Bastard's Shackles

Bastard's Shackles
78. Salah Peluk



“Bertemu Papi? Jadi Om Rich itu, benar papinya Noah?”


Wajah polos Noah menanyakan itu membuat Morren mengangguk gemas dan tak ayal mencubit, lalu mencium kedua pipi cucunya itu sambil tersenyum.


“Apa kau tak senang memiliki papi seperti sahabatku, Rich?” sahut Firheith berniat menggoda. 


Noah menoleh cepat. Terlihat jelas ada keharuan, kebahagian berbaur dari cerminan netra jernihnya dan senyumannya yang tulus. "Senang banget, Om. Noah akhirnya punya papi!"


Meninggalkan sang Nono, kaki kecilnya berlari memeluk Firheith yang sudah mengungkap identitas aslinya sejak mengajak Noah bermain. Firheith pun menggendongnya sekali angkat. 


"Anak pintar!" puji Firheith lalu mencium pucuk kepala Noah. "Nanti kalau Rich tahu kabar jika kau adalah putranya. Pasti dia sangat senang, Nak."


"Really Om Fir?"


"Sure." 


"Kita berangkat sekarang, Nono, Mami!" seru Noah tak sabar. 


Alda tersenyum bahagia melihat Noah yang tak pernah selepas itu jika tersenyum selama ini. Ia pun sama, karena pada akhirnya sang papi merestui hubungannya dengan Rich. 


Walau terkadang suatu waktu. Noah pernah menyembunyikan kesedihannya, saat bocah itu pulang dalam keadaan menangis setelah diolok temannya karena tak memiliki seorang Ayah. Namun, kecerdikannya membuat ia menyembunyikan sendiri dari Alda.


"Sebentar sayang. Mami packing bajumu dulu dan punya mami," kata Alda yang cepat menyeka bulir beningnya di wajah.


"Kalau begitu. Aku pamit pulang dulu, Al, Uncle, Wa Rukma. Mau packing juga," sela Mutia yang mendorong kursi rodanya sendiri. 


"Hati-hati Mut, apa perlu Uncle antar?" tawaran Morren tercekat. 


Begitu ia melihat Firheith menurunkan Noah dari gendongan dan berjalan ke arah Mutia lalu ganti mendorong kursi rodanya. 


"Saya juga pamit untuk bersiap, Tuan Morr. Sekalian biar aku antarkan Mutia pulang ke rumahnya."


"Baiklah kalau begitu. Nanti Mutia aku jemput saja ketika berangkat ke bandara," timpal Morren yang diangguki Firheith dan Mutia. 


***


"Noah, nanti jika pesawat mulai mengudara. Telingamu akan terasa pengang, nah! Supaya kau merasa nyaman dan tidak terkejut. Makanlah permen yang sudah dibelikan Uncle Fir, ya." Alda  berpesan. 


"Emangnya, berapa jam sampai di Kongo sih, Mi?" tanya Noah yang baru pertama kali naik pesawat. Ia terlihat paling antusias dan bersemangat semenjak berangkat dari rumah.


Selain keinginan terbesarnya untuk bertemu papinya secara resmi. Meskipun selama tiga hari di Bali ia sudah bertemu, tetapi dengan status berbeda. 


"21 jam 15 menit sayang."


"Wah!" Noah terpekik lebar. "Lama sekali ya, Mi?" sambil gayanya memiringkan kepala itu, disambut kekehan gemas dari sang Nono. 


Morren duduk di sebelahnya, mengacak gemas surai halus sang cucu. Alda mengangguk tersenyum, melihat kelucuan putranya yang polos. 


"Besok kita baru sampai. Supaya tak bosan selama di perjalanan, anggap saja kau sedang berlibur dan tidurlah dengan nyaman," saran Morren. 


"Oke, Nono!" Noah memberi jempol. "Berarti selama ini mami kerja di Kongo capek, dong? Makanya jarang pulang."


Sesal menggelayuti Alda yang segera mendekap Noah. Air matanya menggenang yang ia seka, mengingat betapa tersiksanya selama ini terpisah jauh dari Noah.


"Ya, itu semua mamimu lakukan demi kau sayang. Supaya Noah bisa sekolah tinggi dan membantu mami kalau sudah dewasa nanti," sahut Morren paham bagaimana situasinya. 


