
Setelah gelap terbitlah terang. Mungkin perumpaan itu berlaku hanya untuk sebagian orang.
Hampa!
Satu kata, mendefinisikan kekosongan hati yang telah hancur berkeping-keping. Karena cinta, bisa membuat tersenyum dan cintalah pelaku keji yang meninggalkan goresan luka terdalam.
Maka dari itu, cintailah manusia sekadarnya. Jangan melebihi cintamu pada Tuhan.
Tuhan akan selalu memelukmu dalam kasih sayangnya, tak akan pernah kurang. Bahkan lebih jika mau bersyukur.
***
A month back…
“Tambah lagi tequilanya, Aries!” suruh pria yang menyandarkan kepalanya di atas meja bartender, berbantalkan lengan sambil memutar shot glass itu seperti gasing.
“Cukup! Kau terlalu banyak minum seminggu ini, Nak.” Marco merebut shot glass itu, lantaran khawatir jika Rich menjadi sakit.
Miris ia lihat. Otot kekar yang biasa membungkus lengan Richard. Kini bahkan tampak susut. Cekungan matanya tercetak jelas, dengan rahangnya pun kentara menonjol dan kuyu.
“Paman kalau tujuannya ke sini hanya melarangku untuk minum. Sebaiknya pergi saja!” usir Rich enggan berurusan.
Baginya, semenjak ia melihat percumbuan Alda dan Efrain. Semenjak itu pula ia membenci dirinya sendiri yang terlalu bodoh. Pernah jatuh cinta pada seorang wanita yang jelas-jelas tak mengharapkannya.
Sakit, memuakkan. Badboy, itulah julukan yang pas untuk Richard Louis sekarang dan ia hanya ingin menyendiri.
“Rich?" Marco memanggilnya gemetar, seolah bisa merasakan luka pemuda itu.
Bola mata zamrud hijaunya redup, kegairahan di sana untuk hidup pun pudar saat melirik Marco yang menyorotinya tajam. Ia tidak peduli, semua orang yang mengajaknya bicara dianggapnya angin lalu.
Tangan Marco menekan dagu Richard. “Lihatlah wajah tampanmu sekarang. Kian tak terurus, jerawat tumbuh di mana-mana. Kusam, lantaran tidak merawat diri. Berantakan sekali hidupmu sekarang!” protesnya.
“Hanya gara-gara tequila saja, paman cerewet seperti ibu-ibu di pasar ikan. Alkohol tidak akan membuatku sekarat, Paman?” enteng Rich tertawa basi.
“Kalau begitu, minum racun serangga sekalian. Mau kuambilkan?” bukan sungguhan, tapi Marco sudah hampir putus asa meyakinkan pemuda itu.
Melihatnya terpuruk bukanlah keinginannya. Entahlah apa yang terjadi, Richard sendiri tidak mau bercerita. Walau ia sudah mendesaknya berkali-kali.
“Boleh. Ambilkan sekarang untukku,” kata Rich tampak frustasi menatap Marco.
Kening Marco melipat. Kornea matanya, seolah terlepas dari bingkai retinanya setelah mendengar ucapan Rich barusan. Ia meremas rambutnya kesal, lalu mengguncang kedua bahu pemuda itu.
“Ada apa denganmu, Nak? Come one! jangan gila. Setidaknya bangkit demi mommy atau adik-adikmu!” sentaknya keras supaya Richard sadar.
“Mommy, Abelle, Heaven?” ulang Rich menyebutnya satu persatu sambil membayangkan wajah mereka yang tiba-tiba saja terlintas.
“Ya, mereka. Hiduplah yang layak untuk mereka. Jika masalahmu karena wanita, ingat! Masih banyak wanita lain di luar yang lebih baik dan pantas untuk kau, Nak!” tekan Marco.
Rich sejenak mengambil nafas dalam-dalam. Pandangannya lurus ke depan. Ia mengeratkan gigi dan memukul tembok saat bayangan Alda ikut mengisi otaknya kini.
PRRAKK!!
“What the ****!” umpat Rich merebut botol yang terpegang di tangan Aries dan melempar botol tequila itu ke arah rak.
Di mana berjejer rapi koleksi minuman beralkohol mahal di sana, kini jadi mubazir. Pecah dan tumpah berantakan ke lantai.
Richard mengerang keras, kepalanya dijedotkan ke dinding. Marco segera menarik pemuda itu dan memeluknya.
