
"Amanda mana, Lin?" Tanya Riana
"Tadi pas gue berangkat dia masih di salon."
"Oh, mungkin bentar lagi."
"Orang tua lo mana? Dan suami lo mana?"
"Orang tua gue udah di perkumpulan kaum mereka lah."
"Oh iya yah. Haha..."
"Dan suami gue lagi di rumah mungkin."
"Kok mungkin sih? Kaya nggak yakin gitu. Aneh banget lo."
"Ih udah lah, nggak usah dipikirin. Kita ke sana, yuk?"
***
Sampai dipertengahan acara, hampir semua siswa siswi memanggil nama Riana untuk naik di atas panggung. Ya karena memang Riana ini terkenal memiliki suara yang adem parah di sekolahnya.
"Setuju kan kalau kita suruh teman kita bernyanyi di atas panggung?" Tanya pembawa acara pada seluruh siswa.
"Setuju.." Jawab siswa siswi secara bersamaan.
"Oke, kita panggilkan Riana Putri Ningsih dari kelas dua belas agribisnis pengolahan..." Kata Pembawa acara lagi. Riana terbelalak, ini sangat mendadak. Bahkan sama sekali ia tidak latihan.
"Riana, cepet maju." Kata Amanda.
"Riana, Riana, Riana..." Sorak orang orang sambil bertepuk tangan. Riana akhirnya maju juga.
"Terimakasih atas waktunya. Dalam kesempatan ini saya akan membawa kan lagu yang berjudul kangen."
🎼🎼🎼🎼🎼
Kuterima suratmu...🎵
T'lah kubaca dan aku mengerti🎵
Betapa merindunya dirimu🎵
Akan hadirnya diriku🎵
Didalam hari-harimu🎵
Bersama lagi🎵
Kau bertanya padaku🎵
Kapan aku akan kembali lagi🎵
Katamu kau tak kuasa... Melawan,🎵
Gejolak didalam dada🎵
Yang membara menahan rasa🎵
Pertemuan kita nanti...🎵
Saat kau ada disisiku🎵
Reff;
Semua kata rindumu semakin membuatku🎵
Tak berdaya... Menahan rasa ingin jumpa🎵
Percayalah padaku akupun rindu kamu🎵
Ku akan pulang... Melepas semua kerinduan?🎵
Kau tuliskan padaku🎵
Kata cinta... Yang manis dalam suratmu🎵
Kau katakan padaku... Saat ini,🎵
Ku ingin ada pelukmu🎵
Dan belai lembut kasihmu🎵
Tak akan kulupa selamanya?🎵
Saat bersama, dirimu?🎵
Reff;
Semua kata rindumu semakin membuatku🎵
Tak berdaya... Menahan rasa ingin jumpa🎵
Percayalah padaku akupun rindu kamu🎵
Ku akan pulang... Melepas semua kerinduan?🎵
Jangan katakan cinta...🎵
Menambah beban rasa🎵
Sudah simpan saja sedihmu itu...🎵
Ku akan datang 🎵
Tepuk tangan dan sorakan terdengar keras mengiringi langkah Riana yang turun dari panggung. Riana merasa debaran di hatinya berdegup kencang tidak stabil. Di pertengahan ia menyanyikan lagu tadi, matanya sudah menangkap sosok seseorang yang menjadi tokoh dalam lagunya. Davee yang duduk di sebelah Pak Darmawan dan tersenyum manis pada Riana. Setelah usai menyanyi Riana duduk di bangkunya kembali, di tengah Amanda dan Linda.
Amanda dan Linda menjadi bingung ketika melihat perubahan sikap sahabat mereka pasca turun dari panggung. Yang sebelumnya Riana terduduk tanpa senyuman, apa pun yang terjadi di depannya. Contohnya, walau ada beberapa drama komedi di atas panggung pun ia tetap tidak bergeming. Malah hanya menatap panggung dengan tatapan kosong. Beberapa kali Amanda dan Linda mengagetkannya. Namun kali ini Riana seperti berubah 180 derajat, bahkan saat pembacaan puisi yang membuat banyak orang menangis pun, termasuk Linda dan Amanda. Namun lain hal dengan Riana, ia tersenyum senyum bahagia saja. Amanda dan Linda saling bertukar tatapan setelah melihat Riana yang bersikap aneh.
Acara perpisahan hampir selesai. Sambut menyambut yang membuat lelah duduk, sudah habis. Tampil menampil bakat juga sudah usai. Sekarang adalah waktunya berfoto foto bersama teman, guru dan keluarga. Setelah berfoto dengan orang tuanya, Riana rupanya sudah dititipkan dengan Davee oleh Pak Darmawan untuk membawa Riana pulang nanti. Karena mereka akan pulang lebih dulu.
Davee menghampiri Riana yang sedang berkumpul dengan teman temannya.
"Riana?" Panggil Davee, Riana membalikkan badannya. Melihat Davee yang berdiri gagah di sana, ia langsung berlari dan kemudian menghamburkan pelukannya.
"Mas, aku kangen." Ujar Riana di dalam benaman dada Davee. Semua teman teman Riana terbelalak karena heran, kecuali Linda dan Amanda.
