
Keesokan harinya Davee ke kantor seperti biasa. Hanya saja kali ini wajahnya terlihat murung dan sama sekali tidak ada keceriaan.
"Tuan, ada beberapa berkas yang harus ditanda tangani." Ujar Endra selaku sekertaris.
Davee tetap diam seribu bahasa sambil menatap ke depan dengan tatapan kosong.
"Tuan?" Panggil Endra setelah lama menunggu respon Davee.
"Eh, Sekertaris Endra? Kapan datang?" Tanya Davee. Endra sedikit bingung dengan sikap Tuan Mudanya, setaunya Davee adalah orang yang memiliki ambisi kuat. Namun kali ini, jelas terlihat tidak ada semangat di dirinya.
"Dua menit yang lalu, Tuan."
"Oh, kalau begitu maafkan aku. Aku tidak mengetahu kedatanganmu. Ada apa kamu kemari?"
"Ada berkas yang harus Tuan tanda tangani." Ujar Endra sembari menyodorkan beberapa berkas di tangannya.
"Oh, kalau begitu letakkan lah di situ. Nanti akan ku tanda tangani."
"Baik, Tuan. Kalau begitu saya permisi."
"E, tunggu dulu."
"Iya, Tuan?"
"Tutup pintunya lalu duduklah di situ." Ujar Davee seraya menunjuk kursi yang berada di depan mejanya.
"Baik, Tuan." Jawab Endra, seraya melakukan perintah Davee. "Ada apa?" Tanya Endra pada batinnya.
"Sekertaris Endra, apakah istrimu pernah marah?"
"Pernah, Tuan."
"Apa permasalahannya?" Tanya Davee dengan wajah serius.
"E...." Endra bingung harus menjawab dengan kalimat apa. "Permasalahan dalam rumah tangga pasti selalu ada, Tuan. Mengapa harus ditanyakan sebab akibatnya. Jika aku menjawab dengan sejujurnya, kewibawaanku akan hilang di depanmu." Batin Endra.
"Tidak apa apa kalau tidak bisa dijawab. Pertanyaan lain saja. Bagaimana kamu meminta maaf pada istrimu?"
"E..."
"Kali ini kamu harus menjawabnya."
"Baik, Tuan. Biasanya aku akan menunggunya agak tenang dulu, baru mengajaknya berbicara baik baik."
"Haruskah begitu?"
"Iya, Tuan. Percuma Tuan meminta maaf berkali kali, jika emosinya masih menggebu gebu, wanita akan sulit menerima permintaan maaf laki laki."
"Lalu apa lagi?"
"Laki laki harus memahami perasaan pasangan terlebih dahulu. Sebab jika tidak, keegoan laki laki akan keluar. Wanita yang kecewa akan bersikap ketus dan jutek. Laki laki harus selalu mengerti itu. Ketiga, Wanita yang terlanjur sakit hati harus benar benar kita hormati. Jangan memotong kata katanya, apalagi meninggikan suara. Keempat, minta maafkan dengan tulus. Jangan pernah meminta maaf kepada wanita untuk hanya sekedar membela diri. Kelima, minta maaf langsung pada intinya. Keenam, katakan pada wanita bahwa kita masih mencintai dan menyayanginya. Ketujuh, buktikan dengan tindakan nyata. Berikan sesuatu terlebih dahulu, baru ucapkan maaf padanya."
"Oke, kalau begitu berikan catatan poin poin yang kamu sebutankan tadi."
"Baik, Tuan." Ujar Endra hanya bisa menuruti perintah Tuannya. "Kalau akhirnya harus dicatat di atas kertas juga, mengapa Tuan harus menyuruhku menjelaskan sekarang. Dan asal Tuan tau, ini bukan perusahaan cinta. Tuan - Tuan.." Batin Endra.
"Kalau begitu, kamu boleh pergi." Ujar Davee.
"Baik, Tuan."
Endra keluar dari ruangan.
Tulilit.....
Telepon meja berbunyi nyaring.
"Iya?"
"Tuan, ada seseorang bernama Rani ingin bertemu, Tuan." Ujar suara recepsionist di dalam telepon.
"Baik, Tuan."
*
"Davee, mengapa nomormu nggak bisa dihubungi? Aku khawatir tau. Untung saja kemarin kamu memberitahu alamat perusahaanmu ini." Ujar Rani dengan nada bermanja, seraya duduk di depan meja Davee.
"Maafkan aku Rani, HP-ku mati. Ada apa kamu ke sini?"
"Aku cuma ingin bertemu denganmu, dari kemarin aku menunggu kabar darimu. Tapi nomormu nggak bisa dihubungi juga. Ke kos aku yuk?" Ajak Rani kemudian.
"Maaf, Ran. Aku nggak bisa. Aku banyak pekerjaan hari ini."
"Sebentar saja, Dav." Ucap Rani seraya beranjak dari kursinya dan mengelilingi meja untuk mendekati Davee. Rani memegang bahu Davee, menundukkan kepalanya untuk mendekatkan wajahnya ke wajah Davee.
