
Setelah tiga jam Davee akhirnya bangun dari tidurnya, lalu bergegas untuk mencuci wajah di kamar mandi. Kemudian Davee membawa dirinya menuju ruang gym khusus miliknya. Ia menaiki sebuah Rowing Machine lalu medayungnya dengan cepat.
Entah sudah berapa puluhan kali ia mendorong kakinya dan menarik mesin itu dengan tangannya, yang jelas kini tubuhnya yang telanjang dada sudah penuh dengan keringat. Dengan pikiran kalut seperti ini, Davee pikir yang dilakukannya sekarang setidaknya dapat menenangkannya. Ia tidak mungkin bisa mengelak dari keputusan Papahnya itu, apalagi keputusan ini sudah dibuat juga bersama keluarga Pak Darmawan. Davee sekarang sudah menyerah. Sepertinya memang ini lah hukuman dirinya atas kesalahannya selama ini.
***
Tiga hari kemudian, acara akad Riana dan Davee tiba hari ini. Davee dan keluarganya datang terlebih dahulu di Gedung Bersama. Davee mengenakan Kemeja putih dengan jas abu abu juga setelan celana abu abu yang sangat pas dikenakan oleh Davee. Tidak lupa di saku jasnya terdapat potongan bunga kecil. Davee memasuki ruangan lalu kemudian duduk disebelah Pak Santoso.
"Mana mempelai wanitanya, Pak?" Tanya salah seorang tamu yang berada di kursi bagian depan.
"5 menit lagi mereka akan datang." Ujar Pak Santoso seraya melontarkan senyumnya.
"Semoga saja tidak datang." Batin Davee
Jam 07.02 kemudian mobil mewah berwarna abu memasuki parkiran Gedung Bersama. Pak Darmawan keluar dari mobilnya lalu disusul Bu Rahmah yang mengenakan baju couple dengn suaminya. Bu Rahmah kemudian membukakan pintu mobil untuk Riana yang sudah berdandan sangat cantik. Ia mengenakan gaun berwarna peach dengan banyak pernak pernik di bagian dada gaun itu. Roknya yang memiliki renda renda membaluti setengah kaki Riana yang mulus. Sangat menawan, apalagi ditambah mahkota perak yang ia gunakan di kepalanya. Semua mata kini tertuju padanya. Pak Darmawan ada di sisi kanan Riana kemudian Bu Rahmah berdiri di sebelah kiri Riana. Kini mereka sudah mulai memasuki gedung. Davee yang takut melihat calon istrinya hanya menundukkan kepala dan tidak ada sekali kali pun ia mengangkat kepalanya. Davee takut jikalau saja calon istrinya itu jelek dan sangat jelek, bagaimana mungkin dia dapat menerima istri yang sepanjang hari akan dia liatnya nanti berwajah tidak menyenangkan.
"Lo?" Ucap Riana dan Davee secara bersamaan. Mereka berdua membelakakan mata.
"Ma, aku nggak mau nikah sama dia, Ma." Riana tiba tiba saja merengek setelah tahu bahwa calon suami nya kini adalah Davee. Seorang yang sangat dia benci dalam hidupnya. Tentu saja mendengar ucapan Riana seperti itu, tamu juga penghulu menatap heran kearah mereka.
"Riana, diam!" Pak Darmawan berbisik tegas di telinga Riana. Riana kini pasrah lalu dia mengikuti perintah Papanya. Kini Riana berada di sebelah kiri Davee. Davee rasanya ingin berteriak setelah mengetahui calon istrinya. Namun dia juga tidak mau mempermalukan keluarganya. Dan Riana, ia sangat merasa gelisah duduk di samping Davee.
"Baiklah, kita akan mulai ijab kabulnya. Silahkan, Pak." Ujar Pak Santoso kepada penghulu.
\\\\\\\\\\_