Bastard's Shackles

Bastard's Shackles
44. Terjadi Lagi



"Rich, k-kau bisa berbahasa Indonesia dan bahasa Bali?"


"Semalam aku belajar dan menghafalkannya, meski lidahku agak keseleo." Rich terkekeh lalu bangun dan berpindah posisi ke belakang kursi lalu memeluknya. "Hanya demi kau Alda."


Alda tersenyum kemudian memuji. "Jujur aku sangat terkesan."


"Benarkah? Oh, terima kasih cintaku." Rich memandangi Alda yang juga sama dengan saling menyelami jauh hingga ke dasar hati. Rich terbuai mengamati bibir ranum Alda yang membuatnya gerah dan tak butuh waktu lama. Ia langsung menyambar bibir Alda dengan ciuman lembut.


"Tak enak dilihat orang, Sayang!" Alda berhasil melepas bibir Rich yang suka nyosor itu.


"Biarkan saja bunny, kau kekasihku jadi wajar saja kita berciuman." Rich menyepelekan, tidak Alda yang masih menganggapnya tabu.


Karena di negara Alda dibesarkan, berciuman di tempat umum tidaklah etis. Meski ia telah lama tinggal di luar negeri, secara tak sadar kebiasaan itu terbawa hingga kini.


"Ah, terserah. Kau memang bebal, Rich!" kesal Alda habis kata-kata.


"Bunny, jangan marah?" bujuknya.


Alda memunggungi Rich, Rich menggaruk rambutnya yang tak gatal sambil mendesahkan nafas panjang. Heran melihat semua wanita di muka bumi ini, selalu saja meributkan hal-hal kecil.


"Pokoknya aku tidak mau tahu. Jangan cium aku di tempat umum! Memangnya kau lupa kau sekarang siapa?" desis Alda mengingatkan.


Dengan menyebalkan Rich malah bertanya balik. "Aku siapa?"


Bibir Alda manyun semaju-majunya dan membuang nafas kesal. "Rich! Kau ini sekarang banyak diincar media? Kalau ketahuan jalan denganku. Apa kau sudah siap digosipkan dan menjadi tranding topik utama di setiap media sosial, surat kabar, majalah, atau televisi?"


Rich yang mulutnya terbuka mengikuti cercaan Alda yang tiada henti seperti kereta lewat itu. Sampai ia tak mendapat kesempatan menyela.


"Sudah mengomelnya?" tanya Rich ketika melihat Alda terengah nafas.


"Huh?"


Rich menyodorkan segelas air, tapi bukan air sembarang air. Tapi anggur putih miliknya yang tak sengaja diambil di meja tanpa dilihat dulu.


"Minumlah, Bunny."


Alda meminumnya hingga tandas, saat terakhir barulah ia merasa janggal. "Kok, rasa airnya seperti minuman beralkohol?" tanyanya pada Rich.


"Jangan-jangan kau sengaja, ya!" tuduh Alda mencebik.


"Tidak bunny. Mungkin aku salah ambil, ayolah jangan ngambek lagi! Ini kan, perayaaan hari jadian kita. Apakah harus diisi dengan pertengkaran?" rayu Rich sambil merangsek ke tubuh Alda, memeluk dan mencium pipinya.


"Ah! Jangan cium-cium!" Alda menghapus bekas ciuman dari Rich karena masih kesal.


Tapi dasar Rich, semakin dia dilarang. Dia malah semakin menjadi-jadi. Lelah dia menghadapi sikap Alda yang suka ngambek seperti kembarannya— Abelle. Rich tiba-tiba mengangkat tubuh Alda dan menggendongnya ala bridal.


"Auw!" kaget Alda memekik.


Tapi tak lama setelahnya Alda diam ketika alkohol mulai merusak kesadarannya perlahan. Ia tak lagi marah, Rich mengunci Alda dengan tatapan mata indahnya.


"I love you bunny. My pretty girl, do you love me?"


"Um, love you too my honey. Kau tampan Rich," balas Alda dengan jantung berdebar-debar, menatap damba di bibir Rich yang sangat ingin dirasakan.


"Terima kasih, Bunny. Pujianmu membuatku semakin jatuh cinta padamu lagi dan lagi," kata Rich pun tergoda akan bibir Alda. "Kau sudah kenyang makan malamnya?"


Alda mengangguk manja, Rich tersenyum sambil membawa Alda kembali ke resort terapung.


"Sudah ..." ucap Alda dengan suaranya yang serak, tentu membuat Rich gelisah apalagi bagian lain.


Selain Alda menyandarkan kepala di dadanya, wanita itu menyusupkan jari-jarinya ke dalam kemeja Rich. Rich memejam dengan suara beratnya menyuruh Alda berhenti.


