
Riana terbangun lebih dulu, matanya terbelalak melihat Davee yang tidur sambil memeluknya dan tidak mengenakan sehelai benang pun di tubuhnya. Riana cepat cepat beranjak dari tempat tidurnya dan segera menutup tubuh Davee dengan selimut.
"Handuk yang tidak setia, mengapa kamu terlepas dari pinggangnya cunguk!" Gerutu Riana lirih sambil menarik handuk Davee dan menggantungnya pada rak gantungan. Riana melihat cahaya dicelah jendela yang tertutup tirai, lalu memutar pandangan lagi ke arah lain.
"Astaga!!" Mata Riana membulat melihat angka jam yang menunjukan pukul 08.06. "Tidaaaakkkk!!!!" Berteriak kencang, membuat Davee terkejut dan lalu duduk segera, membuka lebar matanya dan bertanya tanya apa yang terjadi pada Riana.
"Riana, ada apa?"
"Mas, aku telat. Sudah jam 8..."
"Kamu berteriak histeris sekali. Kalau begitu nggak usah sekolah." Davee membaringkan tubuhnya lagi.
"Mas enak banget ngomong gitu. Aku sebentar lagi ujian praktek nasional. Dan kamu kenapa sesantai itu? Kamu kan harus ke kantor."
"Hah!! Ya ampun aku lupa.." Davee akhirnya menyadari dirinya juga telat, ia duduk kembali.
"Rasain!!" Riana mencibir Davee. Davee meraih handphonenya dan memainkan jari nya di atas layar handphone.
"Hallo Nadila, urus semua pekerjaan di kantor. Aku akan telat hari ini ke kantor dan tugaskan Reno untuk ke sekolah Riana, minta lah ijin pada guru Riana. Hari ini ia tidak bisa masuk sekolah. Anggap saja hari ini perjuangan terakhir mu berada di perusahaan bersama penjaga penjaga tidak becus itu." Setelah selesai berbicara di telepon Davee mematikan sambungan teleponnya.
"Mas, apa Mas akan memecat sekertaris itu?"
"Mandilah, kita akan jalan jalan saja hari ini."
"Apa!!"
"Riana cepatlah, atau kamu ingin mandi bersama ku lagi?"
"E, nggak!" Menjawab dengan cepat lalu pergi keluar dari kamar Davee.
Riana meraih handuknya dan langsung memasukkan seluruh tubuhnya di bathub.
"Dia ingin mengajak ku kemana sih. Sudah telat begini, dan dia tenang tenang saja." Riana bermonolog.
Selesai mandi dan memilih baju, Riana memoles wajah dengan sedikit bedak dan blush on bewarna peach di pipinya, serta liptint bewarna orange yang sangat menyatu di bibirnya.
Saat Riana memperhatikan dirinya di pantulan cermin, Davee sudah berada di ambang pintu menatap Riana.
"Lama sekali, cepatlah!"
"Iya sebentar, kita ingin kemana sih?"
"Nanti juga tau," jawab Davee singkat.
"Susah ya tinggal bilang satu kata aja, pakai nunggu nanti." Gerutu Riana.
"Cepatlah, aku akan menunggu di mobil saja." Tanpa menunggu jawaban Riana, Davee sudah berbalik dan melangkah pergi. Riana berdesis kesal.
"Mati saja kau!!"
***
Di dalam mobil Riana hanya terus terusan memperhatikan pinggiran jalan lewat kaca jendela mobil. Davee juga tidak mengajaknya berbicara sedikit pun.
Setelah sampai pada tujuan, Davee membukakan pintu mobil untuk Riana. Riana tersenyum melihat suasana di sekitarnya, ternyata Davee membawanya ke suatu taman yang ramai dengan orang orang. Sudah lama ia tidak berada di keramaian seperti ini. Saat sedang asik melamun dan memperhatikan sekitar, Riana tersentak kaget saat tangannya di gandeng oleh Davee.
"Kita jalan kesana.." Ujar Davee sambil mengarahkan telunjuknya.
"Mas, tempat ini sangat ramai. Aku suka, tapi lebih suka tempat sunyi. Hehe.."
"Nanti kita akan ke tempat sunyi itu..." Jawab Davee.
Davee melepaskan pegangan tangannya, dan maju lebih jauh dari pada Riana. Lalu mengeluarkan handphonenya pada saku celana dan memotret Riana yang sedang berjalan ke arahnya.
"Manis sekali Nona..." Ujar Davee seraya mendekati Riana dan memegang tangan Riana kembali, Riana tersipu.