Bastard's Shackles

Bastard's Shackles
55. Tidak Mampu Berucap Namun Tersimpan Di hati



Berita kesengsaraan Rich sampai juga ke telinga Cello. Dia mendengar kabar itu dari mata-matanya yang selama ini disuruhnya 24 jam penuh untuk mengawasi gerak-gerik Rich, tepat setelah Rich pergi meninggalkanya dan tak bisa dihubungi belakangan ini.


Cello benar-benar gelisah dan tak tenang. Kebetulan daddy-nya baru kembali dari Belanda lalu Cello mengadaukan itu padanya.


"Ayolah Dad! Daddy sayang, mau kan, membantu Rich?" Cello berikeras membujuknya setelah bercerita panjang lebar. Ia bahkan rela mogok makan, supaya Tuan Izakh mau menuruti kemauannya.


Tuan Izakh menghela nafas panjang sambil memegangi kepalanya yang tertunduk atas permintaan putrinya itu. Dia sebenarnya masih marah pada Rich, karena pria itu mencampakkan putrinya setelah mendapatkan apa yang diinginkan.


"Dia tak pantas untukmu, Sayang. Lupakanlah dia! Pria tak tahu balas budi!" geram Izakh menekan suaranya yang dadanya diliputi gemuruh panas saat ini.


"Tapi aku sangat mencintainya, Daddy? Please ... Rich hanya dibutakan oleh wanita sialan itu. Sekarang aku sudah memberinya perhitungan setimpal dan dengar-dengar wanita itu akan kembali ke negaranya," ungkap Cello meyakinkan.


Izakh masih diam. Cello merangkul lengannya dan terus memohon.


"Daddy ..."


Rangkulan Cello dilepas perlahan. Izakh berdiri membelakanginya sambil melipat tangan di dada. Izakh bukan tipe orang yang suka memaafkan. Sebagai mafia, itu bertentangan keras dengan prinsipnya. Namun, dia juga tak berdaya jika Cello terus mendesaknya begini.


"Itu karma untuk bajingan seperti dia, Sayang. Karena sudah kurang ajar berani mempermainkan kita. Harusnya Grosen membunuhnya sekalian!" ucap Izakh meninggikan suara kemudian berbalik badan.


Cello tak terima mendengarnya. "No, daddy! No! Rich tak boleh tiada. Kalau Rich tiada aku juga akan menyusulnya."


"Bicara apa kau Cello? Jangan sembarangan!" Izakh mengguncang bahu Cello, ketika dia melihat pelupuk mata putrinya memenuh dan rinai air matanya membasahi pipi. Dia pun menyekanya dengan lembut. "Hanya kau yang daddy punya di dunia ini, Sayang ..."


Cello terisak-isak setelah berhambur dipelukan Izakh.


"To ... Longlah Rich, Daddy ... Setidaknya kali ini saja ... Demi aku ...?" suara Cello memelan diiringi tangisan yang semakin deras.


Sesaat Izakh berperang melawan hatinya, walau ia merasa berat. Nyatanya ia pun mengiyakan permintaan Cello.


"Daddy akan menolongnya."


"Sungguh, Dad?" Cello bertanya dengan antusias mengangkat wajahnya ke hadapan Izakh yang mengangguk. "Oh! Terima kasih banyak daddy ku sayang. Terima kasih ... Terima kasih ... Aku sangat menyayangi Daddy."


...----------------...


Terduduk lemas seorang pria dengan setelan jas yang masih dikenakan. Bercak darah membekas di dalaman kemeja putihnya dan duduk seorang diri di depan ruang operasi. Menunggu sahabatnya berjuang antara hidup dan mati, hingga dia terkesiap setelah mendengar suara anak buahnya menyeru.


"Maaf, Senor. Ada yang ingin bertemu dengan Anda," kata anak buahnya melapor.


"Siapa?" tanyanya mendongakkan wajahnya yang kuyu.


"Aku."


Suara itu membuat Rich menoleh, setelah dari bawah dia memperhatikan bayangan besar si pemilik suara yang terkesan tak asing.


Rich menegapkan tubuh, manik hijau zamrudnya melebar dengan sekali tarikan nafas dia menjadi gugup. "Tu-tuan Moreno Izakh, Anda menemuiku langsung?"


Kemudian Rich membungkuk hormat sambil menelan ludah. Ia sudah seperti melihat setan dengan wajahnya kini berubah pias.


"Lebih tepatnya terpaksa menemui bajingan tengik!" ucap Izakh dengan muak. "Bangun!" suruhnya membentak.


Rich perlahan menaikkan pandangannya dan kini berganti dialah yang muak, karena melihat Cello tiba-tiba sudah berdiri di sebelah Izakh. Memandangi Rich penuh kerinduan lalu menubrukkan dirinya memeluk Rich.


"Baby, I miss you so much! Kemana saja kau selama ini, hum?" selanya mengatakan itu, Cello makin mempererat pelukan.


"Aku sibuk, Cello."


"Tapi kenapa sampai memblokir nomorku?" tanya Cello membuat Rich gelagapan saat mendapati tatapan sinis dari Izakh.


