Bastard's Shackles

Bastard's Shackles
96. Bagaimana Tidak Jatuh Cinta? Suamiku Luar Biasa



“Boo! Kau di mana?”


Alda berteriak panik dari luar teras setelah memarkirkan motornya asal. Membuka pintu dan mencari keberadaan Rich di rumahnya yang sepi, diikuti Rukma berjalan di belakang.


“Mungkin suamimu di kamar sedang mandi, Nak.”


“Baiklah, Bu. Aku akan coba mencarinya ke sana,” kata Alda yang tergesa-gesa.


Setelah berada di kamarnya, Alda tak menemukan Rich tapi malah tak sengaja melihat ranjangnya masih kusut bekas percintaan semalam. Alda menggigit bibir, seketika teringat bagaimana rasanya penyatuan semalam yang masih terasa.


“Aaah!” pekik Alda membulatkan mata saat perutnya tiba-tiba dilingkari tangan berotot dan sebuah kecupan di leher.


Alda memejamkan matanya sambil tersenyum, menoleh ke samping pada wajah yang siap menyambar bibirnya dengan ******* agresif.


“Mencariku karena rindu atau ingin lagi, hum?”


Suara bariton seksi itu membuat Alda lupa akan tujuannya ke kamar. ******* kecil lolos dari bibirnya yang plumpy, ketika Rich menelusupkan tangannya ke dalam kemeja Alda dan memberi remasan lembut.


“Boo ... Auw! Ah, masih pagi? Apa semalam belum cukup?”


Dengan cepat Rich berpindah posisi ke depan Alda sambil mendorongnya ke atas ranjang. Namun, begitu Rich akan melepas lilitan handuknya. Alda kemudian menahan lalu menggeleng.


“Kenapa sweety? Mumpung Noah ke sekolah, Ibu tak ada dan ... dengar-dengar pagi itu adalah waktu terbaik bercocok tanam?” Rich sengaja memainkan alisnya naik turun sambil membuka kancing kemeja sang istri.


“Bercocok tanam?” Alda mengerutkan kening.


Memangnya Alda itu lahan, kebun atau sawah? Astaga ... sementara suaminya itu memberinya tatapan maut, hingga Alda hampir saja terperosok ke dalam jeratannya yang menggoda.


“Oh! Boo, tidak.” Alda mendorong dada telanjang Rich dari atas tubuhnya, kemudian terduduk di atas ranjang dengan nafas tersengal.


“Ayolah sweety!” desak Rich sedikit memaksa. “Sepuluh menit saja, please ....”


Siapa yang tahan dan tak ketagihan memiliki istri super hot seperti Alda yang goyangannya patah-patah itu? Rich sampai tak pernah melewatkan jatahnya setiap malam, bahkan tiga hari sekali. Terlebih jika ada kesempatan seperti ini.


“No, Boo. Jangan sekarang! Sebenarnya aku mencarimu karena ingin melapor.”


“Lapor soal apa? Soal semalam sungguh berkesan?” godanya.


Bibir Alda mengerucut seksi, Rich menciumnya cepat hingga Alda kesal dan melipat tangan. Segera menjaga jaraknya dari Rich.


“Ya ampun boo. Mesum sekali, sih? Astaga.” Alda merotasikan malas matanya. “Aku ini mau bilang kalau aku habis kecopetan saat di dalam pasar.”


“Apa?” Rich terkejut.


“Tapi anehnya, hanya ponselku saja yang dicopet,” jawab Alda resah. Pasalnya di ponselnya itu terdapat nomor kontak teman-temannya dan video bukti rekaman peristiwa kemarin.


Rich mulai mengerti sekarang. Demi membuat istrinya tenang, kemudian ia menarik Alda ke dalam pelukannya yang nyaman.


“Tenang, Sweety. Nanti aku akan membelikanmu iphone terbaru dan kau juga bisa membeli tas branded yang kau inginkan.” Rich membujuknya agar tak sedih lagi.


"Boo, tapi di ponsel itu berisi—”


“Berisi rekaman, bukan?” Rich menyela cepat.


Alda menganggukkan kepala.


“Jangan risau sweety! Serahkan semuanya pada suamimu ini. Tersenyumlah sekarang?” pintanya membuat Alda kini tersenyum dan membalas pelukannya.


“Kau memang suami idaman, Rich. Aku jadi semakin mencintaimu.”


“Mana hadiahku?”


Alda membingkai wajah Rich lalu menyatukan bibirnya. Saling melahap, menyesap dan membelit lidah.


“Hadiah spesialnya nanti malam,” kata Alda tersipu malu.


“Sungguh?”


“Hum.”


