Bastard's Shackles

Bastard's Shackles
99. Siapa yang Sebenarnya Meresahkan?



Langkah kaki Rich yang lebar sulit terkejar oleh Alda, sehingga ia kehilangan jejak Rich yang lenyap ditelan pembatas ruang di Anoola Castel.


Takut tersesat dan bingung mengamati luasnya istana megah itu, akhirnya menyeret lemas Alda lagi masuk ke dalam kamar.


“Rich, sebenarnya kau ke mana?” resah Alda berbaring di atas ranjang dengan hati tak tenang.


Sudah tengah hari, tapi suaminya belum juga kembali. Ponselnya  pun tak aktif, katanya sedang berada di luar jangkauan.


**


**


Merindukan bugatti centodieci berwarna putih miliknya yang lama mangkrak di garasi super large di kastilnya. Rich sejenak membawanya berkeliling, membelah jalanan Kinshasa siang itu menuju Sweedie  Bar.


Beda tujuan awalnya yang sebenarnya ingin mengajak Noah jalan-jalan, terhalang saat melihat putranya tidur pulas di kamarnya. Ia pun memutuskan keluar sendiri mengurai kusutnya benang di kepala.


Cittt ...


Pedal rem yang diinjak Rich nyaris tak berbunyi, kilau bugatti centodieci menelisik kagum beberapa pasang mata barkeeper  yang baru akan masuk ke sweedie bar.


"Bukankah bugatti itu biasanya digunakan Sir. Richard jika kemari? Apakah dia yang datang?" tebak seseorang yang baru menuruni tangga di dalam bar itu.


Demi menuntaskan keingintahuannya, ia mempercepat kakinya berjalan menuju luar dan ternyata dugaannya tak salah. Saat ia melihat sosoknya baru menutup mobil dengan perawakannya yang gagah membenahi blazzer coklat muda yang dikenakan.


"Sir. Richard.”


Mendengar sapaan itu Rich mengangkat wajahnya yang tampan, setelah menyisipkan kacamata hitam di kepala.


"Westin," sapa balik Rich dengan tersenyum simpul pada Manajer bar nya itu.


Tubuh Westin sedikit membungkuk hormat sebelum menjabat tangan sang owner sweedie bar. Diiringi balasan senyum hangatnya yang senang sekali bisa bertemu dengannya lagi.


"Apa kabar, Sir?"


"Well, seperti yang kau lihat. Bagaimana keadaan bar? Apakah pengunjung ramai?" tanya Rich sambil beriringan masuk untuk mengecek situasi di dalam.


Suasananya masih sama, tak ada yang berubah dari aksen dan isi bar itu. Hanya sedikit inventaris yang diubah, setelah penyerangan waktu lalu yang memporak-porandakannya hingga hancur.


"Bar tak pernah sepi, Sir. Semua berjalan baik semenjak dikelola Tn. Firheith."


"Syukurlah." 


Rich senang Firheith bisa diandalkan, ternyata ia tak salah mempercayakan bar ini padanya.


"Oia, Sir. Maafkan saya yang lupa ini." Westin menepuk keningnya, merasa bodoh. "Selamat atas pernikahan Anda dan Mrs. Alda, maaf saya terlambat memberi ucapan."


Rich tertawa rendah, seketika teringat sang istri di rumah yang tadinya ia lupakan.


"Tidak masalah, Westin. Terima kasih."


Westin mengangguk lalu bertanya apakah Rich akan lama di Kongo. Tapi Rich  beralasan sebentar, karena akan mengajak Noah liburan ke disney land dan pembahasan Westin yang bertanya seputar pernikahannya. Malah dialihkan Rich menceritakan soal Noah.


"Hebat sekali putra Anda, Sir. Saya jadi ingin bertemu Noah langsung," kata Westin yang mengernyit. Ia mencium aroma pertikaian dari hubungan sang Bos.


"Kapan-kapan jika ada waktu, aku akan memperkenalkan pewarisku itu padamu. Tapi aku tak janji."


Westin tersenyum, tak sabar menunggu waktu itu tiba. Penasaran sekali melihat wajah Noah hasil dari kawin silang, antara bosnya yang tampan mantan casanova itu dengan sang wanita pujaan.


"Oia, Sir. Tn. Firheith masih betah di Bali, apakah dia juga ikut bersama Anda pulang ke Kongo?" tanya Westin.