"Sesekali pria perlu menangis. Tak apa …" kata Marco pelan.
Rich seolah tuli, tapi ia mengeluarkan jeritan keras itu dalam hati. Memejamkan matanya rapat-rapat, sebelum usapan kasih sayang Marco di punggungnya membuat ia membuka mata.
Iris hijau zamrudnya terisi kilap cahaya, berbias buliran yang menetes. Itu tangisan Richard yang merinai di pipi.
Padahal ia sudah tahan mati-matian supaya tak keluar. Tapi nyatanya sakit di hatinya memaksa air mata itu sendiri untuk keluar dan jika pria sampai menangis, itu pertanda bahwa lukanya yang dialaminya terlalu dalam.
“Aku sudah kalah paman… Seburuk itukah aku? Hingga Alda tidak mempercayai cintaku dan lebih memilih Ef?”
Akhirnya terjawab sudah rasa penasaran Marco selama ini. Ternyata pemuda itu baru patah hati.
“Nak, melepaskan satu wanita bukan artinya kalah. Berarti Tuhan menunjukkan kalau ia bukan jodohmu.”
“Jodoh? Haha … Kenapa dari dulu Tuhan tak pernah adil padaku? Semua wanita lebih memilih Ef. Bahkan daddy juga menyayanginya dibandingkan aku.” Rich mengatakannya penuh sesak.
"Tidak, tidak. Kau salah besar, Nak? Jangan berkata seperti itu.” Marco tak sependapat.
“Which is called fair?”
“Tuhan itu Maha adil, pasti dibalik ini semua ada wanita lain yang jauh lebih baik dari wanita itu. Sedang dipersiapkannya hanya untukmu. Daddy-mu sangat menyayangimu, aku tahu itu. Lagi pula kau punya segalanya, jangan sedih lagi. Oke?" tutur Marco memberi nasihat.
“Ini bukan Rich yang kukenal. Tegarlah demi orang-orang yang kau sayangi. Nikmatilah hidupmu selagi bernafas dan lihatlah lurus ke depan, jangan pernah lagi menoleh ke belakang.” Imbuhnya.
Rich mendalami nasihat Marco selama beberapa saat. Adapun Marco berharap setelah ini, Rich kembali bangkit dari keterpurukan.
“Paman benar.” Rich menegakkan badan, menghapus sisa-sisa air matanya. “Kenapa aku cengeng sekali? Ck!”
“Sedikit menangis bukan cengeng. Tapi meluapkan ekspresi. Lebih baik kau bangun kerajaan bisnismu lagi dan tunjukkan pada semua orang. Jika kau tidak pantas untuk dikecewakan!” Marco mengobarkan semangatnya.
Rich bergeser dari tempatnya duduk, lalu memandang penuh gairah ke sekeliling Sweedie Bar— miliknya yang tampak ramai pengunjung kala itu. Tersenyum lebar penuh ambisi dan kelicikan.
“Ya, Paman Marco. Akan kutunjukkan siapa Rich sebenarnya di mata dunia!”
Welcome back into my arms, seringainya dalam hati.
***
Setelan jas maroon, dipadu kombinasi topeng masquerade warna hitam.
Ujungnya berhiaskan bulu di sisi kanan. Begitu match dengan kulit putih sang pria yang menegaskan sisi rupawan-nya.
Tidak kalah, mate—nya pun tampil seksi dalam balutan gaun warna senada. Maroon identik ke merah menyala, dadanya membusung indah dan tercetak padat.
Berkat pinggiran bentuk hati, yang menggemaskan liur genit para lelaki.
“Astaga, Tuhan! Kerongkonganku mendadak haus,” ucap seorang pria, mengelus lehernya. Ketika dua sejoli itu melintas.
“Melompatlah ke jurang bersama wanita itu. Supaya pria—nya untukku saja!” ketus kekasih dari lelaki itu cemburu.
Sang pria menyugar rambutnya dengan kasar menatap wanitanya. “Mulutmu perlu dijahit rupanya!”
“Semoga matamu juling.” Lantas wanitanya pergi membawa kemarahan.
“Tunggu sayang!”
Persetan.
**
Sisi lain masquerade party. Pria bertopeng yang jadi trend center pun tersenyum maskulin.
Ia mengulurkan tangan ke sang wanitanya seraya berjongkok. Bibirnya melandai di punggung tangannya yang halus penuh kelembutan. “Cup! Baby, kita berdansa?”