“Kau di atas dan memanjakan ini ...” Rich menurunkan pandangannya ke handuknya yang menggembung sambil menatap mesum.


Tapi Alda malah kabur dan meninggalkan Rich yang mematung kemudian tertawa pelan, melihat tingkah istrinya yang malu-malu tapi mau.


...----------------...


Sore harinya ....


“Papi dan mami mau ke mana sore-sore begini sudah rapi. Mau pergi jalan-jalan, ya?" tanya Noah yang seketika mengambil duduk di sisi sang Papi.


Rich mengacak gemas rambut Noah lalu mencium pipinya.


"Tidak sayangku. Papi dan mami akan ke balai desa, Noah di rumah saja bersama Nenek, ya?"


"Hmm, baiklah," jawab Noah kurang bersemangat, membuat Alda tersenyum lalu beralih duduk memangku sang putra.


“Minggu depan kita jalan-jalan, bagaimana Pi? Setuju?” tanya Alda memanggil Rich.


Rich mengangguk sambil tersenyum, mencuatkan rona bahagia di wajah Noah yang tadinya muram.


"Serius, Pi, Mi?” ulang Noah memastikan, di otaknya bahkan tercetus sebuah tempat yang ingin dituju.


"Iya dong, memangnya anak Papi yang tampan ini mau ke mana?"


“Time zone, Pi. Kita tanding bom bom car bareng? Deal?” Noah memajukan telapak tangannya ke depan sang Papi.


Sesaat Rich dan Alda saling melempar senyum, kemudian mencium bersamaan pipi Noah di sisi kanan kiri.


“Deal.”


“Ayo ikut Nenek saja menyiram bunga! Biarkan Papi dan mamimu pergi ke balai desa,” ajak Rukma lalu menggandeng tangan mungil Noah yang tak menolak.


“Oke, nenek. Lets' go!” seru Noah kemudian melirik kedua orang tuanya yang masih duduk. “Mami dan papi cepat pergi biar nggak terlambat!”


“Ya sayang.”


...----------------...


Semua warga desa yang kemarin menyaksikan perkelahian itu sudah lebih dulu hadir di balai desa. Termasuk Pak Udin beserta sang istri.


Di sebelah aparat terkait duduk. Juragan Indra memicing sombong pada Rich, Alda dan Chandra. Sementara dia sendiri duduk di tengah-tengah, diapit oleh Rendra dan Agung.


“Sebelumnya saya berterima kasih atas kehadiran Anda semua di sini. Saya menghargai semua pihak dan tak akan berat sebelah. Berharap permasalahan ini mendapat penyelesaian yang memuaskan nantinya. Syukur-syukur bisa diselesaikan dengan cara kekeluargaan,” kata Kepala Desa yang bernama Ehan itu.


Semua mengangguk setuju, tidak Juragan Indra yang kemudian memprotes. Merasa kepala desa dan Rendra akan berpihak penuh padanya.


“Kalau saya tak terbukti bersalah. Pokoknya saya mau bawa persoalan ini ke jalur hukum!” kekeh Juragan Indra.


Rich bersikap tenang menghadapinya, sedikitpun tak terpancing situasi panas yang sengaja diciptakan oleh pria tua itu.


“Tenang, tenang!” himbau Pak Ehan membuat suasana kembali kondusif.


Lantas ia meminta Pak Udin, Juragan Indra dan Rich membeberkan kejadian kemarin versi mereka masing-masing. Saksi juga dihadirkan, hingga Pak Ehan sudah dapat menyimpulkan dan akan memberi keputusan.


“Tunggu dulu Pak Ehan! Saya memiliki bukti lain lagi,” kata Rich mencegah.


Juragan Indra yang tersenyum licik menatapnya menusuk. Berpikir akan menang, tapi kini wajahnya mendadak berubah pucat setelah kedatangan seseorang yang tak pernah ia sangka.


“Pak Chandra, tolong bawa pria itu ke depan!” suruh Rich.


Semuanya diserbu penasaran siapa sosok itu. Tidak Alda dan Juragan Indra yang sangat mengenalinya. Bahkan Alda tersenyum memandangi Rich penuh rasa bangga, lain lagi juragan sapi itu yang ketar ketir.


Chandra mendorong kasar pria berwajah babak belur itu hingga terjerembab ke lantai. Ekspresinya yang ketakutan langsung menunduk saat ditatap Juragan Indra.


“Boo, itu pencopetnya. Kau hebat bisa menangkapnya! Oh, ya ampun. Suamiku aku jadi semakin mengidolakanmu?” bisik Alda pelan.


Rich tersenyum menaikkan kerah jasnya, membalas bisikan Alda sambil menggenggam erat tangan yang halus itu.