Dan Rich tak mampu menjawab. Kedatangan Cello dan Moreno Izakh bukannya membawa angin segar, malah semakin memperburuk suasana hati Rich. Sejujurnya ia tak ingin diganggu siapa pun untuk saat ini dengan peliknya masalah yang ia hadapi. Apalagi dokter juga belum keluar dari ruang operasi dan memberikan kabar tentang Firheith.


"Besok kita beli ponsel baru, ya. Aku akan membelikanmu seri Stuart Hughes iPhone 4s elite gold, supaya kembaran dengan Falcon Supernova iPhone 6 Pink Diamond milikku."


"Cello! Jangan terlalu memanjakan Rich!" tegur Izakh memprotes, seri iPhone Stuart Hughes itu saja berbalut 500 berlian dengan lebih 100 karat. Selain berpanel logo belakangnya yang dilapisi emas 24 karat dengan kisaran harga 130 milyar. Tentu saja Izakh tak rela uangnya dikeluarkan untuk pria semacam Rich yang dianggap tak tahu berterima kasih.


"Tuan Izakh benar, Cello. Aku bisa membelinya sendiri," nada Rich merendah.


"Ah, Daddy ... Rich jadi tak enak, kan? Sudahlah. Uang 130 milyar itu kecil untuk daddy. Biaya ke salonku seminggu sekali saja habis semilyar, daddy tak pernah memprotes?" Cello mengerucutkan bibir.


Izakh berdecak tak lagi ingin berdebat jika Cello sudah bersikukuh.


"Terserah kau saja Cello," Izakh melunak.


"Yeay!" Cello berseru bahagia, sementara wajah masam tergambar jelas di wajah tua Izakh.


"Bisa ikut denganku, Rich? Ada yang ingin aku bicarakan," potong Izakh berjalan lebih dulu tanpa menunggu Rich mengiyakan.


°°


°°


Di koridor rumah sakit lain, tepatnya di taman yang tampak sepi. Izakh memulai perbincangannya beberapa mata dengan Rich dan hanya berdua.


"Aku sudah mendengar semuanya tentangmu dan Grosen. Dia mengancam akan membunuh seluruh keluargamu jika kau tak cepat membunuh Cal," ucap Izakh sambil mengepulkan asap rokoknya.


Rich mengangguk. Entah kenapa hanya pada Izakh dia menggantungkan harapan besar.


"Bisakah Anda membantu saya sekali lagi, Tuan?" pinta Rich dengan duduk di bawah kakinya, menjatuhkan harga dirinya demi sebuah kebebasan. Apa saja dia lakukan untuk menyelamatkan keluarganya. Rich merasa belum bisa membalas budi baik kedua orang tuanya dan dia hanya bisa melakukan ini.


Grosen Kalnov sangat berbahaya, mata-matanya ada di mana-mana dan mungkin saja sedang mengawasinya sekarang.


Moreno Izakh mendekatkan bibirnya ke Rich sambil berbisik pelan. "Kau tahu apa yang harus kau lakukan supaya aku mau membantumu. Semuanya tidak ada yang gratis, lagi pula ini sudah waktunya kau menunaikan janjimu. Tapi jika kau berkhianat. Maka aku bisa lebih kejam dari Grosen Kalnov."


Tanpa ragu kemudian Rich mengangguk. "Saya siap Tuan Izakh. Satu bulan lagi, beri saya waktu."


"Seminggu dan kau tak bisa menawar-nawarnya lagi."


"Baiklah, Tuan." Rich berjanji.


Dan Izakh juga memenuhi janjinya. Atas segala kuasa dan kekuatan yang dimiliki, Grosen Kalnov pun tunduk padanya tak lagi berani mengusik Rich.


°°


°°


Seminggu berselang keadaan kembali normal. Rich sudah berhasil melewati terjalnya masa-mas sulit. Bisnisnya perlahan dibangun dan semua itu tak luput dari sokongan Moreno Izakh.


Congo Air lines landing siang itu pukul 13.00 waktu setempat. Rich baru saja turun dari pesawat dan menarik kopernya menuju pintu keluar. Tapi dia tak sengaja melihat sesosok wanita yang selama ini dihindarinya tengah berpapasan dengannya.


"Alda ..." kendati nama itu terucap, hanya bibir Rich saja yang bergerak tanpa suara.


Sedangkan Alda mematung menatap Rich sambil mengeratkan genggamannya pada gagang koper dengan mata berkaca-kaca. Dengan banyak ungkapan di hati yang ingin diutarakan, hendak menyapa tapi sungkan. Keduanya diserang canggung berlebih dan berdiam di tempatnya berdiri. Sebelum pandangan mereka terpecah oleh suara wanita lain, yang memanggil Rich dengan berlari.


"Baby, akhirnya kau kembali. Aku sangat merindukanmu!" Cello berseru memeluk Rich, menutupi pandangan Alda dengan tubuhnya. Mengajak Rich pergi dari hadapan Alda, tapi Rich diam-diam melirik Alda yang juga meliriknya dengan berurai air mata.


Rich bahkan terhenyak dengan nafas seketika tersumbat, saat mendengar seruan dari Eve yang menyuruh Alda untuk bergegas.


"Cepat masuk Alda! Pesawatmu ke Indonesia akan segera berangkat dua puluh menit lagi!"