
Riana memandangi awan awan dengan nampak rahangnya menuaikan senyum, bahagianya memonopoli dirinya. Davee terus saja memperhatikan wajah istrinya yang terlihat manis bak madu dari lebah murni. Dengan intuisi Davee mengelus rambut Riana. Riana memalingkan wajahnya, memandangi wajah suaminya sesaat, lalu sibuk kembali melihat pemandangan di balik kaca jendela pesawat yang terbang membawa mereka.
"Kamu senang?" Tanya Davee lunak.
"Yaa, aku senang sekali. Terimakasih Mas.." Riana memeluk suaminya kemudian menambahkan ciuman di pipi Davee.
"Sama sama, jaga terus stamina mu. Kita akan membuat dede dengan sungguh sungguh di sana." Ujar Davee seraya masih mendekap Riana dalam dalam di dadanya. Riana melepaskan pelukannya dan sedikit mendongakkan kepalanya memandangi wajah Davee.
"Dasar mesum.." Riana memonyongkan bibirnya, membuat Davee bertambah gemas saja melihatnya. Davee mencium bibir Riana. Endra yang berada di kursi bersebelahan dengan Davee dan hanya dibatasi dengan jalan tengah kecil dalam pesawat, membuat nya berkemungkinan 99.9 persen tidak sengaja melihat adegan yang dimainkan oleh kedua suami istri muda itu. Endra dengan cepat memalingkan wajahnya dan berusaha semaksimal mungkin memperlihatkan bahwa dirinya tidak menyaksikan apa apa sebelumnya.
"Kalian berdua membuat ku rindu pada istri ku saja." Batin Endra.
Ya, Endra adalah seorang lelaki berumur sekitar 25 tahun ke atas, bisa dibilang tidak jauh lebih tua dari Davee. Dirinya masih berkepala dua dan jauh dari kata lansia. Endra baru saja menikah dua tahun lalu dan dari buah pernikahannya Endra dikaruniai satu orang putri yang baru berumur satu tahun. Endra di utus oleh Pak Santoso, karena Endra merupakan anak dari sahabatnya. Endra sudah bekerja di perusahan Davee sejak satu bulan lalu, dan selama itu juga Davee akui kerjanya sungguh telaten dan disiplin.
"Sekertaris Endra?" Panggil Davee.
"Iya Tuan?" Sahut Endra.
"Hotel dan sebagainya sudah bereskan?"
"Sudah Tuan, setelah ini akan ada yang menjemput kita di bandara lalu kemudian mengantarkan kita ke penginapan. Di penginapan akan di antarkan mobil untuk Tuan bawa pergi jalan jalan selama di sini. Saya sudah menyiapkannya seminggu lalu, Tuan." Jelas Endra.
"Kerja bagus.." Kata Davee lalu kembali memandangi wajah Riana yang kini sudah tertidur.
Endra tersenyum simpul melihat Tuannya yang sedang gila cinta itu.
***
Riana melemparkan tubuh di tempat tidur empuk bernuansa hijau. Ada rak buku berwarna hijau dan tersusun buku buku yang bersampul hijau. Semua benda di sana berwarna hijau. Endra mempersiapkan dengan sangat rapi sesuai permintaan Davee.
"Kamu suka?" Tanya Davee.
"Sangat suka, uhh aku ingin di sini terus." Sambil membalikkan tubuhnya bergaya tengkurap seolah sedang memeluk ranjang.
"Kalau ini apakah suka?"
Riana melirik ke arah Davee yang di tangannya ada boneka panda besar berwarna hijau muda. Riana dengan girang bangkit dari tidurannya dan cepat cepat mengambil boneka itu dari tangan Davee.
"Suka sekali, bonekanya lucu sekali.." Riana memeluk boneka pemberian Davee.
"Siapa namanya?" Tanya Davee.
"Mmm, Aku akan memberinya nama Baby Green. Ya, Baby Green."
"Sini boneka nya.." Davee mengambil boneka itu dari tangan Riana, dan kemudian meletakkannya pada sandaran ranjang. "Sekarang bermainlah dengan suami mu dulu." Ujar Davee seraya mencolek hidung Riana lalu kemudian mencium bibir Riana.
Permainan sudah akan dimulai, namun sepertinya belum saatnya terjadi jam ini. Suara ketukan terdengar dari balik pintu. Davee dengan segera memakai bajunya kembali lalu membuka pintu.
"Maaf Tuan, tas Tuan lupa saya berikan pada Tuan." Endra, ternyata yang datang adalah Endra.
"Oke baiklah, terimakasih."
"Sama sama Tuan, saya kembali ke kamar dulu. Silahkan panggil saya jika ada sesuatu yang Tuan ingin kan."
"Baiklah.." Davee menutup pintunya kembali.