
“Oh, jadi superhero nya para petani sudah datang?” sindir tajam Juragan Indra yang muncul dari dalam rumah Pak Udin sambil membawa balok kayu.
Seketika mengangkat pandangan Rich lurus ke depan, menatap Juragan Indra dengan ekspresi datar yang mempercepat degup jantung Alda melihat hal itu. Dipenuhi rasa was-was, takut terjadi sesuatu pada sang suami.
"Boo, jangan dilawan! Aku takut kau kenapa-napa?" bisik Alda mendekati Rich dengan tangan gemetar memegang ponsel.
Rich mengedipkan mata sebagai isyarat supaya Alda tenang. Ternyata sama halnya yang ditakutkan oleh para warga di luar pagar pun yang mulai kasak-kusuk. Menduga akan terjadi pertengkaran besar sebentar lagi.
"Aku tidak akan kenapa-napa, Sweety. On kan, saja dan rekam setiap detik yang terjadi." Melirik sang istri di sampingnya tak segugup tadi, kini Rich merasa lega.
Alda mengangguk, sementara Rich mulai maju menghadapi Juragan Indra dan dua centengnya tanpa gentar. Kesepuluh jarinya dibunyikan, tanpa sedikitpun melepas pandangan ke wajah mereka bertiga satu persatu.
"Oh … Juragan Indra ini rupanya suka cara kekerasan juga, ya?" tanya Rich yang siap memasang kuda-kuda.
"Kau sudah berani mengusik macan tidur, Mister. Hahaha!" tawa Nanang dan Anto mengudara. "Jadi kau akan berurusan dengan kami dan bisa dipastikan tulang-tulangmu akan remuk menjadi dendeng!" kelakar mereka dengan percaya diri.
Juragan Indra memicing sinis, berpikir sombong kalau Rich takut pada gertakan dua centengnya. Ia belum tahu, kalau Rich jago beladiri taekwondo.
"Hajar dia!" perintah Juragan Indra kepada dua centeng itu. Yakin dia pasti menang dan tak sabar melihat Rich babak belur.
“Kyaaa ….”
Nanang dan Anto berteriak keras lalu menyerang Rich yang berdiri di depan mereka dengan pukulan tangan. Di saat tangan mereka berdua hampir menyentuh wajah Rich, pria itu pun secepatnya menunduk.
“Sialan!” umpat Nanang dan Anto yang pukulannya meleset.
“Haha … cuma segitu saja kemampuan kalian. Ayo lawan aku!” tantang Rich sambil menggosok hidung. Kedua tangannya bersilang, kiri mengepal ke depan sedangkan tangan kanan mengepal agak ke belakang di sisi ketiak dan kakinya menapak kuat di tanah.
Juragan Indra melempar balok kayu di tangannya kepada Anto. “Tangkap ini!” Melempar tatapan penuh mengintimidasi pada Rich yang biasa saja.
Hap!
“Terima kasih juragan.”
Anto berhasil menangkap balok kayu itu, wajah liciknya menyeringai sambil menepuk-nepuk ujung tumpul balok kayu di telapak tangan supaya nyali Rich kendur. Melihat permainan ini rasanya lumayan ringan dan tak menguras tenaga, Rich masih menunggu mereka untuk kembali maju dengan santai.
“Boo, awas di belakangmu!” teriak Alda memperingatkan panik, saat Nanang akan memukul tengkuk Rich dari belakang dengan sikuan.
Rich melirik sekilas, tubuhnya bergeser ke samping lalu kaki kirinya menyeret ringan ke arah tumit Nanang. Sebelum tujuan utamanya mendorong betis kanan centeng itu dengan begitu keras.
Gedebug!
Nanang tersungkur ke tanah, mengerang kesakitan seakan tulang kakinya patah. Wajah pria itu meringis dan kini kesulitan bangun. Tak terima temannya kalah, Anto bersungut kesal mengayunkan balok ke kepala Rich sekuat tenaga.
Syuuutt …
Tangan kanan Rich menangkis kuat pada pergelangan tangan Anto.
Klang!
Balok kayu itu pun terlepas, terjatuh ke bawah menimbulkan pantulan bunyi nyaring dan sebelum Anto sadar, Rich dengan cepat memukul perut centeng itu sangat kuat dengan tenaga dalam.
BUKH.
“Aaaargh!” erang Anto terhempas mundur dan terbatuk darah yang keluar dari mulutnya beserta dahak, menimbulkan rasa mual di perutnya yang seperti diaduk-aduk dengan kepalanya kini agak pusing.
“KURANG AJAR!”
Juragan Indra menggeram murka, otaknya mendidih dan ia tersinggung sekaligus malu di hadapan para warga karena dengan begitu mudahnya dikalahkan oleh Rich. Demi membalas penghinaan besar itu, Juragan Indra menghadapinya sendiri dengan mengambil balok kayu yang ada di bawah.
“Tolong juragan, sudah cukup. Jangan ganggu si Mister lagi, saya mohon …” ucap Pak Udin tak ingin pertengkaran itu semakin meluas.
“Hah, minggir!” sergah Juragan Indra menghempas tubuh tua Pak Udin dengan sekali senggolan kaki.
“Apakah kau baik-baik saja, Pak?”
“Ya, Mister. Terima kasih atas bantuan Anda, saya yang tidak enak karena sudah merepotkan,” jawab Pak Udin menatap sendu.
Kesempatan itu digunakan Juragan Indra untuk melumpuhkan Rich. Ia mengayunkan balok kayu ke arah pria bule itu, dibantu Anto dan Nanang yang sudah menguatkan diri. Mereka semua menyerang bersamaan dalam senyap.
