Binar Mahligai

Binar Mahligai
Chapter 59



Davee dan Riana sudah berada di atas ranjang milik Davee karena ranjang Riana kotor akibat ulahnya mereka tadi. Riana hangat dalam pelukan Davee. Sedari tadi Davee tidak ada bosannya mengguguri hujan ciuman di wajah Riana.


"Mas, cepat lah tidur. Jangan mencium ku terus."


"Aku akan berhenti mencium mu jika kamu mencium ku seperti ini."


"Hem, itu sama saja tau Davee Xhian. Aku ingin mengecek HP ku. Sudah pasti Davit menghubungiku, untung saja aku sudah mengalihkan ke mode senyap." Batin Riana. "Mas, aku lupa mengecek HP ku, pasti Amanda dan Linda sudah banyak memberi pesan padaku."


"Mengapa? Bukan kah besok kalian ketemu?"


"Mereka sangat tidak sabar ingin mendengar cerita perjalananku hari ini bersamamu."


"Benarkah? Kita video call saja mereka."


"Hah? Em, aku ambil HP dulu." Riana menuruni tempat tidur lalu menggeledah tasnya dan akhirnya menemukan apa yang di carinya. Dilihat ada 12 kali panggilan tak terjawab, tentu saja panggilan itu adalah dari Davit.


"Maaf Vit, malam ini aku sedang sibuk. Lain kali saja kamu menelpon ku."


Tidak menunggu banyak waktu balasan Davit sudah muncul dalam beberapa detik.


Davit : "Aku ingin bicara pada mu Riana."


"Tolonglah untuk mengerti, besok masih ada waktu."


Davit : "Baiklah, tapi besok jangan menolak untuk makan bersamaku di kantin sekolah."


"Baiklah Vit."


Riana menarik nafas lega, ia cepat cepat menghapus chattingannya dengan Davit. Lalu menyambungkan video call dengan kedua sahabatnya.


"Eh aku nggak mau nunjukin wajah Mas Davee, pakai baju dulu." Ujar Riana sebelum video callnya diangkat oleh Amanda dan Linda.


"Nggak mau, cepat lah kesamping ku."


"Nggak!" Riana mempertahankan kemauannya, dan demikian dengan Davee. Davee lalu menuruni ranjangnya dan menggendong Riana, di tengah tengah Davee sedang menggendong Riana, Amanda sudah berada di panggilan grup itu.


"Riana? Wah, kalian video call grup gini mau pamer saja ternyata ya."


"E, nggak nggak Man." Jawab Riana dengan cepat. "Mas ayolah turunkan!" Setelah tepat pada tempat tidur Riana tadi, Davee meletakkan Riana. Amanda tersenyum senyum, lalu Linda akhirnya sudah tersambung juga dan sempat menyaksikan sekilas kegiatan Davee.


"Sayang sekali lo nggak sempat menonton tontonan manis di layar HP lo, Lin." Ujar Amanda.


"Iya gua telat tapi gue masih sempatnya baper melihat Ka Davee meletakkan Riana di tempat tidur kok. Hehehe.." Mereka semua terkekeh, kecuali Riana. Riana menatap suaminya dan juga layar HP dengan wajah cemberut.


"Kalian apaan sih!"


"Riana, gimana jalan jalan lo hari ini? Dan hallo Ka Davee..." Linda melambai lambaikan tangannya.


"Dua-duanya.." Ujar Linda lagi. Riana memonyongkan bibirnya kesal.


"Eh lo berdua habis ngapain? Kok Ka Davee nggak pake baju sih?"


"Makanya kalian berdua buruan nikah." Ujar Davee menjawab.


"Gue sebenarnya mau nikah Ka, tapi bokap gue nggak ngijinin." Balas Amanda.


"Dan gue pengen nikahnya kaya lo berdua, pengen di jodohin sama cowok ganteng seperti Ka Davee." Imbuh Linda lagi, Davee terkekeh mendengarnya.


"Heh! Ada istrinya di sini lo muji muji laki gue ya. Gue labrak lo besok." Ujar Riana sambil tersenyum menahan tawa.


"Tenang aja Sayang, aku tetap cinta kamu kok." Ucap Davee lalu mengecup kening Riana. Linda dan Amanda langsung ternganga melihat ciuman Davee pada Riana. Sementara Riana, mendorong wajah Davee.


"Mingkem, iler lo berdua udah netes tuh." Kata Riana, spontan secara bersamaan Linda dan Amanda menggosok mulut mereka. Riana terbahak bahak melihat kedua sahabatnya yang mudah di bohongi olehnya.


"Dasar lo Ya, eh bikin dede bayi yang banyak ya. Gue suka anak kecil," kata Amanda.


"Ya udah lo nikah sana, atau suruh bokap nyokap lo bikin lagi. Haha.." Sahut Linda.


"Males banget, gua suka jadi anak terakhir."


"Sudah sudah, lo berdua dimanapun berada berantem mulu. Dan gue tutup VC nya ya? Gue ngantuk," Riana melambai lambaikan tangannya pada kamera.


"Ka Davee nya mana," mendengar Linda menyebut namanya, Davee yang tadi memainkan ponselnya langsung memunculkan diri pada kamera ponsel Riana lagi.


"Gue di sini,"


"Ka Davee, kita boleh main di tempat Kakak nggak?"


"Boleh kok, sekalian bersihin rumah gue."


"Nggak apa apa deh, asal ketemu Ka Davee."


"Haha, baiklah."


"Kalian godain suami gue mulu. Sudah ya, gue matiin. Dahh...."


Riana meletakkan ponselnya di sebelah bantalnya dan bersiap untuk tidur. Davee berhenti memainkan ponselnya dan langsung memeluk Riana. Pelukan itu bagai obat tidur bagi Riana, buktinya beberapa menit kemudian Riana sudah tertidur pulas diikuti dengan nafas khas tidur Davee juga.


*************************************


Riana masih ragu tentang perasaannya, setuju nggak jikalau Riana sudah menyadari perasaan dan menyatakannya juga pada Davee, novel ini tamat bagaimana? Atau sampai Davee dan Riana mempunyai banyak anak?