Binar Mahligai

Binar Mahligai
Chapter 32



Davee kembali dari kamar Riana dengan membawa banyak barang di kedua tangannya.


"Udah nih, buka aja kamar mandinya." Ujar Davee.


"Eh nggak, lo taroh aja di depan pintu ini terus lo pergi dari situ."


"Nggak mau, ini kamar gue terserah gue dong mau dimana aja menginjakkan kaki gue ini."


"Kalau gitu gue nggak jadi masak."


"Lo ge-er banget sih, gue nggak akan liatin lo kali. Gue udah pernah liat seluruh tubuh lo tanpa baju."


"Ih ngeselin," Riana membuka pintu kamar mandi dengan piyama yang sudah basah di lilitkan pada bagian dada dan celana yang di pakai asal asalan sehingga menampakkan gambarnya yang buram atau kata sederhananya adalah celana yang terbalik. Davee yang di atas ranjang sambil memainkan handphone melirik pada Riana yang ternganga setelah melihat barang barang yang di bawa oleh Davee tadi. Davee tersenyum puas.


"Ini, ya ampun lo ya." Riana berdecih kesal pada Davee. "Lo apa apain sih, ini sikat kamar mandi lo bawa juga kesini. Ih tadi gue cuma nyuruh lo bawa 6 barang aja kenapa jadi sampai numpuk gini sih." Riana menatap tajam kepada Davee. Davee terus saja memainkan handphone sambil tersenyum senyum. Riana membawa masuk barang yang ia butuhkan di kamar mandi lalu menutup kasar pintu kamar mandi.


15 menit berlalu, Riana akhirnya keluar dengan handuk hijau muda yang ia lilitkan di dadanya.


"Sudah mandinya?" Tanya Davee yang masih menatap handphone dan tanpa melirik Riana.


"Lo nggak punya mata gue udah handuk kan kaya gini." Jawab Riana ketus.


"Bukan nggak punya mata, tapi gue nggak niat buat ngelirik apa lagi liat lo dengan cara seksama."


"Ya bagus lah, gue juga nggak minta diliat sama lo. Yang ada nanti otak lo akan kotor setelah liat tubuh gue."


"Ular gue nggak selera liat lo." Ujar Davee sambil tersenyum sinis.


"Gue nggak peduli." Riana meninggalkan Davee dan pergi ke kamarnya yang berada di sebelah kamar Davee.


***


Riana sudah selesai berpakaian dan memakai skincarenya yang tidak akan pernah lupa dan luput setiap harinya. Ia keluar kamar dan menuju dapur.


Riana mengambil sayuran di dalam kulkas lalu mencuci dan memotongnya kemudian. Davee yang sudah kelaparan segera menyusul Riana di dapur.


"Mau masak apasih? Masih lama ya?"


"Bisa sabar nggak sih?! Gue juga lapar kali, lo duduk manis di situ aja masih aja ngoceh terus." Riana memotong dengan cepat karena kesal kepada Davee. Dan... "Aduh," jari telunjuk Riana terkena goresan pisau sehingga mengeluarkan darah. Davee sentak langsung menutupi jari Riana yang terluka dengan bajunya karena dia kesulitan mencari tissue atau kain di sekelilingnya.


"Lo nggak apa apa kan?" Davee membuka baju yang ia selimutkan pada luka Riana lalu menghisap jari Riana sebagai pertolongan pertamanya. Riana hanya terdiam melihat perlakuan Davee kepadanya. "Lo duduk sini." Davee menarik kursi untuk Riana. Davee masih menghentikkan darah Riana yang keluar dan mengusapnya dengan baju putihnya yang sudah terkena darah Riana sebelumnya.


"Fungsi dari menghisap luka itu apa sih Ka?" Tanya Riana.


"Menurut peneliti dari Belanda, kebiasaan mengisap darah pada jari ketika terluka itu bermanfaat, karena senyawa dalam air liur manusia yang fungsinya mempercepat penyembuhan luka pada bagian tubuh yang berdarah. Senyawa tersebut adalah histatin. Nah, histatin ini diyakini mampu membunuh bakteri dan menyembuhkan luka." Jelas Davee yang masih fokus dengan luka Riana. Riana mengangguk angguk pelan pelan.


 


\_


 


***Jika up nya terlalu lama, mungkin author akan memberitahu masalahnya di ig pribadi author @putrianiwiningsih. Atau mungkin author akan menunjukkan visual Davee di sana dalam beberapa waktu lagi.


Terimakasih yang terus menanti setiap chapter novel ini. Dukung novel ini dengan like, vote juga semangat kalian pada author


saat ini vote tertinggi dari pembaca novel Suamiku Mesum adalah Winda Cahyani. Terimakasih atas nama yang disebutkan***