Alda memekik tertahan sambil menggeleng, ketakutan lagi-lagi menyergap wajah semua orang yang berubah pias dan nyaris menahan nafas.
Hampir saja Rich lengah menjadi sasaran mereka, namun sebelum mereka berhasil. Rich lebih dulu melihat bayangan tubuh Juragan Indra, Nanang dan Anto. Sehingga ia kemudian mengambil timing yang pas membalik serangan, memutar tubuhnya ke belakang.
Sstt!
Tubuhnya sedikit melompat beriring kakinya membuat putaran yang berupa tendangan beruntun mendarat ke wajah Juragan Indra, Nanang dan Anto. Hingga mereka bertiga terhempas ke udara sambil mengaduh kesakitan sebelum bokongnya terjatuh sangat keras ke tanah.
“Aduh!”
“Dasar keparat kau!” maki Juragan Indra masih saja congkak sambil mengusap wajahnya yang lebam dengan sebagian tangan lain mengusap bokongnya yang ngilu.
Alda merasa lega suaminya baik-baik saja, bibirnya menyunggingkan senyum. Begitupun para warga yang bersorak atas kemenangan Rich yang sudah berhasil melumpuhkan dan membuat malu juragan kejam itu berikut kedua centengnya.
Terlebih Pak Udin sudah menceritakan asal muasal terjadinya keributan di rumahnya, ternyata membuat dada Rich bergejolak panas tak tahan ingin menghajarnya lagi.
Nafas Rich memburu, kilatan hijau zamrud bola matanya berubah pekat oleh kemarahan saat mendekati Juragan Indra, Nanang dan Anto. Dengan kepalan tangan yang siap mengarahkan bogem mentah ke wajah mereka lagi.
Rich membentak, “serahkan sertifikat rumah dan sawah milik Pak Udin atau—”
“Atau apa? Kau mau main hakim sendiri, hah?” tuduh Rendra cepat, matanya terus menyorot tajam pada Rich karena dianggap sudah menyakiti ayahnya.
Dan sebelum terjadi kesalahpahaman yang merembet ke mana-mana. Alda maju ke sisi Rich, kemudian berusaha menjelaskan duduk permasalahan yang sebenarnya terjadi.
“Tunggu Bli Rendra, aku bisa menjelaskan semuanya. Kalau di sini suamiku tak bersalah, Rich hanya—”
“Hanya sok jagoan di sini dan pamer kekuatan dengan main hakim sendiri? Apa kesalahan fatal ayahku sampai dia berani menyakiti orang yang lebih tua. Dasar tak bermoral dan tak punya sopan santun! Jadi ini, Al. Pria idaman yang menurutmu lebih pantas menjadi suamimu dibandingkan aku?” tandas Rendra sekalian mengeluarkan unek-unek.
Alda tak diberi kesempatan membuka suara, wajahnya tertunduk karena takut Rendra akan menguak segalanya yang tak diketahui warga yang siap memasang telinga.
“Jaga bicaramu, Rendra! Dan hal ini tak ada sangkut pautnya dengan istriku. Asal kau tahu, jika Juragan Indra dan dua centengnya itu lah yang menjadi biang kerok masalah ini! Lihat kondisi Pak Udin!” tunjuk Rich.
Rendra mengikuti arah jari Rich di mana sekarang ia bisa melihat wajah bonyok pria tua itu. Menurun pandangannya ke bawah cukup syok, di bagian kerah kemeja lusuh Pak Udin yang terdapat bekas noda darah.
"Itu ulah ayahmu Rendra! Ayahmu lintah darat, memeras keringat rakyat miskin demi keuntungannya sendiri!" jelas Rich menyadarkannya.
Para warga yang semula di luar pun, kini mulai berani masuk dan membenarkan ucapan Rich.
"Ya, ya. Mister itu benar!" seru mereka semua berapi-api.
Sudah malu tak ingin kehilangan kepercayaan sang putra. Lantas Juragan Indra membela diri.
"Bohong. Rendra anakku, jangan percaya mereka, Nak. Kau tahu, kan? Selama ini aku lah yang membantu mereka dalam masa sulit, tapi sekarang mereka besar kepala dan tahu balas budi!" koar Juragan Indra merendah, suaranya yang terdengar lemah berusaha mempengaruhi Rendra yang membisu, pria itu bingung harus mempercayai yang mana.
"Jika kau tak percaya aku bisa membuktikan dengan—"
"Dengan apa?!" mata Rendra mendelik tajam pada Alda. Jujur ia masih tak rela jika wanita itu menjadi milik Rich.
Sementara Alda mengatupkan bibir, semakin mengeratkan pelukan di tangan Rich karena takut mendengar bentakan Rendra. Rich malah tak segan menunjukkan kemesraan.
"Aku tak terima masalah ini dan aku akan membawanya ke kepala desa. Mereka yang akan memutuskan segalanya," ucap Rendra menantang Rich dari sorot tajam matanya.
Sontak membuat Juragan Indra besar kepala, karena anaknya kini membelanya. Bahkan, Rendra menuduh Rich yang menyabotase semua kejadian ini dengan akal bulusnya.
"Baik, siapa takut? Bawa saja permasalahan ini, mau ke kepala desa atau ke pihak berwajib. Aku tak takut dan aku tunggu undangan itu secepatnya! Ayo sweety kita pergi dari sini!" ajak Rich menggandeng tangan Alda pergi dari sana.