Binar Mahligai

Binar Mahligai
Chapter 15



20 menit kemudian mereka berempat sudah berada di parkiran butik mewah yang bernama Wini Butik. Riana tidak menyangka bahwa secepat ini dia mengunjungi tempat ini. Dulu Riana berkhayal akan mengunjungi tempat ini bersama calon suami yang di cintainya juga mencintainya. Tapi sekarang sedikitpun khayalan itu tidak berpihak padanya. Riana menatap gaun pengantin di sekelilingnya dengan mata berkaca kaca.


"Riana, kamu kenapa Sayang?" Mama Riana menghampiri Riana.


"Hah, e nggak apa apa Ma. tadi kelilipan hehhhee.. Ayo Ma kita pilih pilih, ini bagus Ma." Riana mengalihkan pertanyaan Mama Rahma dengan pura pura menyukai gaun di depannya. Mama Riana bingung melihat putrinya. Jelas saja Mama Rahma paham kesukaan anaknya, Riana tidak menyukai gaun yang berlengan model terompet seperti yang ditunjuk Riana barusan.


"Sejak kapan anak Mama suka gaun begini, setau Mama Riana paling nggak suka gaun model begini Sayang."


"E, sejak tadi Ma. Hahhaha.." Riana baru menyadari pilihannya tadi ia tersipu tidak tau bereaksi apalagi. Untung saja Mama Rahma tidak mengambil gaun itu lantaran Riana berkata menyukainya. Ia merasa gaun itu memamg tidak cocok dengan anak semata wayangnya itu.


"Davee, mengapa kita mengikuti anak dan ibu ini." Ujar Papa Darmawan yang segera merangkul bahu Davee untuk berpindah tempat dari situ. Mama Rahma yang mendengar ucapan suaminya hanya tertawa pelan.


***


"Pa, aku ke kamar duluan." Ucap Riana, Riana merasa sangat kelelahan karena seharian ia tidak bisa beristirahat. Memilih dan mencoba beberapa gaun itu sangat menyenangkan karena terlebih Riana seseorang yang suka dengan fashion. Namun tentu saja lelah Riana melanda jua. Belum lagi Riana, Davee, Mama Rahma dan Papa Darmawan juga harus mengunjungi beberapa tempat perlengkapan lainnya tadi.


Davee juga merasakan kelelehan tapi dia memilih untuk terlebih dahulu menemani Papa mertuanya itu. Dua hari menikah sudah membuat Davee sedikit dewasa menghadapi lawan bicaranya. Davee lumayan bisa beradabtasi dengan keluarga Riana.


Cekrekkk...


Tiba tiba muncul seorang Davee di tengah tengah pintu.


"Aaaaaa...." Riana berteriak sambil berusaha menutupi tubuh bugilnya. Davee cepat cepat menggapai Riana seraya menutup mulut Riana menggunakan tangannya. Ia tidak mau mertuanya atau pun orang yang ada di rumah itu mendengar teriakan Riana.


"Diam, Nih..." Davee memberikan selimut ke tangan Riana. Riana berusaha secepat mungkin menggulung tubuhnya dengan selimut itu. Wajah Riana sudah seperti kepiting rebus saja. Sangat merah karena menahan malu dan marah pada Davee yang tidak mengetuk pintu kamarnya.


"Lo kenapa sih tiba tiba ada di sini? Bisa nggak sih lo terapin sopan santun di diri lo!!" Riana memukul bahu Davee.


"Emang lo nggak pernah gitu sama gue. Barusan aja kemarin lo liat tubuh gue bersih tanpa sehelai kain pun."


Mendadak Riana tidak lagi mengeluarkan suara karena sadar ia pernah melakukan hal yang sama. Ia hanya mengerucutkan bibirnya. Sementara Davee bergegas ke kamar mandi untuk cepat membenarkan juniornya yang terasa sakit karena menegang melihat tubuh Riana yang mulus.