Binar Mahligai

Binar Mahligai
Chapter 67



Nadila tersenyum lalu melingkarkan kedua tangannya pada pinggang Davee, Dave yang sadar akan itu cepat cepat mendorong tubuh Nadila.


"Kamu awasi acara ini sampai selesai, dan juga jaga Riana. Pastikan nanti Riana mendengar sambutanku" Ujar Davee


"Baik Tuan," balas Nadila. Davee lalu pergi meninggalkan Nadila.


Disambutan terakhir pak Santoso memanggil nama Davee untuk berdiri di panggung. Davee beranjak dari tempat duduknya, di soroti berbagai kamera dari semua sudut.


"Selamat malam semua, terimakasih bla bla bla........ Perjuangan ini tidak luput karena dorongan dari Papah dan juga Mamah yang disana." Davee tersenyum pada Mama Rita yang kemudian juga membalas senyumnya. "Dan seseorang yang ku cintai, seorang wanita yang selalu menamani ku dalam 4 bulan ini."


Nadila yang mendengarnya seketika senyumnya sirna, Nadila berpikir ialah wanita yang dicintai Davee. Namun setelah mendengar waktu hubungan Davee bersama wanita yang belum ia ketahui orangnya itu, hatinya sangat teriris.


"Terimakasih istriku..." Imbuh Davee, Kata yang seakan menjadi petir yang membuat semua terkejut kecuali papah Santoso dan mama Rita yang hanya tersenyum mendengar penuturan putra mereka. lampu blitz kamera semakin bertambah mencilat, para dokumentasi tidak mau ketinggalan satu kalimat pun dari sambutan Davee itu. Sementara Nadila, tubuhnya bergetar. lalu tidak sengaja menjatuhkan gelas yang ada ditangannya.


prank...


Nadila cepat cepat berlutut untuk memunguti gelas gelas yang pecah berserakan. Air matanya mengalir membasahi pipinya.


"Nona. tidak apa apa Nona? Biar saya yang membersihkan." Kata salah seorang kasual wanita, lalu dengan cepat memunguti pecahan gelas.


"Oh iya terimakasih.." Nadila segera pergi dan mencari tempat duduk, ia tidak mungkin meninggalkan acara, bisa bisa jabatannya akan berakhir malam itu juga. Nadila terpaksa mendengar sambutan manis Davee lagi, manis untuk wanita yang mendengarnya namun pahit bagi Nadila.


"Aku sudah menikah dengannya sejak 4 bulan lalu, Namanya adalah Riana Putri Ningsih.."


"Astaga, mudah mudahan saja Nona Riana mendengar perkataan Tuan Davee." Nadila menelusuri meja meja yang dipenuhi dengan orang orang yang bersorak. Wajah Nadila semakin cemas karena tidak menemukan orang yang dicarinya. Nadila keluar dan menemukan penjaga Pan.


"Penjaga Pan, apa kalian melihat Nona Riana?"


"Nona Riana sudah pergi sekitar 20 menit yang lalu."


"Apa?? Mengapa kalian tidak menahannya? Dasar bodoh! Sekarang tunggu lah nasib kita yang akan sama sama dipecat dengan segera dari perusahaan ini." Wajah Nadila memerah karena menahan amarah, tangannya mengepal. Namun seketika ia teringat bahwa ini juga kesalahannya yang meninggalkan Riana. Nadila pergi ke dalam lagi, dengan usaha penuh ia menahan air matanya.


"Sekertaris Nadila, anda dicari oleh Tuan Davee." Ucap seorang staff kepada Nadila. Wajah Nadila pias, ia tersenyum getir kepada staff.


"Dimana Tuan?"


"Dibelakang panggung, apa mau saya antar?"


"Tidak usah, saya akan kesana sendiri."


"Baiklah."


Nadila sampai pada di mana tempat Davee dan orang tuanya berada.


"Permisi Tuan.." Nadila menundukkan kepalanya, jantungnya berdebar.