"Maafkan mami sayang. Sekarang, mami, Noah dan papi nggak akan terpisahkan lagi. Noah akan bertemu keluarga besar papi di Kongo," ucap Alda. 


"Apakah mereka baik pada mami selama ini?" tanya Noah ingin tahu. 


Alda tak bisa menjawab, karena hubungannya dengan Efrain terbilang buruk. Bahkan, sekalipun ia tak pernah bertemu keluarga Louis. Terkecuali Prof. Nando, suami dari kembaran Rich dan Efrain. 


"Mereka baik sayang, tapi mami belum pernah bertemu karena mereka orang sibuk." Meskipun tak tahu bagaimana reaksi keluarga Louis nanti setelah bertemu Noah. Alda tetap mengenalkannya bahwa mereka orang baik, sesuai apa yang ia dengar selama ini. 


"Ayo makan permenmu dulu!" potong Morren yang barusan mengupas bungkus permen dan diberikannya pada Noah.


"Terima kasih Nono."


Morren tersenyum pada Noah lalu melihat keluar jendela. Di mana langit kebiruan yang terlihat cerah dengan gumpalan awan putih cerah sore itu, yang pemandangannya sangat indah dari atas.


Ia tak ingin berlarut-larut, tak ingin pula membuat Alda mengarang sesuatu yang belum jelas. Apalagi memberi banyak harapan pada cucunya. Karena tujuan Morren hanya satu, memastikan mereka berdua menemui kebahagiaannya. 


Dua selisih jarak bangku dari mereka bertiga. Firheith duduk bersebelahan dengan Mutia yang juga baru pertama kalinya naik pesawat. Diam-diam pria berlesung pipi di sebelahnya melirik, mengulum senyum. Mendapati Mutia yang terus memejamkan mata dan bibirnya komat kamit membaca doa. 


"Oh Dewa Krisna, Dewa Shiwa, Dewi Durga berilah keselamatan padaku … hhhh …." pelan Mutia berucap sambil memegang tangan Firheith yang dicengkramnya sangat kuat. Nafasnya memburu, hingga kuku tajamnya menancap di kulit pria itu yang meringis menahan perih. Tak ubahnya ia terkena cakaran kucing rabies saat pesawat mulai mengudara. 


Dan setelah Mutia merasakan tenang serta baik-baik saja. Perlahan ia membuka matanya, menghela napas lega. Juga melepas cengkramannya di pinggiran bangku yang dirasanya agak lain. 


"Kok, seperti ada bulunya,  lebat. Ini, ini … Sih, lengan manusia? Oh, Dewa!" lekas Mutia menoleh yang bertepatan wajah sengak Firheith tengah menatapnya. Mutia meringis gemetar, "ma-maaf Fir. Aku tak sengaja, maaf …" 


"Hmm, untung aku sudah suntik tetanus dan suntik rabies."


Bola mata Mutia terbelalak. "Hey, dungu! Aku sehat, ya! Memangnya aku anj*ing?"


Plakk! 


Muka Firheith ditampar pelan oleh Mutia karena kesal. "Kurang ajar! Huh!" Lalu  ia membuang muka, yang ternyata mengundang atensi Alda mengintip ke arah mereka yang tenyata sedang bersitegang. 


Sehingga Alda menghampiri Firheith dan mengulurkan plester. Ia tahu sahabat kekasihnya itu terluka karena ulah Mutia. 


"Maafkan Mutia, Fir. Harap maklum, dia juga seperti Noah yg baru pertama naik pesawat—"


"Oh … Pantas saja?"


Mutia kesal. "Kenapa harus memberitahunya sih, Alda?"


"Maaf, kelepasan." Alda meringis. 


Mutia merotasikan bola matanya dan menghempaskan punggung ke sandaran dengan bibir manyun. 


"Apa Noah seheboh dia, Al?" sindir Firheith yang mengkode dengan gembungan pipi ke Mutia yang ngambek. 


Alda menggelengkan kepala lalu terkekeh. "Noah malah senang sekali, dia mendengarkan  musik dengan earphone dan mengunyah permen yang kau belikan."


"Ternyata, umur itu tidak menjamin kedewasaan seseorang ya!" 


