
"Ya ampun ni anak, ngambekkannya parah banget sih. Haduh gini ya rasanya punya istri." Gumam Davee sambil mengusap kasar wajahnya. Davee membalikkan badannya bersiap untuk meninggalkan Riana. Setelah 2 langkah kakinya bergerak Davee membalikkan badannya kembali dan segera mengangkat tubuh Riana. Ya, karena ia telah berubah pikiran. "Berat juga ni cewek, badan kecil tapi serasa ngangkat gajah betina." Batin Davee seraya menghela nafas.
Setelah sampai di ambang pintu Davee yang bersusah payah membawa tubuh Riana dan ingin segera membawanya masuk dalam kamar tiba tiba saja "Dughh" Kepala Riana terjeduk sisi pintu kamar.
"Aauuww," Riana bersuara namun tidak sama sekali membuka matanya. Sementara Davee menggembungkan pipinya berusaha menahan nafas agar Riana tidak terbangun. "Papa..." Riana memaparakan senyum manisnya tanpa membuka mata, lalu memeluk erat Davee.
"Hah? Papa? Sejak kapan gue jadi bapak bapak." Batin Davee sambil mengerutkan dahinya karena kesal. Davee kemudian meletakkan Riana pelan di ranjang putih miliknya lalu menyelimuti Riana sampai dengan batas perut Riana.
Davee merebahkan dirinya juga di sebelah Riana sambil membalik tubuhnya menghadap Riana.
"Maafin gue Riana. Lo tidur nyenyak ya." Davee menutup matanya.
***
Pukul 07.24, Riana terbangun. Lagi lagi tangan Davee kini melilit perutnya. Riana mencoba mengingat kejadian semalam.
"Perasaan gue di rumah Amanda," gumam Riana sambil memegang alisnya. "eh bukan gue marah sama Davee dan gue tidur di sofa." Riana melepaskan tangan Davee dan segera duduk. Bola matanya kini mengarah pada jam dinding yang sudah menunjukan jam setengah delapan. "Hah? Gue telattt..." Ujar Riana setengah berteriak, sambil meloncat dari tempat tidurnya. "Eh kan gue meliburkan diri di sekolah." Riana menggaruk garuk kepalanya. Sementara Davee sudah membuka matanya sedari Riana berteriak sambil meloncat tadi.
"Lo kenapa sih? Pagi pagi udah kaya orang gila?" Tanya Davee uring uringan.
"Nggak apa apa, gue kenapa bisa di sini dan tidur sama lo?"
"Lo tadi malam ngelindur dan jalan sendiri kesini sambil ngomong Davee gue kangen lo, gue mau tidur di sebelah lo." Davee merubah ekspresi dan gaya bicaranya menjadi seperti cewek.
Riana membelalakkan matanya. Lalu memukul mukul kepalanya dengan kedua tangannya kemudian melangkah pergi menuju kamar mandi. Davee cekikikan setelah Riana meninggalkannya.
" Oh my God, ini serius gue ngelindur kaya gitu. Ih malu maluin..." Riana bergumam sambil menjambak jambak rambutnya sendiri.
25menit berlalu Riana tidak juga keluar dari kamar mandi.
"Riana, lo ngapain sih? Lo nggak masak? Gue laper nih."
"Masak sendiri!" Ujar suara Riana di balik pintu kamar mandi yang terkunci dari dalam.
"Lo apaan sih di ciptain punya kelebihan bisa memasak enak dan lo ng..." Belum sempat Davee melanjutlan omelannya Riana sudah menyelanya.
"Terus kalau gue diam dari tadi lo bakal ngurung diri lo sepanjang hari gitu ya sampai lo di kerumbungi semut. Hah?"
"Ih, lo kenapa sih bawel banget kaya cewek. Cepet ambil handuk gue sekalian sikat gigi, shampoo, sabun muka, blablabla.."
"Ambil aja sendiri!" Balas Davee singkat.
"Ka Davee, please ambilin. Kuncinya kan lo yang megang."
"Oke, tapi ada syaratnya."
"Lebay banget sih."
"Ya udah kalau nggak mau, gue bakal tetap di sini biar lo nggak bisa keluar."
"Iya iya, apasih emang syaratnya?"
"Masakin gue,"
"Oke oke. Ambilin dulu sana."
"Iya.."
**Jika up nya terlalu lama, mungkin author akan memberitahu masalahnya di ig pribadi author @putrianiwiningsih. Atau mungkin author akan menunjukkan visual Davee di sana dalam beberapa waktu lagi.
Terimakasih yang terus menanti setiap chapter novel ini. Dukung novel ini dengan like, vote juga semangat kalian pada author
saat ini vote tertinggi dari pembaca novel Suamiku Mesum adalah Winda Cahyani. Terimakasih atas nama yang disebutkan**