
“Maafkan aku, Nak. Aku janji tidak akan membahas itu lagi,” sesalnya kemudian.
Begitu yakin, jika terjadi masalah serius antara Cal dengan putranya. Kendati ia sendiri prihatin, sebagai orang terdekat mereka dan ingin mendamaikan. Tapi kelihatannya, sekarang bukanlah waktu yang tepat untuk melakukan itu.
Seperti api tersiram bensin, maka akan bertambah besar. Lebih baik menunggu berubah menjadi abu. Daripada berakhir sia-sia lalu malah semakin memperburuk keadaan.
Richard membisu dengan kepala sedikit terangguk-angguk
“Oke, lupakan itu paman Marco.”
Marco tersenyum lega, “distributor baru saja mengirim creme cacao dari pabrik. Apa kau mau mencobanya, Rich?”
“Bawa kemari.”
“Hogarth!” tangan Marco lantas melambai ke arah pria berpakaian khas barkeep itu.
Tidak lama menghampirinya dan menuang creme cacao ke dalam sour glass milik Richard yang kemudian mencicipi rasanya.
“Bagaimana?” tanya Marco.
Richard menimang sour glass nya seraya berdecak. “kurang enak, coba bawa yang lain.”
“Baiklah,” kata Marco, lantas menyuruh Hogarth meracik alkohol jenis lain yang terus dicicipi oleh Rich satu persatu.
“Semua alkohol ini tidak enak,” putus Rich menemui pandangannya ke Marco lalu meletakkan sour glass nya ke meja.
Rich menghela nafas dalam-dalam seraya memijat pelipisnya tengah berpikir.
“Apa tidak ada yang lain, Paman? Kalau seperti ini caranya, launching bar milikku tidak akan pernah bisa menggaet kalangan atas?” resahnya, sebab ia berencana membuka cabang baru.
“Ya, karena alkohol tadi cuma berkadar 5-20 persen saja. Golongan B, maka dari itu tidak sesuai seleramu, Rich.”
“Well, Paman punya referensi dari pabrik lain?” tanya Rich seraya menenggak bir sebagai pilihannya.
“Ada, tapi...” berat Marco untuk meneruskan.
Sebelah alis Rich terangkat, disertai keningnya mengerut.
“Katakan saja paman.”
“Yakin tidak keberatan?” Marco bertanya lebih dulu.
“Pasti berkaitan dengan orang itu!” sahut Rich mendesahkan nafas beratnya ke udara. Dadanya bergemuruh saat mengingat perlakuan daddynya yang membekas.
Marco menelan salivanya paksa sebelum bicara. Anak dan daddy nya hampir sama. Rich yang dulu periang kini dirasakannya agak dingin, jadi Marco pun sedikit hati-hati supaya ia tidak tersinggung.
“You know? Pabrik minuman beralkoholnya lah yang selama ini terbaik di Kongo, bahkan sudah merajai pasar domestik dan Mancanegara.”
Rich berpikir sejenak. “Paman sudah ikut lama dengannya. Kenapa mendadak berhenti?”
“Ada Erick menggantikanku. Usiaku tidak cukup baik mengelola Club Michiesta, Nak.”
Erick adalah putra sulung Marco yang kini dipercaya oleh Cal, untuk mengelola sepuluh Club malam miliknya. Berhubung Marco sudah menganggur. Rich kemudian meminta bantuannya, untuk mengelola Sweedie Bar miliknya secara diam-diam.
“Buktinya, Sweedie Bar milikku bertahan sampai sejauh ini berkatmu,” killah Rich tidak mau Marco merendah.
“Kepiawaianmu lah yang membuat bar milikmu bangkit, Nak. Bukan aku,” puji Marco menaruh bangga, ternyata Richard menuruni bakat mantan bosnya– Calvien Louis.
Rich menipiskan bibir. “Small talk,” decihnya.
“I'm serious.”
“Haha... paman bisa saja,” akhirnya bibir penuh itu mengeluarkan tawa, setelah lama tidak bereaksi. Marco pun jadi senang dengan kerecehannya.
“Omong-omong, aku punya diva vodka milik Tuan Cal. Apa kamu mau mencobanya?” tawar Marco.
“Coba bawa kemari,” putus Rich.
“Hogart!” panggil Marco sambil bertepuk tangan keras, Hogart pun mendekat dengan membawa apa yang ia minta.
“Silahkan Tuan Rich,” ucap Hogarth setelah menuang diva vodka.
Hogarth masih bersedia di sebelahnya, menunggu sang empunya Sweedie Bar merespon rasa alkohol spesial itu.
“Ah! Ini baru alkohol terbaik. I like it!” secara tidak langsung, Rich memuji alkohol dari pabrik daddy nya sendiri.
