
"Ahahaha, nggak akan langsung terjadi kok. Ya kemungkinan kalau gue terus terusan pakai bra saat tidur efeknya akan datang setelah gue dewasa atau lansia jadi lo nggak akan sempat liat gue sakit kanker." Jelas Riana dengan santai.
"Kok gitu?" Davee mengernyitkan dahinya.
"Karena lo bakal ceraiin gue bahkan saat usia gue belum sempat dewasa nanti."
"Hahahaha, lo apaan sih. Jadi orang itu jangan cepat berkecil hati. Lo mana tau dimasa depan nanti."
"Maksudnya?"
"Tuhan punya rencana masing masing, siapa tau nanti kita bisa saling mencintai." Davee menjawab dengan santai. Riana mengernyitkan dahinya.
"Bagaimana dengan Rani pacar lo itu?"
"Gue akan tetap jalanin hubungan gue sama dia."
Riana menarik nafas dalam dalam, sembari menyandarkan tubuhnya.
"Lo apa punya pacar?" Tanya Davee.
"Nggak punya, gue nggak diijinin Papa buat pacaran. Dulu gue pernah nekat pacaran sama kaka kelas gue, dan itu angkatan lo. Tapi ntah bagaimana Papa tau hubungan gue sama cowok gue. Papa marah besar sampai sampai mau nampar wajah gue, untung lah waktu itu ada Mama yang nahan tangan Papa." Riana seketika melihat wajah Davee. "Gue udah nikah sama lo, itu berarti sekarang peraturan Papa sudah Papa alihkan sama lo. Gue boleh pacaran nggak?" Riana menatap Davee dan menunggu jawaban Davee dengan penuh harap.
"Emang lo punya calonnya?"
"Punya, Davit namanya seangkatan sama gue kejuruan otomotif. Dia udah ngedeketin gue 5 bulanan yang lalu, dan berkali kali nembak gue. Tapi gue selalu tolak dia... Dan sekarang karena lo ngijinin gue jadi gue udah bisa jadian sama dia. Horeyyyy..."
"Kapan gue bilang kalau gue ngijinin lo?"
Wajah Riana seketika beubah kecut. "Lo nggak boleh pacaran!"
"Lo egois banget sih, lo pacaran sama Rani terus kenapa lo nggak ngijinin gue pacaran juga."
"Hah?" Riana menjauhkan wajah Davee dengan tangannya. "Lo apa apaan sih.." Riana mengerucutkan bibirnya.
"Hahha, oh iya lo kenapa pakai baju kaya giniin sih. Lo sengaja mancing nafsu gue ya?!."
"Ih bukan gitu, baju tidur gue yang panjang semua sudah gue bawa ke rumah lo."
"Lo bikin junior gue berpanjangan bangun malam ini."
"Hah!!" Riana membelalakan matanya.
"Haha, lo biasa aja dong. Gue masih ingat peraturan kita kok."
Riana menarik nafas lega.
"Lo boleh tidur, gue udah ngerasa ngantuk nih. Lo masih mau di pijitin?"
"Mau, nih.." Riana menyodorkan kakinya ke atas paha Davee. Davee yang memijit kaki Riana yang mulus, hanya bisa menelan ludah. Dress yang Riana pakai makin tersingkap sehingga makin terpampang paha Riana. Riana memejamkan matanya sembari masih bersender di bantal yang ia susun 3, Riana sangat lelah sehingga ia merasakan sangat enak ketika dipijit Davee. Junior Davee menegang seiring Davee menelan air ludahnya beberapa kali. Kini tangan Davee beralih pada lutut Riana terus bergeser naik ke arah paha tertinggi Riana. Riana yang menyadari itu langsung membuka matanya.
"Hey, kamu mau ngapain?" Riana mengais tangan Davee yang ada di pahanya itu.
"Gue boleh minta nggak?"
"Minta apaan sih?"
"Minta itu,"
"Nggak jelas ih, gue tidur." Riana memberantakan susunan bantalnya dan menyisakan 1 bantal untuk menopang kepalanya ketika kini ia sudah rebahan. Davee memegang Juniornya yang terasa sakit.
"Lain kali lo jangan pakai baju kaya gini lagi." Ucap Davee lalu ikut merebahkan tubuhnya juga disebelah Riana.