
50menit akhirnya berlalu, Riana sebenanya tidak tahan lagi berdiri selama itu, apalagi dibawah matahari yang sangat menyengat menusuk pori pori yang membuatnya terbuka. Entah sudah berapa kali Riana menyeka keringat di pelipisnya, yang membuatnya bertahan berdiri adalah karena Linda dan Amanda saja yang mengajaknya berbicara sedari 1 menit mereka mulai menjalanin hukuman.
Sedang Rika tidak henti hentinya mendesah lelah, juga dengan ke tiga sahabat karibnya yang bernama Firna, Endang, Annisa. Rika mengomel sepanjang jam berdetak, sesekali ia memandang ke arah Riana dengan kesal, ia berpikir Riana lah penyebab hukuman ini terjadi. Oh Omg Rika! Bukannya Rika yang dateng ke meja Riana juga teman temannya lalu menyiram kepala Riana dengan minumannya, bagaimana mungkin ia masih menyalahkan Riana atas hukuman ini.
"Kalian boleh masuk kelas." Ujar Bu Mega kepada mereka setelah se jam sudah berlalu.
"Baik bu," Jawab siswi begantian.
Setelah Bu Mega si guru killer enyah dari pandangan, Rika mendekati Riana.
"Kamun nggak akan bebas, setelah membuat ku dihukum seperti tadi. Liat saja, kamu akan tau akibatnya." Rika membisik kan ucapannya dengan lebih sedikit mendekat kan mulutnya pada telinga Riana lalu mempercepat langkahnya meninggalkan Riana dan diikuti ketiga temannya. Riana menyeringai sambil berdesis.
"Persetan dengan ucapanmu Rika, aku tidak peduli apa saja rencana mu untuk membalas dendam kepada ku." Gerutu Riana dalam hati.
"Riana, lo nggak apa apa kan? Tadi si manusia nggak waras iti bisikin apa sama lo?" Tanya Amanda yang berjalan di belakang Riana, kemudian maju ingin berjalan bersampingan dengan Riana juga diikuti oleh Linda.
"Tidak penting, itu hanya sampah busuk!" Riana menjawab dengan santai.
***
Davee melihat jam tangannya yang sudah menunjukkan jam 2, artinya Riana akan pulng 1 jam lagi. Namun pekerjaan Davee belum mengharuskan ia pulang secepat itu. Davee mendatangi Papa Santoso lalu menyampaikan maksudnya.
"Tentu saja Davee, atau kamu bisa menjempuntnya sekarang, Dav."
"Ah, tidak Pah. Aku masih harus menyelesaikan pekerjaanku."
"Baik lah Davee. Papah akan memerintah sopir untuk menjemput Riana setiap hari. Ia akan menjadi sopir pribadi untuk istrimu."
"Aku sangat berterimakasih, Pah." Davee menundukkan kepala sebagai bentuk terimakasihnya. Papa Santoso sedikit tertegun melihat sikap putranya yang sopan seperti itu.
"Tidak perlu sungkan, Dav."
" Baik Pah, sekarang aku akan melanjutkan pekerjaanku."
Davee meninggalkan ruangan Papa Santoso dan mulai melajutkan pekerjaannya lagi dengan fokus, ia tidak ingin mengecewakan Papa nya yang sudah memberinya tanggung jawab yang besar itu.
***
3 bulan berlalu, Davee menjalani pekerjaan dengan sangat baik. Kini Papa Santoso sudah berhenti menjabat di perusahaannya dan sepenuhnya perusahaan itu sudah di pimpin oleh Davee Xhuan Diansyah, putra kandungnya. Davee menggunakan sebagian gajih nya untuk keperluan rumah tangganya dan juga memberikan uang belanja untuk Riana.
Riana juga sudah menyelesaikan ujian tertulisnya di sekolah, sisa selangkah lagi Riana akan lulus dari sekolah. Riana sudah terbiasa dengan kehadiran Davee, dan artinya ia juga sudah menerima Davee sebagai suaminya walau keduanya masih belum mencinta, entah memang belum saling mencintai atau antara keduanya tidak sadar kalau mereka sudah jatuh di lubang cinta. Riana dan Davee masih tidur dengan terpisah kamar. Namun hubungan mereka baik, keduanya seperti sudah bersahabat.