
"Sekolah lo gimana?" Tanya Davee yang masih mengunyah makanannya.
"Papa sudah meminta izin kepada wali kelas gue dalam waktu 10 hari dan sekarang masih tersisa 7 hari setelah hari ini."
"Dan teman teman lo apa sudah tau tentang pernikahan ini?"
"Belum gue kasih tau, tapi gue akan kasih tau Linda sama Amanda nanti setelah gue sekolah lagi. Gue nggak yakin mereka nggak curiga kalau gue selalu nggak mau nerima ajakan mereka yang nanti akan merengek buat main di rumah gue. Dan lo tenang aja, mereka bisa jaga rahasia kok. Gue udah kenal mereka sejak gue pertama kali mendaftarkan diri masuk di SMK Kalijingga."
"Bagus lah, gue nggak mau sampai ada yang tau hal ini. Yang ada gue akan malu semalu nya nikah sama anak ingusan kaya lo." Davee sinis menatap Riana. Riana memdadak berasa sangat susah menguyah makanannya. Ia sedih ternyata memang pernikahan ini benar benar hanya membuat masa depannya hancur. Sepertinya tidak perlu waktu lama dirinya akan menjadi janda muda yang di pandang rendah orang. Mata Riana berkaca kaca, namun Davee tidak memperdulikan itu malah dia melanjutkan bicaranya tanpa merasa bersalah sedikit pun. "Gue juga punya seseorang, gue nggak mau hubungan gue rusak karena lo ada dikehidupan gue." Davee menceritakan gadis yang beberapa bulan lalu menjadi kekasihnya yaitu Rani. Rani merupakan teman seangkatan Davee dulu ketika masih bersekolah di SMK Kalijingga hanya saja mereka berbeda jurusan. Kedua nya hanya saling kenal dan tidak saling sapa ketika masih bersekolah, dulu tapi entah bagaimana akhirnya mereka dekat dan berpacaran. Tapi sosok Davee tetap lah Davee yang dulu, Davee yang playboy. Ketika sudah bersama Rani dia masih mendekati banyak gadis lain tanpa Rani ketahui.
Riana kini tidak tahan menahan tangisnya lagi, bukan karena cemburu sama sekali bukan karena cemburu. Riana hanya kepikiran bagaiman masa depannya nanti. Bagaimana ia bisa leluasa berkarir dengan status janda lalu pembicaraan orang orang tentang dirinya nantinya. Riana sungguh tidak bisa membayangkan itu akan terjadi padanya. Air mata Riana seketika mengalir dengan di temani isak tangis pelan. Davee melihat ke arah Riana.
"Gue sedih kenapa masa depan gue benar benar suram. Pertama gua ngerasa orang yang benar benar kehilangan masa depan nikah semuda ini, apalagi dengan lo yang sama sekali nggak gue cintai. Ditambah lagi pada masanya nanti lo akan ceraiin gue dan gue akan jadi janda termuda, hikss..." Air mata Riana keluar lebih deras dari sebelumnya, isak tangisnya juga lebih sering terdengar. Davee merasa bahwa ini kesalahannya karena membicarakan hal yang membuat Riana menangis. Namun Davee terlalu besar gengsi untuk mengakui kesalahannya itu.
"Ya gue kan nggak bilang mau nyeraiin lo,"
"Jadi artinya sampai kita tua nanti lo nggak akan ceraiin gue?" Riana tidak tau apakah dia akan senang atau bahkan merasa tetap saja pernikahan ini buruk ketika Davee menjawab iya. Tapi Riana masih menunggu jawaban itu.
"Ya gue nggak yakin sih, secara gue sama sekali nggak cinta sama lo." Davee merasa ia tidak berperasaan berkata demikian tapi kata itu sudah terlanjur didengar oleh Riana. Riana susah payah menelan ludah. Pagi ini benar benar hatinya dibuat teriris oleh setiap perkataan Davee. Jawaban ini benar benar membuat Riana terus menangis bertambah deras dari sebelumnya. Bagaimana mungkin hidup Riana dibuat sulit dimasa depan nanti oleh Davee yang sekarang menjadi suaminya.