"Aku juga kangen kamu, Sayang." Sahut Davee lirih.
"Cieeee..." Ujar teman teman Riana secara bersamaan. Riana yang tersadar segera melepaskan pelukannya. Dan malu malu di depan teman temannya.
"Kak Davee emang pacaran sama Riana rupanya, aku kira dulu itu cuma gosip." Ujar Jia teman sekelas Riana.
"Bukan kok." Jawab Davee singkat.
"Terus?" Mereka tambah terheran.
"Riana istriku.." Kata Davee sambil merengkuh Riana dengan mesra. Semua orang yang mendengarnya semula tidak percaya tapi akhirnya setelah melihat kedekatan Davee dan Riana, mereka pun mau tidak mau mempercayainya. Belum lagi keterkejutan mereka bertambah setelah tau kalau Riana sedang hamil. Amanda dan Linda pun terkejut bukan kepalang.
*
Ketika Riana sedang mengambil makanan, Davee duduk seorang diri sambil menunggu istrinya.
"Kak Davee?"
Rika bersama teman temannya yang entah datang dari arah mana tiba tiba muncul di depan Davee. Davee menatap dingin ke arah mereka. Ia masih ingat kejadian dulu. Di mana mereka memperlakukan istrinya dengan kasar.
"Kakak, kok bisa di sini sih? Ih ganteng banget deh." Rika duduk di sebelah Davee. "Kok bisa ada di sini, Kak?"
"Nemenin istri gue." Ujar Davee cuek, Rika dan teman temannya tentu tidak percaya. Mereka mengira Davee hanya bergurau dengan menjawab asal asalan. Mereka bahkan tertawa tawa saja mendengar jawaban Davee itu.
"Iya, aku istrinya Kak Davee kan? Hehe.." Rika bergelayut di tangan Davee. Memang tidak punya malu sekali. Davee cepat cepat menepis tangan Rika. Merasa terganggu, Davee beranjak pergi meninggalkan kelompok Rika. Dan berniat mencari istrinya. Rika yang tidak mau kesempatan mendapatkan Davee terbuang begitu saja, ia dan teman temannya mengikuti Davee dengan tidak tau malunya berlenggak di belakang Davee yang terus berjalan.
***
Riana masih sibuk memilih menu yang bisa mengganjal perutnya dan juga Davee.
"Riana?" Panggil seseorang. Riana memalingkan wajahnya, mencari asal suara.
"Davit?" Ujar Riana.
"Iya, apa kabar?" Kata Davit seraya berjabat tangan dengan Riana.
"Baik kok, Vit. Kamu sendiri?"
"Baik. Kamu makin cantik saja."
"Terimakasih. Eh, ku dengar dari Amanda katanya kamu sudah punya pacar, ya?"
"Iya, Riana. Semenjak nomormu nggak bisa dihubungi lagi waktu itu, aku akhirnya sadar kalau kamu memang nggak mencintaiku. Aku nggak bisa memaksakan perasaanmu. Dan akhirnya aku memutuskan untuk move on dari mu."Jelas Davit, Riana merasa malu juga. Waktu itu memang mengganti nomornya agar Davit tidak bisa menghubunginya lagi.
"E, soal itu aku minta maaf, Vit."
"Ah, nggak apa apa kok. Aku malah berterimakasih padamu karena sudah menyadarkanku."
"Makasih, Vit."
"Oh iya, itu kok piringnya dua. Kamu makan dua porsi sekarang?" Tanya Davit. Riana tertawa renyah.
"Nggak, ini buat...."
"Riana?" Panggil Davee dari arah belakang, Riana memalingkan kepalanya.
"Mas?" Riana seketika menjadi gugup, ia takut Davee marah karena melihatnya bersama Davit. Davee mendekati Riana. Sedang Rika berhenti di tempatnya, memandang Adegan dengan wajah penuh kebencian.
"Kamu kok lama, Sayang? Oh, kamu lagi sama siapa? Halo, kenalin aku Davee." Kata Davee sambil menyodorkan tangannya untuk berjabat dengan Davit.
"Iya, Kak. Sudah tau kok. Kan dulu kita pernah satu tim main voli."
"Oh, ya? Aku sudah lupa. Oh kamu belum tau kan? Sebentar, Rika?" Davee memanggil Rika, Rika merasa girang namanya di panggil oleh Davee. Ia berlenggak dengan sok cantiknya mendekati Davee, tidak lupa diikuti oleh penguntit sohibnya. Sementara Riana sangat bingung melihat kelakuan suaminya.
"Kak Davee, pasti mau bilang kalau Kak Davee suka aku kan? Haha, sudah bisa ditebak deh. Tapi aku pura pura nggak tau aja nih." Kata Rika dengan nada suara yang dibuat buat.
"Jadi gini, aku mau bilang sama kalian semua. Aku ini ke sini karena nemenin istri tercinta aku, yaitu Riana." Kata Davee. Rika dan teman temannya yang tadinya tersenyum senyum seketika berubah masam. Riana kaget sekaligus senang. Dan Davit membelalakkan matanya, walau sebenarnya perasaanya sudah biasa saja dengan Riana. Ia tetap terkejut dengan apa yang didengarnya.