"Bunny?" Panggilnya sambil berdehem untuk mengusir rasa itu.


"Hum, ya? Jangan nakal!" larang Rich bisa saja hilang kesabaran.


Tunggu! Namun, Rich tak sesabar itu. Apalagi jika dia terus ditantang, dia yang menyukai tantangan tentu saja tak akan menolak.


"Kau memang naif, Alda?" Rich menyerbu bibirnya lagi lebih atraktif, mengabsen deretan gigi putih dan menjelajahi hangat mulut Alda.


Hingga tak terasa keduanya telah berada di dalam kamar. Kepala Rich yang serasa meledak. Tentu itu sekadar kiasan. Maksudnya dalam dirinya terjadi dorongan kuat, tanpa melepas tautan itu.


Dengan besutan jari-jari besarnya ia menurunkan helaian di tubuh Alda dan detik berikutnya sama halnya ia yang telah seperti bayi baru lahir.


"Bolehkah?" Rich menatap damba pada Alda yang tersenyum.


Gila! Rich tak menyangka jika Alda menarik kepalanya sampai terjatuh di bagian gunung kembar itu.


"Ahh, Sayang!" Alda memejamkan matanya kuat-kuat, liukan tubuhnya seperti ulat bulu di dedaunan. Ketika Rich bagai bayi yang kehausan.


Setiap jengkal tubuh Alda tek terlewatkan, Rich membuat Alda tak berhenti menjerit dan mengaumkan namanya di setiap helaan nafas.


"Rich! Umm, Rich!"


"You are very cramped, Bunny! Oh, bunny!"


Baru kali Alda menikmati sensasi panas ini. Dia merasakan getaran hebat, suatu gelombang besar yang akan segera pecah di suatu titik. Dan kini terjadi bersamaan dengan dirinya maupun Rich.


"Sayang ..."


"I love you, Alda." Rich mengecup keningnya, berterima kasih telah mendapatkan apa yang lama ditahan.


...----------------...


Entah kenapa? Pagi ini Alda terasa lain. Dirinya begitu rileks, nyaman dan seakan tak ada beban.


Tapi dia merasa aneh juga ketika merasakan


perut ratanya seperti dilingkari sesuatu. Alda pun coba membuka matanya dan ia hampir saja menjerit ketika melihat lengan kekar, memeluknya begitu erat. Adapun kakinya juga dihimpit kaki berotot.


"Astaga! Aku dan Rich?" Alda sontak membekap mulut, ia mencermati dan mengingat kejadian semalam.


Kepalanya agak berputar-putar ketika samar-samar scene antara dia dan Rich terekam jelas beradu panas di atas ranjang.


"Aku sudah melakukannya dengan Rich!" Alda menepuk keningnya sangat kencang, tangisannya gugur diiringi tubuhnya juga bergetar.


Tanpa sadar, kepiluannya itu membangunkan Rich dari alam mimpi dan kini telah duduk di sisinya.


"Kau sudah bangun, Bunny?" tanpa dosa Rich memeluk Alda dan mencium bahunya. Namun, Alda menepis sedikit menjauhkan diri sambil menarik apa pun demi menutupi tubuhnya yang tak layak dilihat.


"Jangan mendekat!" larangnya.


Terbayang kusut semalaman ia terkekap dalam kehangatan. Bukan lagi dengan selimut bermerek di pasaran. Kain bukan sembarang kain, tapi selimut yang bisa membuat tubuh kegerahan.


"Ya Tuhan, pasti kau salah paham lagi dan menuduhku yang berbuat itu sendiri?"


"Apa maksudmu?" Alda tak mengerti lalu Rich pun menjelaskannya secara detail.


Ratapan pilu Alda menjadi kekesalan dalam diam, wajahnya pun berubah pucat saat tahu sendiri jika dialah yang menantang Rich untuk menghabiskan malam panas itu.


"Ck, aku sangat bodoh!" rutuk Alda.


Rich menarik tangannya dengan tatapan penuh cinta. "Jangan cemas, Bunny. Aku sangat mencintaimu, aku tak akan lari dari tanggung jawab."


Mata Alda yang telah basah dan merah berusaha menangkap keseriusan di mata hijau zamrud Rich.


"Kau masih tak percaya?" tanya Rich.


Alda tak menjawab, nafasnya pun masih memburu. Ketika syoknya yang dialaminya belum hilang.


Cincin di jari manisnya diperlihatkan ke wajah Alda begitu dekat. "Anggap saja cincin ini lamaranku untukmu. Aku ingin serius berhubungan denganmu, Bunny. Cintaku teramat besar untukmu. Apakah sekarang kau percaya?"