"Tidak. Fir masih ada urusan di Bali," jawab Rich singkat, tak mungkin dia mengobral masalah pribadi sang sahabat.


Karena antara ia dan Firheith, persahabatannya ibarat tutup dan botol. Jadi apa pun rahasia yang mereka miliki, tak akan pernah bocor atau pecah ke publik.


Westin manggut-manggut sambil menuang cocktail ke gelas Rich.


"Pasti Tn. Fir terjerat pesona putri Bali," celetuk Westin yang sudah tahu borok Ceo—nya itu.


"Haha, kau sok tahu sekali Westin!" Rich menepuk bahu Westin lumayan keras hingga pria itu berjingkat.


Westin nyengir dan Rich menyesap gelas berisi cocktailnya beberapa teguk lalu melihat jam di pergelangan tangan.


"Oke, karena ini sudah pukul enam sore dan bar akan segera buka. Aku mau pulang dulu," pamitnya pada Westin yang heran.


Rich kembali memasuki mobil Bugatti-nya di luar  setelah dibukakan oleh Westin.


Mungkinkah Rich sudah merubah gaya hidupnya jadi pria rumahan yang tunduk pada istri atau lebih disiplin waktu? Well, Westin berpikir ke arah sana.


"Um, tumben, Anda tidak di sini lebih lama, Sir?"


Rich yang memegang kemudi menoleh pada Westin yang wajahnya meringis itu.


"Apa aku perlu mencari hidangan di luar, kalau hidangan di rumah saja lebih menggoda dan membuatku selalu kenyang, Wes?"


Westin tersenyum, mengangguk dan memberi jempol pada sang Bos. Sebelum Rich melesat pergi mengendarai buggati-nya lagi.


...----------------...



Makan malam telah siap di meja makan, semua anggota menduduki kursinya masing-masing. Tapi belum dimulai karena menunggu Rich.


"Sayang, apakah Rich masih belum bisa dihubungi?" tanya Trecy pada sang menantu yang berkeliaran gelisah mengecek ponsel.


"I—iya mom." Alda menjawab terbata.


"Kebiasaan anak itu, pasti kalau ponselnya lowbat tidak di charge!" sahut Cal.


Noah yang sudah ngiler melihat hidangan lezat di meja, tak sengaja mengedarkan pandangan ke arah lift yang hampir terbuka.


"Itu papi sudah datang, Mi!" seru Noah menunjuk-nunjuk ke arah lift.


Alda mengangkat wajahnya tersenyum pada Rich dari jauh. Bersama Noah yang seketika berlari lalu melompat dalam gendongan Rich.


"Pi, dari tadi mami cemas menunggu papi pulang," lapor Noah.


"Aha?"


Sekilas Rich mengerling pada Alda yang melempar senyum, tak dibalasnya dan tak acuh. Justru meninggalkannya sendiri di belakang.


"Apa dia masih marah?" gumam Alda bersedih.


Noah yang memeluk leher Rich. Tidak sengaja memperhatikan wajah sang Mami yang tampak murung.


"Mami kenapa?" tanya Noah cemas. "Apa mami sakit?"


Alda terpaksa tersenyum demi menutupi hatinya yang carut marut.


"Tidak, Sayang. Mami hanya sedikit lelah saja," sangkalnya.


Suara serak Alda, menolehkan Rich seketika dan membuat mata keduanya bertautan, sebelum Rich membuang muka.


Noah dapat melihat mata Alda yang berkaca-kaca. Ia jadi berpikir, mami dan papinya sedang ribut seperti sinetron indosair yang ada di televisi itu. Lantas papinya digoda wanita lain lalu mereka berpisah.


Oh tidak, tidak.


Mata Noah melotot tajam dengan jantung berdetak cepat. Ini tak bisa dibiarkan, ia tak ingin punya Ibu tiri yang katanya kejam itu


"Kalau begitu, biar papi yang nanti memijat mami. Iya kan, Pi?" pinta Noah menyentak Rich dengan mata membulat.


"Pijat-pijat, Pi. Tidak usah kaget begitu?" ejek Noah yang memperagakan sedang memijat bahu Rich. "Seperti ini bisa, kan?"