“Harga sesuai rasa,” gumam Rich menatap Marco sambil mengacungkan sour glass nya, mengajaknya cheers.
Tring.
Gelas itu pun bertabrakan, sebelum larut membasahi tenggorokan kedua pria berbeda generasi.
“Of course,” angguk Marco.
“Tidak mungkin aku membelinya atas namaku. Bisa-bisa aku ketahuan dan ia melarangku untuk membeli dari pabriknya. Apa paman bisa mengaturnya?” Rich mengajaknya berdiskusi.
“Kamu mau melibatkan Raymond? Tapi jika dia belum diancam oleh Tuan Cal,” kata Marco berpendapat.
“Jangan Uncle Moon, orang lain saja. Nanti orang itu pasti curiga. Kamu tahu sendiri bila ia sangat dekat dengannya,” timpal Rich.
“Fix, biar aku mengaturnya nanti. Kau tinggal menunggu beres,” usul Marco.
“Ya, aku percayakan semua padamu, Paman.” Rich tersenyum simpul, kemudian mengeluarkan sejumlah cek kepada Marco.
“Aku berdoa pada Tuhan, semoga usahamu senantiasa sukses Rich. Aku bangga padamu, kau pria yang mandiri.” Marco tersenyum lalu menepuk pundaknya.
“Amen. Terimakasih, semua juga berkatmu, Paman.” Rich lalu merangkulnya sebelum pergi.
***
Kala itu, Rich sedang berbelanja persediaan makanan instan di sebuah minimarket. Lorong frozen food menjadi incarannya.
Ya, bujangan tentunya tak ingin repot jika kebetulan perutnya dilanda kelaparan. Selain malas keluar, terlebih memasak bukan keahliannya.
“Alda?” tidak disangka Rich menemukan bidadari tidak bersayapnya di tengah rimbunan ibu-ibu berbelanja.
Segeralah troli nya didorong mendekati wanita berparas Indonesia itu seraya menyapa. “Hai cantik, sendirian saja?”
“Rich!” tersentak Alda netranya terbelalak, reflek keseimbangannya hilang saat terpeleset hak sepatunya sendiri.
“Eh!” Richard menahan pinggangnya.
Tanpa sengaja mempertemukan dua bola mata itu bertaut sepersekian detik. Jantung Rich bertalu-talu. Alda cepat menepis tangannya dengan sentakan tajam.
“Lepaskan!”
“Oh, iya. Maaf, aku tidak sengaja.” Rich mendadak salah tingkah. Lantas menjaga jarak.
“Ke sini sama siapa?” iseng Rich bertanya sambilnya asal memasukkan benda yang tidak perlu dibelinya ke dalam troli. Karena mata genitnya itu, terus memandangi Alda.
Alda meliriknya malas. “Bukan urusanmu, playboy!”
Kemudian berlalu pergi mendorong troli nya, sementara Rich menguntitnya dari belakang.
“Jangan ikuti aku!” ketus Alda.
“Siapa juga yang mengikutimu. Well, aku juga berbelanja.” Rich menunjuk isi troli nya, tapi matanya tidak berkedip menatap Alda.
Alda melotot tajam, kini membekap mulutnya sangat terkejut.
“Dasar playboy cap kaleng rombeng!” dengusnya kemudian pergi.
“Hai! Apa maksudmu berkata demikian?” tanya Rich mengejar sambil mendorong trolinya.
Alda berhenti mendadak, lalu memutar tubuhnya seketika menghadap Rich dengan seringai muak.
“Lalu bra dan ****** ***** milik wanita yang ada di trolimu itu. Bisa kau jelaskan, Tuan Rich yang terhormat? Pasti untuk wanita jalangmu, bukan?” ejek Alda.
Richard menurunkan pandangannya ke troli. Mulutnya langsung terbuka lebar hingga sulit terkatup. Bahkan tidak sadar jika Alda telah meninggalkannya sendirian. Di tambah suara tawa ibu-ibu yang melintasinya.
“Tampan-tampan sayangnya lemot, ya? Haha!” cibirnya membuat Richard mendengus kesal.
“Bodohnya aku! Kenapa bisa memasukkan ini!” Richard menutup wajahnya karena malu, wajahnya merah sekali. Cepat berbalik badan untuk mengembalikan benda absurd itu ke rak. “Istriku, tunggu!” teriaknya demi menutupi kesalahannya saat melewati ibu-ibu tadi.
Yang kemudian saling pandang dengan membulatkan bibir.
“Oh, jadi mereka berdua sudah menikah dan sedang marahan?” obrol ibu-ibu tadi dengan temannya.
“Pasti bra dan ****** ***** tadi yang diambil suaminya salah ukuran. Makanya ngambek?” cerocos ibu yang lain berasumsi.