
Melihat tangisan Riana yang terus menjadi jadi Davee bingung cara menghentikannya.
"Riana, maafin gue. gue nggak bermaksud gitu. Mending lo abisin makanan lo, abis itu tungguin gue mandi bentar gue akan segera siap siap buat ke rumah orang tua lo."
Riana menggangguk pelan, tangisannya sudah mulai mereda.
"Gue ke atas duluan," Ujar Davee sembari bergegas pergi dari kursinya. Riana menggosok air matanya yang masih tersisa. Sarapannya sudah tidak bisa di santapnya lagi. Semua kata kata Davee kepadanya membuat Riana merasa perutnya sudah kenyang. Ia membereskan dapur sebelum pergi ke kamarnya.
Di kamar Riana sudah merasa lebih baik dari sebelumnya. Ia berdandan tipis untuk kegiatannya hari ini, tidak lupa menggunakan liptint orenge di bibirnya. Memberikan sedikit blush on berwarna nudie brown. Riasan ini Sangat cocok dipadukan dengan dress pendeknya yang bewarna peach. Riana sekali lagi melihat dirinya di pantulan kaca. Merasa sudah selesai ia keluar kamarnya sembari membawa tas kecilnya yang berbentuk hati berwarna gold.
"Otak Mesum lo cepetan keluar.." Riana berdiri di depan pintu kamar Davee.
"Iya sebentar.. Lo tunggu di luar aja duluan. Gue nyusul." Dengan setengah berteriak Davee menjawabnya..
"Ih lo ngapain sih, ini udah jam 7. Lo dandan ya?!" Riana kesal karena dirinya yang harus menunggu. Riana yang berdandan dulu saja tetap bisa mendahului Davee.
"Gue sakit perut, lo bisa ngerti nggak sih!" .
"Mana bisa ngerti, lo aja baru bilang sekarang. Dasar aneh!!" Riana setengah berlari menuruni anak tangga meninggal Davee yang masih di kamarnya. 10 menit sudah Riana menunggu di ruang tengah, Riana memainkan handphonenya untuk menghilangkan kejenuhannya menunggu Davee. Setelah 5 menit kemudian Davee keluar mengenakan kemeja silver dan dasi polosnya. Riana melihat penampilan Davee sedikit terpana.
"Ganteng juga.." Batin Riana seraya memandangi Davee.
"E,,, nggak. Lo ngapain pakai kaya gituan. Formal banget rasanya. Untung gue pakai dress ini, jadi bisa nyeimbangin lo." Ucap Riana dengan muka tanpa ekspresi.
"Em karena gue akan ketemu orang tua lo. Jadi gue harus tampil kece, gue nggak mau Papa lo ngejek penampilan gue nanti."
"Ahaahha, segitunya. Ya udah ayo kita berangkat ke rumah Papa." Riana berjalan lebih dulu.
"Ayo..." Davee mengikuti dan membelokkan arahnya ke garasi. "Ayo naik.."
15 menit berlalu, tidak ada suara keduanya di dalam mobil itu. Davee enggan bicara takut kalau dia akan membuat Riana menangis lagi. Riana juga terlihat fokus dengan handphonenya.
Tutt,,, tuttttttttt..
Handphone Davee berdering dan di layar handphonenya terpampang nama Rani. Davee seketika memasang wajah gelisah lantaran dia lupa mengabari Rani bahwa hari ini dia tidak bisa bertemu Rani sesuai janji mereka semalam. Davee segera menjawab telpon itu.
"Halo Sayang..." Suara Rani di seberang telpon.
"Halo juga Sayang.." Jawab Davee, Riana yang mendengar panggilan itu segera melihat ke arah Davee dengan tatapan tajam. Davee yang menyadari tatapan Riana segera memperbaiki panggilannya. Davee tidak mau jikalau Riana tiba tiba menangis lagi dan apa jadinya jika sampai di rumah mertuanya nanti Davee membawa anak gadisnya menangis. "Eh Ran, maaf gue lupa ngabarin lo. kalau hari ini gue ada urusan mendadak. Jadi gue nggak bisa nepatin janji gue. Dilain waktu aja ya? Oh iya gue harus buru buru Ran. Udah dulu ya.." Davee segera mematikan telpon Rani. Riana sepertinya tidak memperdulikan obrolan Davee. Davee bersyukur karena itu artinya dia akan terlihat baik baik saja di depan orang tua Riana nanti.