Binar Mahligai

Binar Mahligai
Chapter 64



Ditengah menaiki anak tangga Davee memandangi wajah Riana sambil tersenyum. Davee tidak tahan melihat wajah manis Riana hanya dijadikan sebagai pemandangannya saja, Davee lalu mendekatkan wajahnya mencium kening Riana.


"Mas Davee selalu saja menciumku." Ujar Riana setelahnya.


"Biarin.." Balas Davee sambil tersenyum.


Setelah sampai kamar, Davee menurunkan Riana. Riana melepaskan ransel hitamnya, kemudian berjalan ke arah ranjang lalu memainkan ponselnya. Davee melepaskan kancing kemejanya, bola mata Davee lalu berhenti pada Riana yang membelakanginta. Davee menatap Riana tajam, bola matanya hampir saja jatuh karena kelopak mata itu terlalu lebar membuka.


"Riana!!" Pekik Davee kemudian setengah berlari menuju tempat Riana berdiri. Riana hanya sempat memalingkan wajahnya, Davee sudah menggendongnya lagi. Riana mengerutkan dahinya, membentuk dahi yang begitu kusut melihat Davee yang bersikap demikian padanya.


"Mas, ada apa Mas?" Riana ikut panik di gendongan Davee.


"Riana, kamu berdarah. Kamu harus ku bawa ke rumah sakit." Riana mengerutkan dahi.


"Berdarah apanya, bahkan aku nggak merasakan sakit sama sekali. Hanya pinggang saja, astagaa!!!" Riana teringat, itu pasti ciri ciri datang bulan, dan pasti yang dilihat Davee adalah darah datang bulan.


Davee sudah selesai menurunkan Davee dari tangga rumahnya, Riana sedikit berontak ingin melepaskan diri dan ingin memberitahukan pada Davee.


"Kamu mau apa?"


"Mas, turun kan aku. Ini datang bulan, Mas." Davee lalu menghentikan langkahnya, dan mengernyitkan dahi.


"Datang bulan? Siapa bulan? Teman mu? Teman nggak akan membuat mu berdarah seperti ini."


"Astaga, bodoh sekali suami ku ini." Batin Riana mengumpat, "bukan Mas, sekarang turun kan aku dulu."


"Nggak mau, aku harus membawa ke rumah sakit."


"Ya sudah kalau gitu Mas nggak boleh cium aku lagi nanti." Ujar Riana memberi penekanan pada kata cium. Davee diam terlihat berpikir. "Mas, lepaskan aku, aku ini nggak kenapa kenapa. Pokoknya kalau Mas masih ingin membawa ku ke rumah sakit, Mas nggak boleh mencium ku lagi, masuk kamar ku lagi, apalagi ikut tidur bersamaku." Riana membuyarkan pikiran Davee dengan makin memperjelas kalimatnya agar Davee segera melepasknnya.


"Baiklah," Davee akhirnya menurunkan Riana dengan sangat pelan. Riana merenggangkan tulang tulangnya dengan cepat. Melihatnya Davee segera menahannya. "Riana hati hati, kamu sedang sakit. Jangan banyak bergerak seperti itu." Ungkap Davee lagi, Riana memandangi Davee lali terkekeh.


"Mas, ini darah menstruasi. Masa mas nggak tau. Ini kan ada dipelajaran sekolah."


"Menstruasi?" Davee terlihat seperti berpikir.


"Kamu lucu sekali, aku ini nggak apa apa Mas. Ini akan keluar setiap bulannya."


"Aku ingat sekarang, tapi mengapa sebanyak itu."


"Karena ini hari pertama, dan aku nggak menggunakan pembalut karena aku nggak tau akan kedatangan."


"Pembalut?"


"Tapi aku nggak yakin itu..." Riana berhenti memandangi wajah suami nya yang terlihat kusut akibat khawatir.


"Wajahnya seperti itu menjadi semakin tampan saja," Riana tersenyum ceria, lalu meletakkan kedua tanganya disetiap kanan kiri bahu Davee. Davee membelalakkan matanya melihat sikap istrinya, ditambah lagi senyuman Riana yang teramat manis merajalela memenuhi wajah Riana, Davee menelan ludah, tidak dapat berbicara lagi. "Aku nggak apa apa Mas. Dan aku lupa kalau aku nggak punya stok pembalut di sini. Aku ingin suami ku ini membelikannya." Riana lalu mencubit hidung Davee.


"Pembalut? Aku nggak tau itu."


"Aku nggak bisa kemana mana jika pembalut nggak ada."


"Kalau begitu biar ku suruh sekertaris ku saja membelinya." Davee lalu meraih ponsel dalam saku kemejanya.


"Wah gawat, aku hanya cukup malu pada Mas Davee. Aku nggak boleh mempermalukan diri ku lagi pada sekertaris Mas Davee." Riana memasang wajah khawatir. "Mas, jangan. Aku malu Mas." Riana ingin merebut ponsel Davee namun Davee tidak mau.


"Hallo, Nadila kamu cepatlah belikan pembalut sebanyak banyaknya dan antarkan ke rumahku. Aku akan mengirim alamatnya." Lalu menutup telepon.


"Untung saja sekertarisnya perempuan.." Riana mengelus dadanya, merasa lega.


***


Setelah mendengar perintah yang begitu mengejutkan itu, Nadila tersedak oleh makanannya sendiri. Namun ia tidak berani membantah dan langsung mengiyakan saja.


"Apa Tuan Davee akan bersedekah pembalut pada tetangga kompleknya?" Nadila bermonolog lalu meninggalkan restorannya setelah selesai melakukan pembayaran.


Nadila bersinggah pada supermarket yang ia temui, dan langsung memilij semua merk pembalut dan memborongnya.


"Aku akan merasa sakit hati jika Tuan Davee hanya memesan 1 pembalut, itu artinya ia memberikan pada wanita lain. Namun kalau banyak begini, Tuan Davee pasti ingin berbaik hati pada setiap wanita di kompleknya itu. Aku tidak perlu khawatir." Ujar Nadila berbicara sendiri sambil terus mengisi keranjang belanjaannya dengan pembalut.


***


"Sebentar lagi pembalut mu datang. Kita tunggu di luar saja." Ujar Davee lalu berjalan.


"Ya sudah," Riana mengikuti langkah Davee.


Davee duduk pada kursi rotan mewah, sedang Riana berdiri di samping Davee. Davee sudah berkali kali menyuruh Riana untuk duduk namun Riana tidak mau, dengan alasan darahnya akan menempel pada kursi.


20 menit kemudian, mobil Nadila sudah memasuki halaman rumah Davee. Nadila keluar dari mobilnya lalu membawa bungkusan besar berisi pembalut. Dan alangkah terkejutnya Nadila melihat wanita berseragam SMK yang berdiri di samping Davee. Namun Nadila berusaha menyembunyikan keterkejutannya itu.


Sedang Riana, terbelalak dengan apa yang di bawa Nadila.


"Mas, ini banyak sekali." Ujar Riana, Nadila semakin terkejut mendengar panggilan Riana.


"Apa perempuan ini adik Tuan?" Akhirnya Nadila tidak dapat menahan penasarannya lagi.