Binar Mahligai

Binar Mahligai
Chapter 92



"Sayang?" Panggil Riana, ketika mereka di dalam mobil.


"Iya?" Sahut Davee.


"Love you..."


"Love you too.."


Akhirnya Riana punya letih juga ketika jam sudah menunjukkan pukul 15.26. Mengelilingi Kungsträdgården berjam jam membuat kakinya sedikit pegal, maklum lah di Indonesia jarang olahraga. Sementara Davee merasa senang akhirnya bisa berduaan di kamar mereka lagi sekarang.


Ketika sampai di kamar Riana membaringkan tubuhnya di tempat tidur, merentangkan kedua tangan dan kakinya, membentuk sebuah bintang besar. Davee tersenyum melihat istrinya yang kelelahan, sementara dirinya melepaskan pakaiannya sendiri.


"Mas, capek.." Kata Riana memelas.


"Besok mau jalan lagi nggak?" Tanya Davee dengan niatan menggoda istrinya.


"Nggak mau, maunya di sini aja seharian." Kata Riana dengan nada bermanja.


"Yuk kita mandi?" Ajak Davee.


"Gendong..." Ujar Riana sekali lagi bermanja pada suaminya. Davee pun menuruti kemauan istrinya, dalam hatinya sangat senang istrinya bersikap demikian.


Uwekk...


Tiba tiba saja Riana merasa perutnya mual. Untung saja, tidak ada isi perut yang sempat keluar. Davee pun menuruni istrinya, Riana langsung berlari ke water close. Davee memijat mijat punggung Riana.


"Sayang, aku pernah sesekali menonton kalau mual mual itu tandanya hamil, Sayang." Kata Davee, di wajahnya sudah nampak senyum cerah.


"Masa sih Mas?"


"Iya Sayang, kita harus ke dokter sekarang."


"Aku capek Mas, tapi penasaran juga. Gimana kalau beli test pack aja Mas."


"Test pack?" Davee mengerutkan dahinya.


Uwekkk...


Riana kembali merasa mual.


"Sayang, kamu nggak apa apa kan?"


"Iya Mas, dan Mas cepatlah belikan test pack untuk ku."


"Apa itu test pack?" Tanya Davee.


"Ih sebentar aku carikan gambarnya dulu." Riana mengambil handphonenya dan segera membuka internet untuk mencari gambar test pack. "Nih gini nih Mas.."


"Mas saja yang keluar.."


"Kenapa Riana?"


"Aku malu dengan Sekertaris Endra."


" Tapi, Sayang..."


"Mas, please..." Kata Riana memohon.


"Ah baiklah, kamu mandi lah duluan. Dan pakai lah lingerie yang paling seksi, aku mau nanti setelah kembali melihat mu memakainnya." Kata Davee, membuat Riana mendesis kesal.


"Dasar suami mesum, sana berangkat lah Mas.." Desak Riana.


"Iya Sayang, aku pakai baju dulu. Emang kamu rela tubuh ku dipandang ibu ibu Swedia?" Tanya Davee menggoda Riana.


"Ya nggak lah, maksud ku cepatlah pakai bajunya biar cepat perginya."


"Iya Bawel, ini pasti bawaan dede di perut ya.." Kata Davee sambil mengelus perut Riana.


***


20 menit kemudian Davee sampai pada apotek yang paling dekat dengan hotel. Davee mulai melihat lihat rak obat obat dan kemudian bola matanya berhenti pada sesuatu yang ia cari.


"Untung aku sudah melihat gambar bendanya di HP tadi. Aku jadi tidak usah bertanya tanya pada pegawainya. Aku memang suami idaman." Batin Davee sambil tersenyum.


"Ledsen, kan vi hjälpa dig?(Maaf, ada yang dapat kami bantu?" Tanya seorang pegawai apotek yang melihat Davee berdiri sambil cengar cengir saja tanpa bersuara.


"Oh sorry. Can you use English?"


"Of course, what drug are you looking for?"


"Emm, I want to buy that." Kata Davee sambil menunjuk kearah isi rak.


***


"Sayang, cepat lah gunakan test packnya. Sebenarnya aku sudah yakin kalau kamu hamil. Tapi senang ku akan bertambah dua kali lipat kalau aku melihat hasil tes nya sekarang dengan mu." Kata Davee sambil mengambil isi kantong plastiknya, Davee kemudian memberikan benda kecil yang dibelinya dari apotek tadi pada Riana, Riana mengambilnya dan.....


"Nggaaakkkkkk!!!"


................................................


Jangan lupa sempatkan like dan votenya, biar author semngat juga nulisnya. Klau like dan komentar nya berkurang Author juga kurang semangat ngelanjutin novelnya.


Semakin banyak like, vote, dan komentar author akan mengusahakan sekali menyempatkan waktu luang untuk menulis.