Binar Mahligai

Binar Mahligai
Chapter 96



Sepulang dari dinner, Riana tiada hentinya bergelayut di tangan Davee. Bahkan di mobil sekalipun ia tetap melakukannya.


"Sayang, apa kamu sungguh nggak mau melepaskannya?"


"Nggak mau, aku nggak mau jauh satu meter pun dari Mas."


"Sayang, kita harus beres beres isi koper."


"Hem, baiklah.." Kata Riana bermalas malasan.


***


Jadwal kepulangan telah siap dan tersusun rapi. Kira kira dengan kecepatan penerbangan sembilan ratus kilo meter per jam, pesawat akan mendarat di Indonesia melalui waktu sekitar sebelas jam lebih. Riana duduk berdampingan dengan Davee dan Endra tepat di sebelah Davee.


"Mas, nanti kita boleh liburan lagi nggak?"


"Tentu, Sayang. Tapi bagaimana dengan bisnis make up yang dulu mau kamu capai?"


"Sepertinya setelah lulus sekolah aku mau di rumah dulu saja. Aku akan memikirkannya nanti masalah bisnis make up. Em, aku harus banyak istirahat supaya rahim ku sehat." Ujar Riana, Davee tersenyum ceria mendengarnya.


"Kamu sungguh ingin memberikan ku anak?" Tanya Davee.


"Tentu saja, aku ingin kamu bahagia. Aku ingin menciptakan banyak buah cinta di rumah kita."


"Yakin mau menciptakan buah cinta sendiri?"


"Ih, maksud ku menciptakannya dengan Mas." Kata Riana dengan wajah manyun, Davee terkekeh mendengarnya.


"Iya, Sayang. Kita akan memberikan cucu yang banyak untuk orang tua kita. Mereka pasti bahagia."


"Tentu.."


"Ya sudah, kamu tidur lah dulu."


"Baiklah Mas, minjam bahu mu ya?"


"Dengan senang hati.."


***


Sebelas jam bukan waktu yang sebentar jika harus duduk saja tanpa melakukan apa apa. Riana merasa punggungnya sudah sangat lelah. Sudah dua kali ia tertidur dan terbangun. Davee pun demikian. Tapi tidak dengab Endra, ia begitu kuat. Ia bahkan tidak menguap. Memang sekertaris sekaligus penjaga terbaik.


Akhir perjalanan berakhir, Riana sudah tidak tahan dengan kelelahannya. Ia ingin cepat sampai di rumahnya dan tidur di kasurnya.


"Sekertaris Endra, apa kah supir sudah ada yang di sini?"


"Sudah, Tuan. Dan itu mereka." Sambil menunjuk ke arah seorang laki laki setengah baya yang dikenalinya.


"Baiklah, Riana ayo kita ke sana?"


"Mas, gendong.."


"Oke.." Secepat petir menyambar, begitulah perumpamaannya. Davee segera menggendong Riana, Riana tidak memperdulikan orang orang sekitar yang memperhatikannya. Yang ia pikirkan adalah, ia sangat capek dan tidak mau berjalan sampai ia bertemu dengan kasurnya.


"Tuan, besok pagi orang tua Tuan dan Nona akan datang ke rumah Tuan." Kata Endra setelah di dalam mobil.


"Benarkah? Mengapa Papah tidak menelpon ku?"


"Soal itu saya tidak bertanya, Tuan. Tuan Besar ingin saya menyampaikan besok Tuan Muda dan Nona harus tetap menunggu di rumah saja dan tidak kemana mana."


"Aneh sekali, ada apa?" Batin Riana dan Davee berbarengan.


"Baiklah kalau begitu," sahut Davee.


***


Riana dan Davee sudah berada di kamarnya, mereka juga sudah segar karena baru saja diguyur air. Davee masih memikirkan mengapa orang tuanya tidak biasanya seperti ini. Dan ternyata Riana juga memikirkan hal demikian. Mereka sama sama duduk termenung di sisi ranjang.


"Sayang? Orang tua kita kenapa ya?" Akhirnya Riana membuka suara.


"Aku juga belum mengerti." Sahut Davee.


"Mas, jangan jangan.." Bersamaan dengan kata katanya yang terputus, muncul blingsatan yang menyelinap di wajah Riana.


"Jangan jangan apa, Riana?"


"Jangan jangan orang tua kita ingin menceraikan kita. Mas aku nggak mau pisah dari mu." Riana langsung mendekati Davee dan memeluk suaminya.


"Nggak mungkin Riana, nggak mungkin orang tua kita akan melakukan itu. Untuk apa mereka menikahkan kita kalau akhirnya kita dipisahkan."


"Siapa tau orang tua kita berantem dan mereka jadi ingin menceraikan kita."


"Iya Mas, ya sudah kita tidur sekarang."


"Kamu duluan saja, aku ingin membuka laptop sebentar untuk melihat perkembangan perusahaan."


"Baiklah, jangan malam malam tidurnya. Nggak baik untuk kesehatan." Kata Riana, sambil membaringkan tubuhnya serta menyelimuti tubuhnya dengan selimut.


"Iya, Sayang."


Tiga puluh menit berlalu, Riana sudah sangat nyenyak melewati mimpi mimpinya. Dan Davee sudah selesai memeriksa isi datanya. Davee memandangi wajah Riana, dipandangnya wajah cantik itu dengan lekat. Istri yang sangat dicintainya, sungguh tidak bisa ia bayangkan jika Riana pergi dari hidupnya. Ia teringat perkataan Riana tadi.