Supaya putranya tak curiga kalau dirinya dan Alda sedang marahan. Terpaksa Rich mengiyakan permintaan Noah. Sementara Alda menahan senyum sambil membekap mulut ketika mendengar aksi Noah.


"Lalu, sebenarnya Papi dari mana saja, sih?" cerca Noah layaknya penyidik.


"Hmm ... tadi papi ada sedikit urusan, Sayang." Rich lalu mencium pipi Noah dengan gemas.


"Sedikit?" Noah mengerutkan kening tak setuju. "No. Menurutku itu lama!" protesnya.


Rich mendesahkan nafas panjang.


"Ya ampun! Papi hanya mampir ke tempat bisnis papi, Sayang—"


"Oh, syukurlah. Pokoknya mulai sekarang, papi tak boleh keluar lama-lama dan harus didampingi mami!" tekan Noah yang menjuruskan dua jarinya ke mata Rich.


Astaga!


Kini Rich merasa terancam. Alda telah mempunyai mata-mata sadis yang akan membuat dirinya tak berdaya. Tapi dia tetap tenang dan tertawa mengatasi anaknya itu sambil mendudukkannya di kursi makan.


"Nak, kau ini kenapa begitu posesif? Masa papi tak dibolehkan bekerja, lalu Noah mau makan pakai apa?" tanya Rich.


Dengan santainya, Noah menunjuk semua hidangan yang ada di meja makan. Sehingga sikap dan perkataan Noah itu, memancing reaksi Cal, Trecy dan Rukma.


Menatap heran pada sang cucu beserta anak menantunya. Namun, Trecy berfirasat jika terjadi sesuatu masalah antara Alda dan Rich yang sengaja ditutup-tutupi.


Hal itu terbukti, saat Alda yang melayani Rich saat makan. Mengambilkannya sesuai apa yang diminta Rich. Sayangnya sikap Rich terkesan dingin.


"Noah mau tambah lagi, Nak?" tawar Alda setelah menggeser segelas air untuknya minum.


"Cukup mami. Aku sudah kenyang."


Alda tersenyum pada Noah yang sopan dan hal itu membuat kedua mertuanya bangga. Karena sang menantu, berhasil mendidik cucunya dengan baik.


"Cucu grandma memang pintar!" puji Trecy.


"Terima kasih, grandma."


Sekarang giliran Alda menawarkan dessert puding buah sutra untuk Rich, sebagai pencuci mulut setelah makan.


"Boo, apa kau mau ini?"


"Tidak."


"Mau minum wine?" tawar Alda dengan lembut.


"Ada banyak maid di sini, Alda. Kau tak usah repot-repot melayaniku, duduk dan makanlah sendiri. Bersikaplah santai di rumahku, karena kau bukan pembantu di sini," ucap Rich tenang.


Entah kenapa? Justru seperti sindiran bagi Alda yang menusuk. Dari ketenangan gaya bicara Rich, dapat Alda rasakan. Jika masih tersisa banyak kemarahan untuknya, hingga dada wanita itu merasa sesak karena menahan air mata.


"Mom, Dad, Bu. Aku permisi ke kamar duluan mau beristirahat, selamat malam," pamit Rich terburu pergi.


"Selamat malam sayang!" sahut Trecy dan Cal.


Diringi senyum dari Rukma yang kemudian pamit juga untuk beristirahat. Sedangkan Cal pun mengajak Noah untuk bermain game playstation di ruang keluarga.


Hingga di meja makan hanya menyisakan Alda yang ingin membantu tugas maid, tapi segera dicegah Trecy.


"Jangan sayang! Biarkan maid saja."


"Betul kata Nyonya besar, Nyonya muda," balas maid pun sebenarnya ingin melarang tapi takut.


"Lebih baik ikut mom ke kamar, yuk! Mom punya sesuatu untukmu." Trecy menggandeng tangan Alda menuju ke kamarnya yang tak kalah mewah dari kamarnya dan Rich.


**


**


Trecy memberikan sebuah paper bag pada Alda. Berlogo brand ternama Carine Gilson paling nyentrik di sisi kemasan luar. Alda yang langsung tahu jika isi di dalam paper bag itu adalah lingerie dari desainer kenamaan Belgia.


Seketika mengundang tanyanya, "Mom, lingerie ini buat si—siapa?" gugup Alda.


Trecy membelai pipi Alda yang terasa dingin, tahu jika menantunya begitu malu.


