayanya kita harus membodohi dia lagi dengan cara yang sama." Ujar salah satu preman bersama Rani.


Tulilililit......Tulililitt.....


Nada dering handphone Davee terdengar keras hingga sampai ketelinga Rani dan ketiga preman. Rani memalingkan tubuhnya untuk mencari sumber suara itu, terlihat seorang laki laki duduk seorang diri membelakangi bangku yang didudukinya. Davee tersenyum sinis setelah mengetahui kebohongan Rani, ia membiarkan nada dering itu berbunyi sesaat lalu mengangkatnya.


"Halo Sayang?" Ujar Davee dan langsung membalikkan tubuhnya, tentu saja Rani dan ketiga preman itu panas dingin melihat seseorang di hadapan mereka.


"Sayang, ka, kamu ngapain di sini?" Tanya Rani gelagapan.


"Nggak, aku cuma pengen nikmatin minuman penghangat saja di sini." Davee terus memasang senyumnya seolah tidak memperdulikan apa yang telah diketahuinya.


"Sayang, em, soal mere..." Belum sempat Rani melanjutkan bicaranya Davee sudah mneguncinya dengan meletak jari telunjuknya di depan mulut Rani.


"Kamu nggak perlu repot repot ngejelasin itu semua, kita putus!" Ujar Davee lalu pergi meninggalkan Rani.


Flashback end