Binar Mahligai

Binar Mahligai
Chapter 89



"Sayang, ada apa?" Tanya Davee lunak sembari mendekati istrinya yang berbaring membelakanginya, Davee memegang pundak Riana.


"Nggak apa apa.." Jawab Riana ketus.


Tok,,,tok,,,


Davee sudah menduga itu adalah Endra yang membawakan makanan untuk mereka. Davee membuka pintu dan ternyata benar saja, Endra datang dengan beberapa bungkusan di tangannya.


"Selamat malam Tuan dan selamat menikmatinya." Ujar Endra setelah menyerahkan bungkusan itu pada Davee.


"Iya selamat malam, terimakasih Sekertaris. Kamu boleh pergi."


"Baik Tuan.."


Davee menutup pintu kamarnya kembali.


"Sayang, ayo bangunlah? Kita makan bersama."


"Mas saja.." Jawab Riana ketus.


"Riana, Sekertaris Endra sudah membelikan dua porsi untuk kita berdua."


"Kalau begitu, porsi untuk ku Mas makan saja."


Blingsatan Samar di wajah Davee mulai terlihat. Ia belum mengerti mengapa Riana demikian.


"Riana, sebenarnya apa yang terjadi?"


Riana sudah menyiapkan rencana untuk seharusnya bersikap biasa saja, tapi ternyata itu hanya menjadi wacana yang sia sia. Riana tidak dapat menahan emosinya, sehingga berpura pura tidak terjadi apa apa pun tidak bisa ia perankan.


"Aku nggak ingin makan Mas! Mas saja yang makan. Aku nggak laper...


Perut Riana mengeluar bunyi keroncongan. Riana menahan perutnya dan merasa malu. Kesalnya malah bertambah.


"Dasar perut gila! Nggak bisa diajak kompromi." Rutuk Riana dalam hati.


"Riana, jangan berdalih. Perut mu sudah mengatakan lapar. Sayang, ayolah.." Davee tidak menyerah mengajak Riana untuk makan, malah sekarang ia berusaha mendudukan Riana dari tidurannya.


"Aku benci sama Mas!!" Akhirnya keluar juga.. Riana beranjak dari tidurannya dan menatap Davee dengan tajam, setajam amarahnya. Davee menatap Riana dengan bingung.


"Riana, kalau begitu jelaskan apa yang terjadi?" Dasar Davee kelewat sabar, ia masih menanyakan dengan sangat lembut, tidak ada sepatah kalimat pun yang ia keluarkan dengan intonasi tinggi seperti halnya yang Riana lakukan padanya. Sebenarnya di lubuk hati terdalamnya Davee merasa dongkol juga, tapi sabarnya terlalu besar menguasai kendalinya.


"Mas masih sayang kan sama Rani? Dengan mantan Mas itu!!" Riana berusaha semaksimal mungkin menahan agar tidak menangis, mau bagaimana pun Riana tetap lah Riana. Seseorang yang mempunyai sifat yang gampang menangis. Tapi kali ini, harus mampu menahan air mata. Begitu pikir Riana.


"Maksud mu?" Tanya yang Davee belum mengerti juga.


"Mas jangan pura pura nggak tau deh. Jelas jelas Mas masih menyimpan foto Mas sama Rani. Berangkulan mesra seperti Romeo dan Juliet begitu." Kata Riana dengan nada mencemooh. Davee segera melirik ke arah dompetnya dan kemudian segera mengambil lalu memeriksa isi dompetnya itu. Davee menarik nafas berat, sebenarnya ia merasa bersalah tapi ia sungguh lupa perihal foto itu. Davee tidak mengingat bahwa masih menyimpan foto itu di dompetnya.


"Riana, maafkan aku. Tapi aku betul betul lupa bahwa masih ada foto ini di dompet ku. Aku membuka dompet hanya mengambil uang atau saat mengambil kartu kartu ku saja." Jelas Davee.


"Masa Mas nggak liat sih saat buka dompet ada foto itu di situ. Mas pasti masih sayang kan sama Rani." Ujar Riana dengan wajah kesalnya.


"Nggak Sayang, aku betul betul nggak sadar. Nih aku buka dompet kan seperti ini, mana bisa aku fokus melihat foto yang ada di samping sini." Ujar Davee sambil mempratekkan omongannya. Davee membuka dompetnya, menunjukkan bahwa ketika ia mengambil kartu atau uang, posisi dompet itu mengarah terbuka ke atas. Sedangkan foto itu ada di samping, dan jika ingin melihat foto itu, dompet itu harus ditelentangkan terlebih dahulu. Riana terdiam sesaat. "Kalau begitu, foto ini kita buang bersama sama ya." Davee lalu menarik foto itu dari dompetnya lalu kemudian merobek robeknya menjadi bagian bagian kecil. Kemudian ia berjalan ke arah tempat sampah lalu memasukkan sobekan kertas foto di dalamnya. Riana tidak cemberut lagi, tapi juga tidak tersenyum. Ia merasa malu karena salah paham pada suaminya.


Davee kemudian mendekati istrinya dan merengkuhnya dengan hangat, mencium pucuk kepala Riana.


"Maafkan keteledoran Mas ya Sayang, Mas hanya mencintai Riana, istriku.." Ujar Davee. Riana membalas pelukan suaminya.


.......................