“With pleasure, Baby.”
Musik dimainkan slow, tiap pasangan merengkuh pinggang wanitanya. Kakinya melangkah seiring alunan lagu, tubuh berputar mengikuti iramanya. Sebelum tubuh berhimpitan mesra, lewat tautan mata.
“Terima kasih sudah mengajakku kemari, Baby.” Kelegaan menghiasi bibir bergincu merah itu dan tersenyum malu-malu.
“Jangan banyak omong. Nikmati saja pesta dansanya, temui mempelai dan setelah itu kita pulang,” kata pria itu singkat.
“Pulang? Malam terlalu singkat jika dilewatkan untuk pulang, Baby. Kecuali ke apartemenmu,” pancing wanita ini layaknya j*l*ng.
“Ingat. Hanya tubuhku saja yang kau dapatkan, tidak dengan hatiku…”
Tidak disangka, wanitanya memotong cepat. “Ya, aku tahu. Demi bisa merasakan kegagahanmu di atas ranjang, aku rela kau mainkan. Asalkan selalu bersamamu, Baby?” wajahnya kian merona, saat mengatakan itu dengan jantung berdisko.
"I like it."
Tanpa nyana, pria itu menarik pinggangnya. Tersentak refleks menubruk dadanya yang kokoh.
“Kiss me?”
Nafas keduanya memburu. Pelan dan hap!
Saling mengejar berdecapan, melahap rakus. Tidak peduli lirikan sinis pasangan di belakang, juga tengah berdansa. Memandang jijik pada mereka berdua, yang diagungkan semua orang sedari tadi.
“Seperti tidak ada hotel saja, huh!” cibir Alda, dengan tangan mengerat ke leher Efrain.
“Biarkan saja, Al. Itu sudah biasa, kan?” respon Efran lebih santai.
Tepat ucapannya selesai. Giliran Dj memainkan musik swing. Lampu yang tadinya temaram syahdu. Kini berubah menjadi sorot lampu seirama. Begitu tangan wanitanya diangkat ke atas, para pria memutar tubuh pasangan wanitanya.
Variasi pun berubah, otomatis pasangan tertukar.
“Aw!” pekik Alda terhenyak, karena ia terjatuh dipelukan pria yang tadi digunjing.
Netra Alda melotot. “Kau?”
Pria itu juga sebenarnya terkejut melihat pasangan dansanya saat ini. Kendati begitu, ia tetap profesional dan bersikap biasa. Alda hendak melepaskan diri, karena tak ingin berdansa dengannya. Tapi suara keras dari host menginterupsi di panggung.
“Waktunya Lindy Hop guys!”
Alda yang belum siap, seketika terkejut. Ketika pria itu tanpa aba-aba, menggenggam kedua tangannya.
Lantas melemparkan tubuhnya ke depan sangat cepat sekali, mengentak kaki ke depan-belakang. Maju-mundur, diputarnya tubuh Alda. Kemudian ditarik hingga menabrak dadanya sangat keras.
Waktu seakan berhenti, dua mata indah keduanya bertemu dengan jantung berdegup sama, seolah keduanya merasakan dejavu.
Siapa dia?
Belum sempat memori Alda terkumpul. Pria itu melemparnya kembali pada Efrain. Dengan perkataan menggelitik sebelumnya, yang sempat dibisikkan.
“Kita bertemu lagi.”
Tubuh Alda meremang, wajahnya terangkat. Namun, ia sudah tak melihat lagi keberadaan pria bertopeng itu setelah musik swing berhenti.
“Al, ada apa?” tanya Ef, melihat Alda nampak pias. Wajahnya disentuh, refleks ia menepisnya cepat.
“Maaf, aku tidak sengaja, Ef. Hanya sedikit pusing saja, gara-gara tarian Lindy Hop tadi.” Alda beralasan dan mendadak tak ingin bicara panjang.
“Ini baru pertama bagimu?”
“Yes.”
“Kalau begitu biar aku mengantarmu pulang. Tapi sebelum itu, kita berpamitan dulu pada Fahrazan dan istrinya,” kata Efrain.
Alda mengangguk setuju. Di saat ia menyalami Ayna, tidak sengaja netranya mendapati pria tadi nampak berjalan keluar dari pesta.
Nalurinya masih penasaran akan sosok pria itu. Kaki Alda tanpa sadar membawanya pergi. Hampir saja mendekati pria tersebut, tapi ia terhalang oleh Efrain.