
“Aaaaah!”
Suara jeritan itu terus menggema ke segala penjuru kamar bernuansa dusty pink. Berisi perabotan khas wanita, tetapi karena dia seorang MUA.
Maka di kamarnya pun terdapat alat-alat salon dan perlengkapan make up yang terbilang lengkap.
“Kenapa harus terjadi lagi, ya Tuhan? Hiks.” Alda menangisi dirinya sendiri yang terlampau bodoh.
Mau saja bibirnya dicium oleh Richard. Bodohnya lagi, dia tak marah dan membeku seperti patung. Membiarkan pria mesum itu mengeksplorasi bibirnya sesuka hati.
Srooott!
Alda mengeluarkan ingus di sela tangisannya yang semakin kencang. Menghapusnya dengan tisu lalu menyeka air matanya dan membuang tisu itu ke keranjang sampah. Telah penuh berisi tisu nya, karena Alda terus menangis sejak kepulangannya tadi dari minimarket.
Bayangan Richard terus berkelebat seperti hantu bergentayangan. Mendoktrin otaknya tak bisa berkonsentrasi dalam melakukan apapun.
“Menyebalkan! Sial, sial. Huh?” Alda menggeram kesal.
Kepalanya dibenturkan ke meja. Tetapi lagi-lagi dalam pejaman matanya, Richard mendadak muncul dengan gaya tengilnya itu yang menyebalkan.
“Oh, Tuhan. Tolong aku sekali ini saja. Hapus wajah si begundal tengik itu dari otakku. Kalau begini caranya, bagaimana nanti aku bisa tidur?” keluh Alda, menengadahkan wajahnya ke langit.
Rambutnya yang dikuncir lalu diremas-remas emosi. Terburai berantakan tak berbentuk kunciran lagi. Menarik nafas panjang di kala sesak menyeruak dada. Alda mematut dirinya di depan cermin dengan penampilan berantakan.
Dia terlihat menyedihkan dengan rambutnya kini menjadi acak-acakan seperti singa, mukanya cemberut dan menekuk bibir sambil terus berteriak.
“Alda, calm down. Tarik nafas, buang.”
Huhhh …
Semua trik ini ia lakukan, demi mensugesti dirinya membuang jauh-jauh Richard dari otaknya.
“Hempaskan perlahan-lahan dan tenangkan dirimu, oke. Kau pasti bisa membuang jauh-jauh scene itu. Yes, I can.”
Setelah merasa tenang, Alda pun beralih tempat. Ke kamar mandi dan membasuh wajahnya. Tak lupa perawatan wajah sebelum tidur yang menjadi rutinitasnya sehari-hari, supaya tetap glowing sebagai penunjang karirnya sebagai MUA.
Tidak lucu, kan? Masa seorang make up artis, wajahnya kusam, buluk, jerawatan, komedoan dan banyak keriput. Bisa-bisa para pelanggannya lari. Tidak akan percaya lagi dengan servis yang ia berikan dan menjadi sepi job.
**
Alda merebahkan tubuhnya ke atas ranjang, menarik selimut dan berusaha memejamkan mata. Tiga detik, menit menuju satu jam ia tak bisa tidur. Walau ia sudah mencoba cara jadul dengan menghitung domba.
“Ya ampun. Astaga, astaga. Playboy cap kaleng rombeng itu terus berkeliaran, huhu … bagaimana cara menghilangkannya?” sedih Alda, bangun kemudian duduk.
Meraih ponselnya di atas nakas dan mengalihkannya dengan menelepon sahabatnya, Eve. Tetapi seakan hari ini seperti kesialan terus menghampirinya, Eve ternyata tak bisa dihubungi.
Entahlah di mana sahabatnya itu berada. Pasti ada di kantornya sedang menyelesaikan desain pesanan klien dan sengaja agar tak diganggu. Dia menonaktifkan ponselnya.