Mutia komat kamit lagi, sementara Alda hanya menahan senyum. 


"Sudahlah Mut, perjalanan masih panjang. Harusnya kalian berdua berdamai, kau juga harus bertanggung jawab karena sudah melukai tangan Fir. Plester lukanya!" suruh Alda yang kemudian berlalu. 


"Al! Nggak gitu konsepnya? Ih!" jebiknya yang memaksakan diri merebut plester itu dan merekatkannya di lengan Firheith. "Sudah!"


Bertepatan ucapannya selesai. Tak sengaja netra Mutia bersirobok tatap dengan Firheith yang membuat jantungnya berdegub kencang. Firheith pun merasa diserbu gelenyar aneh yang membuatnya tak berkedip saat memandang Mutia.


Ternyata dia manis juga, ya? Meskipun mulutnya cerewet?' batin Firheith.


Hingga mendadak pesawat mengalami guncangan dan bibir mereka pun saling bertabrakan. 


Cup! 


Kecupan di bibir keduanya terjadi, mata Mutia membulat sempurna begitu tahu bibir mereka saling menempel. 


"Ya ampun!" Mutia segera membuang muka dan membekap mulut. 


Sama halnya Firheith yang gugup seolah pertama kalinya mencium bibir wanita dan gara-gara hal itu. Mereka pun tak berbicara satu sama lain hingga tiba di bandara Kinshasa keesokan harinya. 


***


Ternyata setelah mereka semua turun dari pesawat. Kebetulan tak disangka-sangka terjadi, ketika Noah yang tak sengaja menyenggol tubuh Efrain yang pesawatnya baru mendarat dari Amerika. 


"I'm sorry Uncle," ucap Noah tak sengaja. 


"Tak apa sayang—" 


Efrain seketika membeku tatkala ia melihat keberadaan Alda. Hanya Firheith yang ia sapa. Tidak pada Alda yang masih canggung dan memilih diam. 


"Papi?" sebut Noah langsung memeluk Efrain yang dikira Rich. Noah memeluknya sangat erat hingga Efrain kebingungan. 


Alda tak mampu mencegah karena ia belum sempat bercerita soal Rich yang kembar tiga. Hingga Noah tak mengetahui hal itu. 


Firheith pun maju. "Noah, itu bukan papimu sayang. Itu Uncle Efrain, saudara kembar papimu."


"Saudara kembar?" terperanjat Noah yang seketika menatap wajah Efrain dan tertuju pada bola matanya yang berbeda. 


Efrain terlalu syok dengan pertemuan mendadak ini yang membuat ia bertanya-tanya dan penasaran. 


"Siapa Noah? Papi maksudnya bagaimana, Al? Apakah dia anak dari Rich?" 


Buliran air mata Alda jatuh, dia tak sanggup bersuara dan hanya mengangguk-angguk. Lalu Efrain pun menghampiri Noah yang meratap sedih. 


"Anak manis, siapa namamu sayang?" tanya Efrain. 


"Noah."


"Aku Uncle Ef, saudaranya Rich. Kembaran papimu? Sini, peluk Uncle sayang!" Efrain tersenyum haru sambil merentangkan kedua tangan dengan lebar. 


Noah yang mulanya canggung, akhirnya mau mendekat dan Efrain pun memeluknya sangat erat karena bahagia.


'Ya Tuhan, dosa  saudaraku di masa lalu membuahkan anak ini yang sangat manis.' Batin Efrain memejamkan mata. 'Rich! Kau keterlaluan!' lanjutnya. 


Semuanya pun lega melihat itu, terutama Alda dan Morren yang mengira Keluarga Louis membenci Alda dan Noah ternyata dugaan mereka salah besar. 


Setelah pelukan dilepas, Efrain menghampiri Alda dengan ekspresi serius. "Bisa kita bicara, antara kau dan pria ini siapa Al?"


"Dia papiku," tunjuk Alda memperkenalkan Morren. 


"Hai, Tuan." Sapa Efrain lalu mereka berdua berjabat tangan. 


"Mari ikut saya sebentar, ada hal penting yang ingin saya sampaikan Tuan Morren. Terutama pada Alda."


***


Tolong dibaca sampai tuntas ya, jangan dilompati karena sangat berpengaruh pada retensi buku ini. Terima kasih