"Bulan lalu mom sedang menemani perjalanan bisnis daddy-mu ke Belgia. Selain mommy membeli lingerie itu untuk mom sendiri, mom juga sekalian membelikannya untukmu dan Abelle."


"Ta—tapi ini sangat mahal, Mom. Apa tak sayang uangnya?" heran Alda yang tahu harga lingerie merek itu kisaran puluhan juta jika di rupiahkan.


Menurutnya buang-buang uang saja. Kalau hanya untuk sekedar membeli baju kurang bahan, yang berbahan sifon, satin dan berenda menerawang itu.


Apalagi suaminya yang suka tergesa kalau sedang mengajaknya bercinta. Kain itu pasti akan bernasib tragis, setelah dirobeknya paksa dan berakhir di tempat sampah.


Trecy tertawa lalu merangkul Alda kemudian berbisik, "pakailah lingerie itu untuk membujuk suamimu yang sedang ngambek. Tunjukan seni keindahan tubuhmu padanya, Mom yakin Rich akan tersengal-sengal olehmu?"


Mendengarnya Alda tersentak membulatkan mata. Ternyata mommy-nya ini tak hanya menguasai penampilan luar, tapi juga penampilan dalam.


"Te—terima kasih, Mom."


"Sekarang pergilah ke kamarmu. Jangan buat Rich menunggu terlalu lama sayang."


Alda yang menunduk lalu mengangguk kemudian pamit pergi. Setibanya di kamar, untungnya Rich belum tidur. Pria itu sibuk mengerjakan sesuatu di laptop, sehingga Alda yang masih diabaikan langsung menuju bathroom untuk mengenakan lingerie.


"Ya ampun! Aku seksi sekali!" terkejut Alda melihat tubuhnya dari pantulan cermin, seolah tak mengenakan apa pun meski terbalut lingerie warna merah itu.


Alda tersenyum yakin, jika suaminya pasti akan tergoda. Namun, siapa sangka ketika ia hendak keluar dari bathroom. Ia melihat Noah ada di sana. Sehingga ia cepat-cepat mengenakan sweater sepanjang mata kaki.


"Mami kok belum keluar dari bathroom sih, Pi? Apa jangan-jangan bukan BAB tapi diare?" terka Noah yang diberitahu oleh Rich, jika Alda sedang buang air besar.


Rich mengedikkan bahu. Alda muncul di tengah-tengah mereka berdua yang sempat dilirik oleh Rich, sebelum menjatuhkan fokus lagi di layar laptop.


"Siapa bilang mami diare, Sayang?" Alda mencubit pipi Noah sambil menggerakkan pundaknya yang kaku.


Hingga Noah teringat sesuatu yang harus secepatnya ditagih pada sang Papi.


"Oia, Pi. Katanya mau pijat mami?" todongnya sambil memainkan alis.


Manik hijau zamrud Rich membulat, janji itu membuat tubuhnya kaku dan belum sempat bersuara. Noah sudah menarik tangannya paksa dengan posisi duduk berdekatan dengan Alda. Begitupun Alda yang salah tingkah jantungnya bertalu-talu.


"Ayo pijat!" desak Noah.


"Hmm, iya." Rich mulai meletakkan kedua tangannya di bahu Alda, melakukan gerakan perlahan dengan terpaksa.


"Eh, kalau pijat itu. Paling enak sambil rebahan, Pi? Ayo mami tiduran dan papi duduk di sebelah mami!" perintah Noah yang tak bisa Rich tolak sama sekali.


Alda diam-diam tersenyum melihat tingkah lucu putranya. Sementara Rich mendengus kesal saat Alda yang menikmati pijatannya dengan mata terpejam.


Hingga pinggiran sweater yang dikenakan Alda terbuka lebar, karena gerakan pijatannya yang ekstrem. Tak sengaja memperlihatkan buah dada sang istri yang berhimpitan menantang itu. Bahkan Alda nyaris seolah tak mengenakan apa-apa.


Astaga!


Bola mata Rich melotot. Jakunnya pun turun naik, dengan nafas memburu cepat. Sulit melepaskan lepas jangkauan matanya dari gunung kembar itu yang memaksanya menelan ludah susah payah.


***


Hayo? Tebak, kira-kira tergoda nggak, ya? 🤧