Binar Mahligai

Binar Mahligai
Chapter 94



Davee dan Riana sudah kembali ke kamarnya dengan membawa wajah kecewa. Riana kecewa pada dirinya, karena ia belum bisa membuat Davee bahagia. Dilihatnya di pandangan mata Davee, terlihat Davee sangat bahagia ketika mendengar kata, anak.


"Sayang, maafin aku ya.." Kata Riana lunak.


"Riana, kamu nggak usah minta maaf. Dokter bilangkan rahim kamu sehat sehat saja. Kita hanya perlu menunggu beberapa saat lagi." Ujar Davee sembari memberi senyumannya untuk Riana. Davee kemudian memeluk erat Riana.


"Kalau gitu ayo kita bikin lagi?" Kata Riana mengajak, Davee terbelalak mendengarnya. Sejak kapan istrinya sudah bisa menggodanya seperti ini.


"Sayang, kamu sehat sehat aja kan?" Davee meletakkan telapak tangannya pada dahi Riana.


"Ih, sehatlah Mas." Riana mendorong tangan Davee. "Emang salah ya kalau aku pengen? Istri yang mengajak duluan itu ibadah lo Mas, aku mau dapat pahala banyak." Tambah Riana lagi.


"Bilang aja emang mau kan?"


"Hehehe, ya udah ayo loh.." Kata Riana sambil bergelayut di tangan Davee.


"Ya sudah, kamu ganti baju dulu."


"Nggak usah ganti baju lah Mas, tinggal lepas aja."


"Istri ku ini belajar dari mana sih, sungguh mengagumkan..." Batin Davee sembari menggeleng gelengkan kepalanya. Tentu saja perasaannya senang mendapati istrinya yang begitu manis menggodanya itu. Namun tetap saja ia masih penasaran. "Iya Sayang, tapi jawab dulu, kamu belajar dari siapa? Sekertaris Endra yang ngajarin? Berani berani nya dia. Aku harus memberinya pelajaran."


"Ih, Mas apaan sih. Tadi di perjalanan aku liat pasangan ciuman mesra, dan aku jadi pengen." Kata Riana sambil menunduk.


"Apa?!! Haha.. Sayang, berarti tadi selama perjalanan kamu pengen?" Tanya Davee sambil tertawa tawa.


"Iya.." Jawab Riana polos. "Aku udah nahan nahan buat nggak cium bibir Mas di dalam mobil." Lanjut Riana, Davee hampir terbahak bahak mendengar penuturan istrinya. Istrinya itu sungguh menggemaskan dengan kepolosannya.


"Ya sudah.." Davee kemudian mencium bibir ranum Riana, dan tentu saja adegan percintaan pun terjadi tanpa gangguan ketukan pintu kamar seperti sebelumnya.


***


Berbulan madu di Swedia membuat Riana kian bahagia setiap harinya. Menikmati kunjungan kunjungan ke beberapa pulau kecil yang menampakan kecantikan bahari yang sangat memanjakan mata ketika disaksikan secara langsung. Riana dan Davee sudah berkali kali menumpangi kapal ferry dari Stockholm untuk mampir di berbagai pulau kecil yang ingin mereka tuju. Eh, tunggu dulu. Endra bagaimana? Tentu saja ada Endra yang selalu ikut menemani dua insan ini berwisatawan. Endra mengawasi dan selalu siap siaga apa bila Tuan dan Nona membutuhkan sesuatu.


Mereka sudah menghabiskan waktu selama sepuluh hari di sana. Yang berarti di hari ke empat belas mereka sudah harus di Indonesia. Menikmati bulan madu sekaligus berwisata, sukses membuat Riana senang setiap harinya. Jadi mereka akan bersenang senang di kamar dan berwisata di luar pada waktu yang bersalang seling. Tepat seperti jadwal tertulis yang ada di isi laptop Endra. Mungkin yang sedikit ada kecacatan saat hari kedua saja, ketika Riana merengek ingin ke taman ibu kota Stockholm, pedahal di jadwal tertulis kegiatan di kamar.


***


"Davee, kapan kamu dan istri mu akan pulang?"


"Tiga hari lagi aku akan pulang Pah. Dan pas dihari ke empat belas aku sudah sampai di Indonesia. Ada apa, Pah?"


"Papah dan Mamah ingin ke rumah mu hari ini, Dav." Kata Papah.


"Tapi Davee dan Riana kan belum pulang Pah. Dan Papah sama Mamah ngapain?"


"Loh emangnya kami nggak boleh ke rumah anak sendiri?" Papah balik bertanya di dalam telepon.


"Ya, tentu saja boleh, Pah. Davee hanya penasaran saja."


"Papah sama Mamah jarang sekali ke sana karena sibuk kerja, sudah berbulan bulan nggak ke rumah mu, Papah ingin melihat keadaan rumah mu, Dav."


"Baiklah Pah, password rumah akan Davee kirim nanti ya?"


"Iya Dav, Papah tunggu."


"Oke, Pah."


Telepon dimatikan.


"Papah sama Mamah ingin ke rumah kita Mas?" Tanya Riana.


"Iya, Sayang. Katanya ingin melihat keadaan rumah kita."


"Oh ya sudah, nggak apa apa Sayang."


...........................................


Jangan lupa sempatkan like dan votenya, biar author semngat juga nulisnya. Klau like dan komentar nya berkurang Author juga kurang semangat ngelanjutin novelnya.


Semakin banyak like, vote, dan komentar author akan mengusahakan sekali menyempatkan waktu luang untuk