Tut… tut …
“Aaaaahh!” teriak Alda sebentar sebelum menghempaskan tubuhnya ke atas ranjang dan menutupi wajahnya dengan bantal berlapis.
Lama kelamaan ia mencoba tidur, akhirnya berhasil. Ya, dia masuk ke dalam mimpi. Mimpi manis yang mengantarkannya pada kejadian tadi sore ketika dia dicium oleh Richard.
“Cup!”
Alda mengerjap-ngerjapkan matanya dengan jantung berdetak kencang. Richard melepas ciumannya, tersenyum bahagia memandang Alda yang tak menolaknya kali ini.
“I love you bunny,” Richard menyatakan cintanya, sementara Alda masih tenggelam dalam keterkejutan yang dibuat olehnya.
Bahkan saat Richard menghapus bibirnya yang basah dengan jari, wanita itu bergeming di posisinya.
“Bunny, sayangku?” panggilnya lembut.
Alda tak merespon, Richard mengulum senyum sambil mengangguk-anggukan kepala dan sengaja ingin memanfaatkan situasi lagi. Perlahan tapi pasti kemudian merayapkan bibirnya ke pipi merona itu.
Cup, cup.
Tubuh Alda berjengit, kesadarannya kembali. Langsung memegangi pipinya bekas dicium Richard dan mengarahkan tatapan sengit ke pria itu yang cengar-cengir tanpa merasa bersalah.
“Aaaaahhh! Kau ini bedebah, Rich. Menyebalkan! Aku membencimu brengsek!” kesal Alda dengan emosi memuncak.
Melayangkan tangan hendak menampar wajah Richard. Tetapi sebelum itu terjadi, Richard menahan pergelangan tangan Alda dengan cepat.
Alda semakin naik darah, mendengar itu. Nafasnya memburu dan bukannya senang atau mengapresiasi ajaran sesat dari Richard. Alda yang memberontak untuk lepas tapi tak dibiarkan Richard.
Tercetus ide menginjak kakinya dengan sekuat tenaga dengan sepatu high heels yang dikenakan.
“Aaaaarggh!” Richard berteriak keras, heels nya yang sengaja ditekan Alda itu membuat kakinya terasa kejatuhan barbel seberat lima puluh ton. Rasanya sakit sekali, hingga membuatnya refleks melepas tangan Alda dan terpincang pincang jalan.
“Bye.”
Setelah mengatakan hal itu, Alda melengos pergi meninggalkan Richard yang berusaha mengejarnya. Sebab kali ini kurang gesit dengan gerakan kakinya yang terbatas. Harus gigit jari, melihat pujaan hatinya telah masuk ke dalam taksi yang baru saja menepi.
“Awas kau Alda. Tunggulah pembalasanku, memang sekarang kau yang menang. Tapi lihat saja nanti kelinciku yang imut? Tak akan kubiarkan kau lolos. Aku Rich, akan mendapatkan apa yang aku mau.”
***
“Tidak!” teriak Alda terengah-engah nafas, bangun pagi ini setelah bermimpi buruk tentang Richard. “Untung hanya mimpi, syukurlah.”
Alda merasa cukup lega lalu meraup wajahnya dengan kasar, sambil melihat jam yang ternyata sudah menunjukkan pukul sepuluh siang. Dia kesiangan bangun, gara-gara tak bisa tidur dan tidurnya terlalu larut. Padahal hari ini dia ada jadwal merias dengan tim nya ke sebuah agency model di Kinshasa.
“Oh, astaga! Mengapa aku bisa terlambat bangun? Padahal weker pun sudah aku pasang.” Alda berdecak kesal, lantas meraih ponselnya di atas meja dengan mata terbelalak lebar.
“Banyak panggilan missed call yang tak terjawab, juga pesan singkat masuk di ponselku dari Yesa. Ck, aku harus segera bersiap!”
Alda segera melompat dari ranjangnya, menelepon Yessa untuk segera mengkonfirmasi hal ini. Menyuruh asistennya itu menghandle semuanya dan berangkat dulu ke lokasi, sementara nanti ia akan menyusul.