"Apakah benar orang tua kami akan menceraikan ku dan Riana. Tapi, itu nggak mungkin. Tapi, mungkin saja. Ah, apapun itu aku nggak akan mau berpisah dengan istri mungil ku ini." Batin Davee.


***


"Silahkan diminum Ma, Pa." Kata Riana sambil memberikan minuman kepada orang tua dan mertuanya. Kemudian Riana ikut duduk di sofa, di samping Davee.


"Kami sungguh kecewa dengan kalian!" Ujar Pak Susanto dengan menegaskan intonasi suaranya. Riana dan Davee saling bertukar pandang, sungguh tidak mengerti dengan adegan ini.


"Maksudnya Pah?" Tanya Davee.


"Kalian nggak usah berpura pura bahwa kalian bahagia dengan pernikahan ini." Lanjut Pak Sunsanto.


"Pah, Davee benar benar nggak mengerti apa maksudnya ini."


"Dengar Davee dan kamu, Riana. Kalian ternyata sudah membohongi kami sebagai orang tua kalian. Kalian ternyata membuat pernikahan ini seperti kawin kontrak. Kalian nggak saling mencintai kan? Kalian keterlaluan!" Tegas Pak Darmawan.


"Maaf Pa, Ma. Itu semua nggak benar, aku dan Riana saling mencintai. Dan aku nggak mau berpisah dengan Riana." Jawab Davee.


"Pa, Ma, tolong jangan ceraikan kami. Aku nggak mau kehilangan Mas Davee. Aku sangat mencintai Mas Davee."


"Drama apa ini? Kalian pasti mempunyai tujuan lain kan? Atau di dalam kontrak pernikahan kalian belum tiba saatnya untuk di selesaikan. Kaliam ingin menunggu waktu yang tepat kan?" Kata Pak Darmawan, yang membuat Davee dan Riana sungguh semakin tidak paham.


"Cukup Pa, kalian semua ini teracuni oleh apa? Nikah kontrak seperti apa yang kalian maksud? Kalian sudah menikahkan kami dengan paksa, dan apa sekarang setelah kami saling mencintai, kalian mau memisahkan kami secara paksa lagi?" Riana berusaha menahan air matanya.


"Sayang, sabarlah." Kata Davee sambil memegang bahu Riana. "Pah, sekarang tolong jelaskan mengapa kalian semua berpikir bahwa kami membohongi kalian?"


"Kemarin Mamah mengecek kamar kalian dan ternyata kalian selama ini pisah kamar." Ujar Bu Rita dengan wajah sedih.


"Mengapa kalian belum juga saling mencintai, Nak? Mengapa kalian membohongi kami?" Ucap Bu Rahma yang terdengar pilu.


"Uwekk,,Uwekk,," Tiba tiba Riana merasa perutnya mual, ia pun berlari ke wastafel di kamar mandi. Davee mengejar istrinya, diikuti dengan semua orang tua mereka.


"Riana, kamu nggak apa apa?" Tanya Davee.


"Mual, Mas." Ujar Riana.


"Kita ke rumah sakit sekarang." Ujar Davee.


"Davee, rumah sakit dari rumah mu itu lumayan jauh. Butuh waktu satu jam lebih, bagaimana kita ke puskesmas dekat rumah mu ini saja?"


"Uweekk, uwekk.." Riana mengeluarkan semua isi perutnya lagi.


"Baiklah, kita ke sana saja."


Davee dan Riana ikut di mobil Pak Darmawan dan Bu Rahma, sementara Pak Susanto dan Bu Rita mengikuti di belakang.


Riana sudah selesai diperiksa oleh dokter puskesmas laki laki yang kira kira berumur sekitar enam puluh tahun.


"Istri anda hamil.." Kata dokter itu.


"Hah?" Semua orang ternganga dan lalu akhirnya tertawa senang. Tapi tidak dengan dokter itu.


"Tapi..."


"Tapi apa Dokter?" Tanya Davee dengan wajah serius, begitu pun dengan semua orang lainnya.


"Istri anda mengalami hamil anggur, yaitu pembentukan ari ari yang abnormal saat kehamilan. Dari itu ini harus ditindak lanjuti dengan melakulan kuret." Jelas dokter


"Mas..." Ujar Riana yang sudah meneteskan air matanya, tangannya menggenggam baju Davee dengan erat.


"Bayarnya dengan saya saja Mas, semuanya terjamin murah dan beres." Kata dokter itu lagi.


"Nggak, kita harus pergi ke rumah sakit!" Ujar Davee dan langsung membawa Riana pergi. Orang tua mereka tidak berbicara apa apa selain hanya bisa mengikuti anak mereka. Ada perasaan malu disetiap perasaan mereka. Walaupun kenyataannya itu bukan kehamilan normal tapi tetap saja artinya rahim Riana telah dibuahi.


...............................................


Jangan lupa sempatkan like dan votenya, biar author semngat juga nulisnya. Klau like dan komentar nya berkurang Author juga kurang semangat ngelanjutin novelnya.


Semakin banyak like, vote, dan komentar author akan mengusahakan sekali menyempatkan waktu luang untuk menulis.