
"Ya sudah deh nanti kita punya anak 1 dulu, kalau sudah agak besar baru bikin lagi.." Ucap Davee sambil tersenyum penuh makna.
"Iya Mas, itu baru bagus. Eh kok kita ngomongin ini sih? Kan aku belum lulus sekolah."
"Kalau kamu hamil juga nggak akan langsung besarkan perutnya. Jadi hamil sekarang juga nggak apa apa."
"Tapi Mas, nanti pas kumpul sama temen aku muntah muntah gimana?"
"Temen nongkrong kamu kan selalu Amanda sama Linda saja, mereka juga sudah tau kalau kamu sudah memiliki suami yang perkasa seperti aku ini."
"Astaga, punya suami pede amat.." Ujar Riana sambil memegang kepalanya, Davee terkekeh.
"Sayang, sudah kan makannya? Yuk kita ke kamar..." Ajak Davee setelah melihat piring Riana sudah kosong. Riana menggangguk lalu Davee menggendong Riana kembali.
Setelah sampai di kamar, Davee membaringkan Riana dengan hati hati. Kemudian mencium pucuk kepala Riana dengan lembut.
"Mas, aku mau mandi dulu ya.." Riana sudah menurunkan satu kakinya dari ranjang, namun Davee segera menahannya.
"Aku akan menggendong mu.." Lalu mengangkat tubuh Riana.
"Aku bisa jalan Mas, di kamar mandi pasti juga Mas Davee mengurung ku. Aku ini mengantuk, ingin cepat selesai mandi dan lalu tidur..."
Davee menurunkan Riana dalam bathup, dan menghidupkan kran air hangat yang meluncur pada bathup. Davee kemudian ikut mencemburkan diri pada bathup. Melepas pakaian Riana dan juga dirinya, dan kemudian menatap pemandangan di depannya yang begitu indah menurutnya itu, apalagi kalau bukan seluruh bagian tubuh Riana.
"Mas mesum!!" Ujar Riana lalu berusaha menutup tubuhnya dengan tangannya. Davee tersenyum, lalu memegang tangan Riana dan memeluk Riana.
"Aku mencintai mu, Riana," kata Davee lirih.
"Selalu saja ucapan itu keluar di kamar mandi. Kamar mandi ini memang begitu special, menjadi saksi bisu pernyataan cinta Davee. Eh stop! Kok gue jadi sok puitis gini. Tangan Mas Davee juga sekarang sudah nggak bisa diam. Dasar mesum!!"
"Riana?" Melepas pelukan.
"E, iya Mas?"
"Maafkan Mas ya.."
"Maaf kenapa Mas?"
"Lebih sering kan karena kesalahan ku Mas, aku gampang termakan emosi dan mudah percaya pada apa yang ku lihat tanpa ingin tau penjelasan nya terlebih dahulu.." Jelas Riana.
"Nggak apa apa kok.. Aku tetap mencintaimu.."
"Mas, kenapa nggak penasaran dengan perasaan ku?"
"Maksudnya?" Davee tidak mengerti maksud Riana.
"Mas nggak pernah menanyakan bagaimana perasaan ku pada Mas.."
"Wanita itu selalu ingin mendengar banyak pernyataan cinta, Semakin sering laki laki mengatakannya, wanita akan semakin senang. Ungkapan ini membuat wanita merasa benar-benar dicintai dan berarti. Sedang aku laki laki yang selalu ingin kamu di dekat ku saja. Hehe.."
"Ih dasar Mas gombal.."
"Aku nggak perlu mendengar pernyataan cinta mu, karena aku sudah tau kalau kamu mencintai ku."
"Pede banget, nggak tuh."
"Oh ya sudah kalau begitu aku salah, kemarin aku sudah memecat Nadila. Tapi sepertinya aku berubah pikiran, aku harus memperkejakannya lagi di perusahaan."
"Kenapa Mas menerima dia perusahaan lagi? Mas suka kan sama Nadila?"
"Sepertinya begitu.." Ujar Davee singkat. Riana merapatkan giginya kesal.
"Mas jahat!!" Riana berdiri dan ingin keluar dari bathup, namun Davee segera menarik tangan Riana dan mendudukkannya kembali.
"Ini lah yang ku maksud, ketika aku mengatakan kalau Nadila sudah ku pecat terlihat di sorot mata mu adanya sebuah kebahagiaan, tapi ketika aku mengatakan Nadila akan ku terima lagi sorot mata mu mengatakan ketidak sukaan. Aku nggak perlu pernyataan lagi Riana, aku sudah peka pada suasana hati mu." Davee tersenyum.
...............................................................
Author masih di kampung ya, dari itu upnya belum bisa lancar
.