Sialnya ketika ia hendak berangkat, ban mobilnya ternyata kempes. Alda langsung lemas, menghembuskan nafas berat dan menghentakkan kakinya di lantai basement.
“Kenapa ban nya kempes di waktu yang tak tepat? Sih! Hmmmm.” Alda menggeram emosi lalu menendang ban mobil itu.
Tak mau buang waktu, Alda pun segera pergi ke pinggiran jalan untuk menyetop taksi yang lewat. Karena memesan taksi online kini pun tak bisa. Selain baterai ponselnya lowbat semalaman lupa di charge.
Hari ini bertepatan demo besar-besaran pengemudi taksi online yang serempak mogok demi melayangkan protes atas kebijakan perusahaan yang menjadi prasarana taksi online itu. Telah menaikkan tarif secara sepihak. Sehingga berpengaruh kurangnya daya minat konsumen dan lebih memilih untuk menaiki bus yang lebih murah.
“Panasnya, uh!” desis Alda menutupi kepalanya dengan tas.
Matahari terlalu terik dan menyengat siang ini. Alda takut kulitnya menghitam dan terkena paparan sinar uv. Sehingga ia berlindung di bawah pohon, berdesakan dengan orang banyak yang tengah menunggu bus datang. Saat halte tak cukup menampung semua orang.
Kebetulan mobil Richard tengah melintasi halte itu, dia juga tak sengaja melihat keluar jalanan sembari menelpon.
“Apa itu benar si bunny, honey, sweetie ku?” gumam Richard dilirik sopirnya dari kaca spion yang memperhatikan.
“Bos lihat siapa?” tanya Teo– sopirnya.
“Tepikan mobilnya ke dekat halte, Teo!” suruh Richard.
“Siap, Bos.”
Perlahan-lahan mobil itu telah menepi dengan mesin menyala. Richard pun menurunkan kaca mobilnya dan melambaikan tangan memanggil wanita itu yang kedapatan melihat keberadaan Richard di dalam mobil.
“Alda!” seru Richard memanggil.
“Hish, mau apa lagi dia?” Alda membuang muka, bukan membalas panggilan Richard. Dia malah bersembunyi di balik kerumunan orang-orang supaya tak dilihat.
Richard menarik nafas panjang. Teo menawarkan diri turun setelah tahu apa yang terjadi. Tetapi Richard menolak keras dan turun sendiri menemui Alda di halte.
“Sayang, kau mau ke mana? Kenapa menunggu bus?” tanya Richard yang telah berdiri di depan Alda.
Alda mengacuhkannya, tapi gadis-gadis lain lah yang merespon Richard. Memulai pendekatan hingga merasa sok kenal dekat. Ternyata hal itu membuat Alda kurang nyaman tanpa ia sadari.
“Dasar playboy!” omel Alda menekuk bibir.
Mengetahui kecemburuannya, Richard pun senang. Lantas meniggalkan gadis-gadis cari perhatian itu dan segera menarik tangan Alda keluar dari persembunyiannya.
“Jawab aku, sebenarnya kau mau ke mana? Busnya sudah penuh. Jika kau memaksa naik, nanti kau bisa sesak nafas honey,” bujuk Richard melihat bus yang baru datang itu tapi langsung terisi penuh penumpang yang berebutan masuk.
Alda berdecak kesal, dia sudah sangat terlambat. Ia bingung harus sampai di sana tepat waktu, tapi tak ada kendaraan lain selain bus tadi. Jika menunggu bus selanjutnya pun butuh waktu lebih lama.
“Biar aku antar bagaimana?” tawar Richard membuat Alda bimbang, antara harus menerima ataukah tidak.
Memegang gengsi setinggi gunung himalaya, tapi dia sendiri yang rugi jika menolak tawaran dari Richard. Di sisi lain pun otomatis cara ini akan memberi celah bagi Richard mengganggunya lagi.