"Rani? Apa yang kamu lakukan?" Davee segera menjauhkan wajahnya, namun Rani menahan wajah Davee dengan tangannya.
"Aku kangen kamu ,Dav." Ujar Rani lirih dengan nada menggoda.
"Davee!" Tiba tiba saja Bu Rita datang dan berdiri di ambang pintu. Rani yang kaget segera melepaskan tangannya dan berdiri.
"Mah?" Ujar Davee kaget. Walau pun ia tidak melakukan sesuatu pada Rani, tapi pastilah Bu Rita akan salah paham melihat kejadian itu.
"Kalian keterlaluan!" Bentak Bu Rita.
Rani yang merasa bersalah menundukkan wajahnya dalam dalam. Ia sebenarnya ingin lari dari situ, namun ketakutannya lebih besar jika harus melewati Bu Rita.
"Mah, ini nggak seperti yang Mamah pikirin."
"Davee, Mamah tau kamu nggak mencintai Rani. Tapi dengan kamu membiarkan Rani menyentuhmu seperti tadi itu sudah keterlaluan. Dari sini kamu sudah harus menilai lebih bijak lagi. Bahwa memang nyata dan betul, Rani ini wanita yang nggak benar!" Tegas Bu Rita, Rani meneteskan air matanya mendengar ucapan Bu Rita yang menekankan suaranya saat menyebut Rani wanita yang tidak benar.
"Mah, sudah, Mah.." Ujar Davee.
"Nggak, Mamah nggak akan diam sebelum wanita ****** ini pergi dari hidupmu. Dengar Rani, sampai kapan pun saya nggak akan merelakan anak saya berpisah dengan istrinya karena kekejian kamu! Kalau kamu menderita sekarang, itu adalah karma di hidupmu, karena kamu sudah merusak kebahagian orang lain! Sakit hati yang kamu rasakan sekarang ini, sama sekali belum sebanding dengan rasa sakit yang dirasakan para istri yang kamu rebut kebahagiaannya." Tegas Bu Rita, membuat Rani tidak tahan lagi menahan kakinya berdiri. Ia berlari keluar dengan isakan tangisnya.
"Mah, maafkan aku.." Ujar Davee kemudian.
"Dav, jangan lemah dihadapan wanita lain. Kamu hanya boleh lemah pada istri dan orang tuamu. Itu pun jika keluargamu nggak berbuat macam macam." Ucap Bu Rita.
"Aku sadar aku salah, Mah. Aku sudah bersalah menyakiti Riana."
"Sudahlah, Dav. Kalau begitu, nanti malam kita kerumah orang tua istrimu saja."
"Beneran, Mah?"
"Iya, Papahmu lah yang menyuruh kamu ke sana. Mamah sudah menceritakan pada Papah lewat telepon tadi pagi."
"Baiklah, Mah."
***
Tiba, waktu yang membuat Davee ingin segera melewatinya, agar dirinya cepat bersama kembali dengan istrinya. Riana duduk di samping Bu Rahma dengan mata yang sembab. Sementara Davee duduk di samping Bu Rita.
"Sebagai orang tua kita hanya bisa memberi dukungan dan semangat, Bu." Ujar Pak Darmawan pada Bu Rita. "Dari itu keputusan tetap berada di tangan kedua anak kita." Lanjut Pak Darmawan.
"Iya, Pak. Saya mengerti maksud Bapak. Saya pun juga demikian. Dav, silahkan bicaralah pada Riana, Nak."
"Davee meminta maaf pada Papa dan Mama, karena Davee sudah menyakiti Riana dengan kesalahan Davee. Riana, aku sangat menyesal atas perbuatanku. Membuatmu kecewa sungguh bukan yang kuinginkan. Tapi karena kesalahan aku akhirnya membuatmu menangis dan marah padaku. Aku tetap ingin kamu ada di sisiku sepanjang hidupku, Riana." Ucap Davee seraya menatap Riana yang tertunduk.
"Aku minta maaf karena aku belum bisa memaafkanmu, Mas. Sepanjang waktu aku selalu berusaha untuk membuat hatiku nggak kecewa lagi. Tapi sayangnya, belum juga berhasil. Atas air mata yang selalu keluar dari mataku adalah bukti bahwa aku terus mencintaimu, semakin aku mengingat kesalahanmu, semakin sakit rasanya. Aku belum mau pulang ke rumah kita. Aku ingin Mas memiliki banyak waktu untuk merenungi kesalahan Mas, sehingga di lain waktu Mas nggak gampang melakukan kesalahan demikian lagi." Jelas Riana, air matanya sudah tidak bisa keluar lagi. Mungkin karena sudah terlalu banyak yang keluar.
🌹___________________________________🌹
Haloo..
Davee dan Riana, beserta Putriani Winingsih selaku penulis dari novel Binar Mahligai mengucapkan Selamat menunaikan ibadah puasa.
Jangan lupa dukung terus novel ini dengan like, tip, vote dan komentar kalian.. 🌹