Binar Mahligai

Binar Mahligai
Chapter 97



Setelah menempuh kurang lebih satu jam perjalanan, mereka pun sampai di rumah sakit besar ibu kota. Sama seperti di puskesmas sebelumnya, Riana juga diperiksa, namun di sini lebih mendetail.


Kali ini yang diperbolehkan masuk hanya satu orang untuk menemani Riana. Davee segera menunjuk dirinya untuk menemani Riana serta mendengarkan penjelasan dokter setelahnya.


"Bagaimana Dok?" Tanya Davee yang begitu tidak sabar.


"Selamat ya, istri anda hamil. Kandungannya sehat." Kata dokter itu.


"Mas..." Riana bertukaran pandangan dengan Davee, wajahnya seketika menjadi cerah ceria kembali.


"Iya Sayang, akhirnya kamu hamil." Kata Davee kegirangan. Davee memeluk Riana dengan erat, tidak peduli dengan dokter yang gelisah karena mereka berpelukan dan juga bercupika cupiki tepat di depan dokter. "Lalu apakah mual pada istri saya itu normal, Dok?" Tanya Davee setelahnya.


"Apabila mengalami mual atau morning sickness, merupakan hal yang normal. Sekitar 75% ibu hamil mengalaminya dengan tingkat keparahan yang berbeda-beda. Kondisi ini sering di akibatkan karena adanya peningkatan kadar hormon, kehamilan kembar, dan rendahnya kadar gula darah. Meskipun menimbulkan ketidaknyamanan, umumnya mual dan muntah selama trimester pertama kehamilan tidak memiliki risiko kesehatan pada ibu dan janin. Sejumlah penelitian bahkan mengindikasikan bahwa kondisi ini merupakan tanda kehamilan yang sehat, dengan tingkat keguguran yang lebih rendah dibandingkan ibu hamil yang tidak mengalaminya." Jelas dokter panjang lebar.


"Baik Dokter, terimakasih banyak. Kami akan datang lagi untuk kontrol rutin kandungan istri saya." Ujar Davee.


"Baik, Pak. Di tunggu kedatangan selanjutnya. Makan makanan yang mengandung banyak vitamin B6, yang biasanya terdapat di sayur sayuran, buah buahan, biji bijian, ikan, ataupun susu ya." Ujar dokter seraya memberi senyum.


"Baik, Dok. Kalau begitu saya permisi." Ujar Davee seraya berjabat tangan.


Davee merangkul Riana hingga keluar ruangan.


"Bagaimana Davee?" Tanya Bu Rahma dengan wajah yang tidak tenang.


"Kandungan Riana sehat Ma. Tidak ada hamil anggur di rahim istri ku." Sahut Davee.


Semua orang tersenyum bahagia.


"Davee, maafkan kami. Tapi kalian masih berhutang penjelasan kepada kami." Ujar Pak Susanto.


"Baiklah, Pah. Akan kujelaskan dengan rinci nanti di rumah."


"Akhirnya kami punya cucu.." Kata Bu Rita bahagia.


"Akhirnya kita resmi jadi calon kakek dan nenek ya." Sahut Bu Rahma lagi.


"Davee dengar, kamu dan Riana harus memberikan kami banyak cucu. Kalian kan anak kami satu satunya, nggak ada lagi harapan untuk mendapatkan cucu kalau bukan dari kalian." Kata Pak Darmawan dengan senyuman lebar di bibirnya.


"Kalau itu tentu saja, Pa. Aku dan Riana akan membuatkan sepuluh anak untuk kalian. Hahaha.."


Semua orang tertawa mendengarnya.


***


"Oh iya, kita harus bikin perayaan malam ini atas kehamilan Riana." Ujar Bu Rahma.


"Bener sekali, Ma. Bagaimana kalau kita makan malam bersama di rumah Davee, namun kali ini laki laki yang harus memasak di dapur. Yang perempuan hanya membantu bantu sedikit sedikit saja. Dan ini bukan cuma acara masak masak, tapi kita anggap ini perlombaan. Siapa yang masakannya paling buruk akan kita ceburkan di kolam renang." Ujar Pak Darmawan memberi usul.


"Baik, siapa takut. Malam ini kita harus menang, Mah." Ujar Pak Susanto kepada istrinya.


"Aku pasti memenangkannya.." Kata Davee dengan nada sombong.


"Jangan sombong dulu Davee, Papa ini jago masak dari pada Mama lo." Ujar Pak Darmawan.


"Ih Papa, tetep Mama lah yang paling jago." Sahut Bu Rahma lagi dengan wajah sewot, orang orang pun tertawa mendengar perebutan keahlian dua pasangan itu.


"Tapi tunggu dulu, siapa yang akan menilai masakan kita Pa?" Tanya Riana, membuat semua orang terdiam karena berpikir keras. "Aha, Aku tau!" Riana mengacungkan tangannya.


"Siapa Riana?" Tanya semua berbarengan.


"Kompak sekali, hehe.." Riana tertawa melihat kekompakan keluarganya. Sementara semua orang ikut tertawa sebentar, lalu kemudian melanjutkan penasarannya lagi.


"Riana, lalu siapa jurinya?" Tanya Davee.


"Jurinya adalah Bi Muna."


Bi Muna yang berjalan sambil membawa nampan minuman di tangannya seketika tersedak mendengar namanya disebut.


"Nah, Bi Muna datang. Pas banget, sini Bi." Kata Riana pada Bi Muna.


"Iya Non.."


"Bi, Bibi akan jadi juri di rumah ini nanti malam. Eh tunggu dulu, semua setuju kan?" Tanya Riana pada keluarganya.


"Setuju.." Kata semua dengan berbarengan lagi, memang benar benar kompak.


"Sip.." Kata Riana.


"Juri apa ya Non?" Tanya Bi Muna yang belum paham akan tugasnya.


"Juri masak kita, anggap saja nanti malam Bibi akan jadi chef seperti di tv tv itu."


"Oh iya, baik Non." Kata Bi Muna seraya menunjukkan senyum lebar di wajahnya.