“Jangan lupa hadiahku nanti malam sweety,” kata Rich lirih.


Alda tersenyum menggigit bibir, heran dengan suaminya yang masih ingat saja soal hal itu di saat seperti ini.


“Iya, pasti boo. Spesial pake telor, kan?” jawab Alda membuat Rich menahan tawa.


“Ehem! Tahu kalau pengantin baru, tapi harusnya ingat tempat kalau bermesraan?”


Rendra yang berdehem keras, sengaja membuyarkan keromantisan Alda dan Rich dengan sindirannya. Karena sedari tadi hatinya terbakar cemburu menyaksikannya.


”Iri bilang Bos!” desis Rich menyahut keras, kemudian bersiul seolah tak menunjukkan itu pada Rendra.


Namun Rendra yang mendengar dadanya pun terasa sakit. Ingin rasanya mengajak duel pria itu di atas ring tinju dan menghajar wajahnya yang sok paling tampan.


"Dia siapa Mr. Rich?” tanya Pak Ehan mengurai ketegangan.


Rich menjelaskan bahwa pria itu adalah yang mencopet ponsel Alda saat di pasar tadi pagi, atas suruhan Juragan Indra untuk menghapus bukti rekaman kejadian kemarin.


“Itu fitnah Bli Ehan, jangan percaya!” sanggah Juragan Indra bernada tinggi.


Pak Ehan menyuruhnya tenang lalu meminta pencopet itu jujur. Kini, Juragan Indra tak bisa mengelak lagi setelah pencopet membuka suara.


Diperkuat video rekaman yang diputar dari ponsel mewah Rich, di mana Juragan Indra dan centengnya melakukan aksi premanisme, kriminal, rasisme dan semena-mena pada Pak Udin dari awal hingga akhir.


Bahkan Rendra yang tadinya lantang membela ayahnya, sekarang terdiam malu tak berani mengangkat wajah. Apalagi ayahnya terbukti bersalah dan aparat tak segan memborgol kedua tangan Juragan Indra yang sempat memberontak.


"Lepaskan saya, Pak. Saya tak bersalah, ini fitnah! Bule sialan itu yang memfitnah saya?” Juragan Indra berteriak membela diri. “Rendra, tolong ayah, Nak ....”


Wajah melas ayahnya sudah tak mempan lagi membuat Rendra bersimpati. Ia menghampiri ayahnya dengan berjalan gontai.


“Ayah sudah bikin malu aku, kenapa ayah tega mencoreng nama baik keluarga kita, Yah?” kesal Rendra disertai suara yang berisi kekecewaan.


Berbeda Agung yang membela ayahnya dan coba membujuk Rendra supaya mau menolong. Sayangnya Renda menolak tegas hingga Juragan Indra sangat marah.


“Dasar anak tak tahu di untung! Sudah di sekolahkan tinggi-tinggi jadi Polisi, tapi sekarang malah memenjarakan ayahnya sendiri. Inikah balasanmu, hah?!” hardiknya emosi.


Rendra menatap ayahnya dengan mata berkaca-kaca. Suaranya bergetar sambil menurunkan topinya dari kepala.


“Kalau dari dulu aku tahu di sekolahkan dengan uang haram, lebih aku tak pernah menjadi penegak hukum ayah ....”


Alda dan Rich menyaksikan itu diam. Agung coba membujuknya supaya Rich bisa membantu.


“Tolong jangan perpanjang masalah ini ke jalur hukum, Mr. Rich? Kasihan ayah saya sudah tua—”


“Gung, cukup!” cegah Rendra cepat dengan nafas memburu, mendekati adiknya sambil menggeleng.


“Kenapa Bli? Apa Bli Rendra tak kasihan pada ayah?” tanya Agung sedih.


“Biarkan ayah merenungi kesalahannya di balik jeruji besi, Gung. Supaya ayah tak berbuat jahat lagi di kemudian hari,” kata Rendra merasa keadilan perlu ditegakkan.


Rich menepuk bahu Rendra yang menatapnya sendu. Dia tersenyum bangga padanya dan tak marah.


“Kalau kau mau masalah ini tak dibawa ke jalur hukum, suruh Juragan Indra untuk mengembalikan sertifikat milik Pak Udin dan meminta maaf padanya. Aku tak berhak memutuskan,” kata Rich dengan bijaksana.


“Suamiku benar, Bli,” imbuh Alda.


“Ya, ayahku harus melakukan itu. Aku meminta maaf pada kalian atas kesalahannya selama ini dan kesalahanku juga. Biarlah untuk ayahku dia tetap di penjara untuk menebus semua dosa-dosanya, Rich.”