Binar Mahligai

Binar Mahligai
Chapter 19



"Hahaha, muka lo lucu juga kalau lagi nyari alasan kaya gitu." Riana menertawai Davee.


"Gue nggak nyari alasan, gue mau mandi." Davee meninggal Riana, sementara Riana terus saja menertawai Davee.


***


"Pagi Pa.." Sapa Riana ketika mereka menikmati sarapan pagi bersama.


"Pagi juga Sayang.." Balas Papa Darmawan.


"Davee kamu masih bingung pilih lauknya?" Tanya Mama Rahma ketika melihat Davee yang celingak celinguk melihat lihat makanan yang ada di meja makan.


"Hehe, iya Ma. Tapi sekarang aku sudah ketemu." Davee meraih capcay yang tadi dimasak oleh Riana. Riana mendelik melihat kegiatan Davee. Davee mengambil banyak sayuran capcay di piringnya, menjadi hampir setengah banyaknya nasi yang tadi ditakarnya sendiri.


"Wah, mentang mentang masakan istri." Ejek Mama Rahma.


"Hahaha, rupanya dari tadi Davee mencari cari masakan Riana toh." Lanjut Papa Darmawan lagi. Riana hanya melototi mereka bertiga sambil mengerucutkan bibirnya.


"Tadi Davee bilang masakan Ria ba...." Belum sempat Riana melanjutkan makannya Davee sudah memotong bicaranya.


"Iya Sayang, masakan kamu beneran baungett enaknya. Aku tergila gila sama masakan kamu ini." Davee menyubit kecil pipi Riana. Riana mengernyitkan dahinya.


"Riana awalnya tidak suka masak Dav, tapi setelah dia masuk SMK hampir setiap hari dia berada di dapur. Kami sampai di buat tidak bisa berdiri karena makan makanan Ria terus."


"Emm Riana masuk kejuruan apa Pa?" Tanya Davee yang membuat Papa Darmawan dan Mama Rahma bertatapan karena kebingungan.


"Kamu istrinya masa tidak tau Dav?" Tanya Papa Darmawan.


"E..." Davee menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Karena kami kan baru 2 hari menikah Pa.."


"Hah?" Papa Darmawan masih bingung dengan anak dengan menantunya itu.


"Auww,.."


"Kenapa Dav?" Tanya Papa Darmawan.


"Sayang, kamu nggak usah malu dong sama Mama Papa. Mama sama Papa kan juga pernah muda dan ngalamin masa pengantin baru kaya kita sekarang." Davee memberikan senyum nakalnya kepada Riana lalu mengedipkan matanya. Riana melototkan matanya melihat Davee demikian. Sementara Papa Darmawan dan Mama Rahma senyum senyum karena mengerti maksud Davee bahwa Riana yang telah membuat Davee kesakitan.


"Hahaha, kamu bisa aja Dav. Oh iya, Ria masuk jurusan Agribisnis Pengolahan Hasil Pertanian Dav. Itu sebenar pilihan Mama kamu dan Riana awalnya tidak mau tapi akhirnya masuk juga hingga jadi bisa masak seperti sekarang. Salah jurusan bukan berarti salah hidupkan." Jelas Papa Darmawan.


"Iya sih Pa." Davee segera teringat akan dirinya dulu yang bersikeras ingin masuk jurusan perkebunan karena mengikuti ajakan temannya dan sama sekali tidak mau mendengarkan perintah orang tuanya yang menyuruh Davee masuk dalam bidang komputer supaya ia dapat bekerja dan menggatikan Pak Santoso di kantornya. Ia juga menyadari perkataan Papa Darmawan mengenai salah jurusan bukan berarti salah hidup tapi keinginannya itu sangat jauh dari basic dan juga keinginan orang tuanya. "Dan sekarang gue bingung harus kerja bagaimana. Sedang gue nggak suka dan nggak ingin bekerja di bidang perkebunan." Batin Davee.


"Dav, Kamu kenapa melamun?" Tanya Mama Rahma.


"E, nggak apa apa Ma." Davee sadar dari lamuannya lalu meneruskan makannya.


***


Riana dan Davee seharian hanya berada di rumah.


"Bosen gue di rumah terus," Ujar Davee yang duduk bersender di susunan bantal. Sementara Riana sedang menyisir rambutnya di depan cermin.


"Kitakan nggak di bolehin Papa sama Mama keluar rumah, jadi sabar dulu. 1 hari lagi Lo udah bebas mau kemana aja."


"Lo kok pakai baju gitu lagi sih?" Davee baru saja melihat Riana yang memakai dress pendek lengan sejari yang berwarna kuning.


"Kan udah gue bilang piyama gue semua udah di rumah lo."


"Kan masih ada baju biasa lo."


_____________________________________________


pantengin kelanjutan memanasnya.